Benarkah Allah?

Bismillah..

Benar bahwa kita manusia. Tempat segudang khilaf, juga beribu alasan untuk membenarkannya.

Benar, bahwa kita insan biasa. Sering terlupa, juga melupakan yang semestinya teringat.

Benar, bahwa kita hanyalah makhluk tak berdaya. Terkadang iman sekokoh batu karang, tetapi lebih sering seperti buih dilautan. Terombang-ambing dan tak jelas arahnya.

Kita semua tahu, bahkan sangat tahu, bahwa kita ini manusia, namun lupa, benar-benar lupa bahwa sebagai manusiapun kita tetaplah hamba Allah…

muhasabah_islam

Baca lebih lanjut

Iklan

Apalagi Yang Tersisa ?

Bismillah…

Apa lagi yang tersisa kini, ketika satu persatu doa itu KAU jawab. Ketika satu persatu kelapangan itu KAU hadirkan. Apalagi yang tersisa kini, selain kealpaan yang sering hadir dalam hari-hari kami yang silih berganti. Apalagi yang tersisa kini, ketika KAU akhirnya memberi jawab atas setiap pertanyaan dan tuntutan kami. Apalagi yang tersisa kini, selain hari-hari kami yang miskin penghambaan. Hari-hari kami yang jarang sekali merasakan hadir-Mu, hari-hari kami yang lalai, beserta tumpukan dosa yang tak habis-habisnya. Apalagi yang tersisa kini ?

Baca lebih lanjut

Tentang Kriteria dan Ketidaksempurnaan

Bismillah…

Teringat dengan beberapa baris kata yang sering sekali terekam di dalam kepala

“Tak perlu menuntut yang sempurna, dan mempersulit keadaan yg sbnrnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakanlah niat awal kita, jika ia penuh berkah dan ridho dari-Nya, maka titik kemuliaan menjadi seorang manusia, Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk ada dalam diri kita”

Ada juga sebuah selentingan yang cukup “menggigit”

“Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa. Apa penyebabnya ? karena bs jadi yang diharapkan tak seindah realita, yang disyaratkan tak sempurna dalam lakunya. Maka berharap menemukan seseorang dalam kesempurnaan hanya membuat yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah untuk dicerna”

Tentang penggalan kalimat kedua diatas. Saya (lagi-lagi) teringat buku Serial CInta-nya Anis Matta, di topik “Mengelola Ketidaksempurnaan”

“Apa lagi ketampanan yg tersisa di dunia ini ketika telah dibagi habis kepada Nabi Muhammad SAW, dan Yusuf AS. Dan kecantikan yang telah disempurnakan kepada Sarah istri Ibrahim AS dan Khadijah RA Istri Rasulullah. Hingga pesona kebajikanpun telah direnggut habis oleh Utsman bin Affan dan keluruhan budi telah dimiliki secara purna oleh Aisyah RA”

Baca lebih lanjut

Ini Soal NYALI

Bismillah…

Kadang ketakutan itu merajalela, merenggut ia yang bernama keyakinan dan menghapuskan harap yg telah tumbuh kuat mengakar. Namun kalau kita paham, bahwa di setiap kebahagiaan yang tercipta, selalu saja pengorbanan itu ada, maka tak pernah ada namanya keinginan untuk berhenti, keinginan untuk mengatakan “cukup sampai disini…”, keinginan untuk sekedar menerjemahkan “haruskah aku benar-benar melangkah ?”. Itu namanya ketakutan, ketakutan yang dimiliki para pengecut yang tak mampu berjuang, atau kasarnya, sebenarnya ia tak PUNYA NYALI.. Ia hanya tak berani berkompromi dengan keterbatasan, ia hanya tak berani untuk mendiskusikan hal-hal yang sudah dianggap tabu, padahal pada dasarnya, Tuhan tak pernah mengatakan itu terlarang. Jadi persoalannya hanya soal NYALI. Yang beranilah yang akan menang, yang beranilah yang akan senantiasa terpelihara semangatnya. Baca lebih lanjut

Dalam Hitungan Waktu

Bismillah…

Hari ini, 17 Mei 2011. Sudah lebih dari ratusan hari rupanya saya meninggalkan tahun 2011. Terlalu banyak yang sudah saya lewati dalam beragam cerita. Tentang iman yang kokoh, lalu diterpa badai maha hebat dalam perjalanannya adalah cerita yang tak bisa lepas dari kisah beberapa purnama terakhir ini. Duha tadi, sekelumit do’a panjang terkirim manis untuk Allah. Rasanya SYUKUR adalah kata yang sering sekali aku bicarakan pada-Nya. Betapa malunya saya ketika banyak “meminta” sedangkan telah banyak yang Allah beri, betapa kerdilnya jiwa ketika sering memohon sedangkan Allah sudah begitu mudahnya menganugerahkan nikmat-Nya, tanpa saya minta sekalipun. Kalau sudah begini adakah alasan bagi saya untuk tak menangis ? paling tidak menangisi hati yang sering lalai dan alpa atas berbagai ketenangan yang tercipta.

Hari ini, 17 Mei 2011. 34 hari lagi saya akan terbang menuju Indonesia. Ada perasaan was-was, karena ini akan menjadi perjalanan yang tak biasa. Mungkin bisa jadi sebuah perjalanan yang luar biasa. Was-was yang aneh rasanya, bukan cuma aneh, juga unik, semacam perasaan was-was yang saya sendiripun tak bisa mendefenisikannya. Saya juga sedikit khawatir, juga mungkin sedikit takut, karena kepastian jadwal sidang yang belum ada. Namun entah kenapa, saya YAKIN. Yakin telah ada jalan yang paling menenangkan yang telah Allah siapkan. Sepertinya modal saya hanya satu.. “Allah, adalah sesuai prasangka hamba-Nya”.. Itu saja. Saya hanya mencoba berprasangka baik kepada Allah, sembari terus berikhtiar untuk menuntaskan semua tuntutan akademik disini. Berprasangka selurus mungkin bahwa tak ada sesuatupun yang mampu menghalanginya selagi Allah telah berkehendak, begitu juga sebaliknya. Jika Allah mengatakan TIDAK untuk apa yang telah kita rencanakan, maka sekuat apapun usaha kita, takkan mungkin bisa kita merealisasikannya.

Baca lebih lanjut

(Cerpen) Sebuah Dialog

Bimisllah…

Dalam senja yang mulai gelap. Kupandangi hamparan birunya laut itu. Laut biru yang ketika siang begitu manisnya menggambar bumi di ujung Timur Formosa. Sepertinya ia lunglai dengan siang yang panas, merasa penat dengan kebisingan mentari bersama sinarnya, ia butuh berteduh dalam damai, berdiam dalam perenungan di gulita yang hanya ditemani bintang. Ia menuntut itu. Menuntut untuk segera ditemani malam, biar ia tak lagi diganggu dengan penduduk-penduduk bumi yang mencari kehangatan, kehangatan yang membuatnya jengah. Jengah karena ulah mereka.

‘Semakin brengsek saja penghuni bumi.. “ gumamnya.

“Panasnya air yang kumiliki semakin menjadi selama beberapa tahun terakhir. Padahal dulu, saya masih menikmati kedamaian hangatnya mentari sembari sesekali badai datang menerpa negeri ini. Buatku, ini karena ulah manusia. mereka dengan borosnya memakai energi di perut tanah-tanah itu. Aku, hutan, dan semua inti bumi ini sebenarnya marah dengan mereka. Tapi mereka begitu tak peduli” Lanjutnya..

Aku tersenyum sendiri membayangkan betapa kesalnya seluruh makhluk Allah di muka bumi. Mereka jengah sebenarnya. Jengah dengan para penghuni bumi yang mulai tak mengindahkan perintah Tuhan. Satu persatu terus ditinggalkan. Benar, bahwa nikmat-nikmat Allah itu terus turun di bumi para orang kafir, tapi itu tak lebih dari istidraj-Nya Allah untuk mereka. Kadang-kadang dunia ini memang unik dan sungguh memilki banyak tanda tanya. Tapi bagi yang berilmu. Sebenarnya ini sederhana. Ini hanya tentang “patuh atau tidaknya kamu dengan perintah Allah Yang maha Kuasa..” hanya itu pangkal persoalannya. Jika kembali kepada jalan yang benar, jalan lurus nan bercahaya, sejatinya hidup akan menjadi sederhana lagi bermakna.

Aku mengutuk diri sendiri. Rasanya tak pantas kumulai menghitung salahnya orang lain, sedangkan akupun masih banyak lalai dan masih banyak hal yang berlum disempurnakan. Tak lama kemudian, kuarahkan pandanganku di sekeliling kereta. Setiap manusia masih asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Sebagian besar dari mereka benar-benar acuh tak peduli. Beginikah hidup di negara yang maju ? yang penduduknya pekerja keras dan tahan banting manantang dunia ? mereka seperti lupa, bahwa sapaan dan dialog hangat bersama saudara seperjalanan adalah kenikmatan paling indah di dunia. Kenikmatan yang bisa kurasa ketika perjalanan Jakarta-Yogyakarta kulalui. Menikmati tertawanya para pengemis, sedihnya wajah mereka, atau para penjual-penjual jajanan kecil yang sungguh ribut tak terkira meski itu di malam hari. Bagiku, itulah eksotis-nya Indonesiaku. Negeri permai yang semrawut namun merupakan syurga bagi mereka yang mencintai keramahan dan hidup dalam komunitas.

Aku berdialog lagi dengan diri sendiri. Sepertinya harus kuakui, bahwa berbicara dengan hati adalah aktivitas paling kucintai. Aku menyukai keluasaan cakrawalanya dalam mengambil keputusan, juga sangat menikmati berbagai macam pemikiran dan teori yang suka ia tafsirkan dari berbagai sumber informasi yang berasal dari otakku. Kali ini aku bergelut dengan dua kata. “Nekat” dan “Yakin”

Baca lebih lanjut

Belajar Dari Mereka

Bismillah..

Terus terang, saya kehabisan kata-kata untuk menerjemahkan semua ini. Entah sudah berapa tulisan yang akhirnya tak bisa saya lanjutkan lagi karena terlalu banyak yang ingin saya sampaikan lewat kata-kata. Sebenarnya hanya sederhana yang ingin saya sampaikan. Dan ini adalah bentuk paling rasional sebagai rasa terima kasih terbaik kepada Sang Maha Pencipta. Saya hanya ingin mengucapkan TERIMA KASIH. Mengucapkan rasa syukur yang tak pernah habis-habisnya untuk Allah, Tuhan saya. DIA yang tak pernah habis-habisnya memberi, sedangkan saya masih sering sekali tertaih untuk memuja-Nya, lemah dalam penghambaan kepada-Nya, belum sempurna untuk memiliki-Nya. Apa lagi yang mau saya tanyakan jika yang DIBERI justru lebih banyak dari apa yang telah saya KERJAKAN. Tentu saja, saya meyakini, bahwa Allah, Tuhan saya yang MAHA HEBAT itu, tak pernah sedikitpun butuh dengan sanjungan dan pujian saya. Karena tanpa sujud yang saya lakukan-pun, tanpa air mata taubat dari seluruh penghuni bumi-pun. Tuhan saya tetaplah agung, tak terkalahkan. Hanya saja, ini seperti perasaan malu yang tiba-tiba sering hadir ketika kedua tanganku mulai kutengadahkan dihadapan-Nya. Perasaan malu ketika mulai meminta, sedangkan Allah telah banyak memberi, perasaan sungkan untuk membujuk sedangkan tak pernah sedikitpun Allah alpa dalam pemberian nikmat kepada saya, perasaan yang membuat saya tersadar, bahwa memiliki Allah dalam hidup adalah jalan terbaik untuk menuju sebuah kebahagiaan hakiki.

Dan untuk semua nikmat yang telah diberi Allah untuk saya. Rasanya tak lagi ada alasan untuk tidak BERSYUKUR. Tak ada lagi alasan untuk mengeluh sedangkan pemberian-Nya begitu melimpah. kesediannya untuk memberi tak pernah habis meski laku kita sering tak bersahabat dengan aturan-Nya. Dalam bahasa lain, saya merasa seperti seorang budak yang selalu diberi upah, makan, serta kehidupan yang layak, sedangkan saya tak pernah dan jarang sekali berbuat apa-apa untuk Allah. Saya teringat dengan sebuah pemaknaan SYUKUR yang lebih berbeda. Dimensi syukur yang bukan lagi berhenti kepada ibadah-ibadah panjang kita untuk memuja-Nya, bukan lagi tertuju kepada seberapa banyak amalan-amalan harian yang telah kita gariskan ditiap waktunya. Namun, pemaknaan syukur itu telah melompat semua dimensi itu. Ia tak lagi berbicara tentang berapa banyak amal yang telah kita kerjakan untuk Allah, tapi telah menembus batas SEBERAPA BANYAK kontribusi yang kita buat untuk melakukan perubahan. Perubahan yang mampu memberi banyak efek dalam skala yang lebih besar. Perubahan yang dimulai dari hal-hal kecil, namun ketika dia satukan, maka hasil dari pemaknaan kesyukuran ini akan membesar, melegenda, dan mampu menjadi sejarah. Dimensi syukur ini bukan lagi tentang sujud-sujud panjang dalam keharuan rindu kepada-Nya, tapi lebih kepada KATA KERJA. Kita BEKERJA, maka kita BERSYUKUR, kita BERKONTRIBUSI, maka kita BERSYUKUR, kita BERKORBAN, maka kita BERSYUKUR. Syukur bukan lagi tentang bagaimana kita mengingat-Nya dalam kondisi apapun, namun syukur telah kita terjemahkan bersama semangat-semangat membara untuk bekerja.

Baca lebih lanjut