Allah Pasti Memberi yang Terbaik

Bismillah…

Wills

Ini adalahWILLS MEMORIAL Building, salah satu ikon kota Bristol dan menjadi kantor baru saya sebagai Postdoc Research Associate (PDRA) di School of Earth Science, University of Bristol (UoB). School ini tercatat sebagai yang terbaik ke-2 di UK untk kualits risetnya lewat nilai Research Exccelent Framework (REF) hanya di bawah Oxford University & berada di ranking 18 di dunia versi QS untuk jurusan Earth Science. Continue reading

Belajar Dari Sekolah TK di Inggris

Bismillah..

Bulan lalu, DeLiang resmi menyelesaikan sekolah level reception (selevel) TK di St. Michaels on the mount primary school, Bristol-Inggris. Sistem pendidikan di UK memang sedikit berbeda dengan di Indo. Di sini sebelum “SD” ada kelas reception untuk anak usia 4-5 tahun. Kemudian mereka akan memasuki year 1 di usia 5-6 tahun hingga year 6.

Saya mencoba merangkum hal-hal penting yang bisa kita ambil pelajaran dari sistem pendidikan di Inggris Raya.

PERTAMA: Orang tua dilarang melupakan bahasa ibu mereka.

Entah ini hanya di sekolah DeLiang atau tidak, saya pernah menemukan orang tua yang “disetrap” oleh guru DeLiang karena ngomong bahasa Inggris in daily basis dengan anaknya. Mereka dari Somalia. Sebagian besar anak-anak Somalia memang sudah bisa berbahasa Inggris sebelum masuk TK. Tapi ternyata dilarang mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak kita dan biarkan mereka belajar sendiri di sekolah.

Saya tidak tahu jelas alasannya. Tebakan saya karena untuk menjaga bahasa Ibu sang anak dan memudahkan sang anak belajar langsung bahasa Inggris dari para native speaker.

Berbeda dengan beberapa orang tua lain yang kami kenal sudah memperkenalkan bahasa Inggris sejak dini, terutama mereka yang berencana menyekolahkan anaknya di Inggris sambil studi. Kami tidak pernah mengajarkan DeLiang berbahasa Inggris sebelumnya. Kami membiarkan dia tumbuh dengan seluwes-luwesnya tanpa ada proses belajar rutin sampe dia masuk sekolah. Pun ketika memulai sekolah TKnya di Inggris, kami sangat jarang berkomunikasi dalam bahasa Inggris di rumah selama di Bristol.

DeLiang3

Continue reading

Journey to PhD (41) – Kupas tuntas studi S3 di Inggris Raya (UK)

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Ketika membanjirnya peluang beasiswa dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir, kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi bagi setiap lapisan masyarakat di Indonesia juga terus bertambah. Jika sebelumnya, untuk merasakan dunia pendidikat postgraduate (pasca sarjana) di UK hanya bisa diandalkan lewat beasiswa Chievening, Erasmus Mundus, atau Islamic Development Bank (IDB). Maka adanya peluang beasiswa seperti LPDP dan BUDI-DIKTI (sebelumnya BPP-LN DIKTI) membuka peluang yang lebih besar bagi anak-anak muda Indonesia untuk membentangkan sayapnya di negeri ratu Elizabeth. Di artikel kali ini saya akan mengupas secara tuntas tentang studi PhD/S3 di Inggris Raya.

Kampus-kampus terbaik di dunia ada di negara ini

Dari data ranking QS Top University, UK adalah negara ke-2 setelah U.S.A yang menempatkan banyaknya universitas di ranking 100 besar dunia. Tradisi universitas dengan sistem pendidikan yang berkualitas memang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, untuk itulah ada beberapa kampus yang dijuluki sebagai the Ancient Universities di UK, seperti University of Cambridge atau University of Ediburgh. Dari data QS ranking, berikut adalah ranking top 10 universities di UK yang bisa Anda jadikan acuan [1]:

  1. University of Cambridge (ranking 4 di dunia)
  2. University of Oxford (ranking 6 di dunia)
  3. University College London (UCL – ranking 7 di dunia)
  4. Imperial College London (ICL – ranking 10 di dunia)
  5. University of Edinburgh (ranking 19 di dunia)
  6. Kings College London (KCL – ranking 21 di dunia)
  7. University of Manchester (ranking 29 di dunia)
  8. London School of Economic and Political Sciences (LSE – ranking 37 di dunia)
  9. University of Bristol (ranking 41 di dunia)
  10. University of Warwick (ranking 51 di dunia)

cambridge-university

Saya tidak menampilkan ranking by subject karena bisa saja jurusan tertentu bisa berbeda rankingnya. Alasannya karena studi S3 adalah masalah siapa supervisormu dan seberapa spesifik bidang risetnya. Ranking universitas secara keseluruhan adalah gambaran secara umum reputable university di UK. Saya teringat dengan perkataan seorang Professor di Taiwan ketika sedang melanjutkan studi S2 dulu:

Karena PhD adalah jenjang terakhir perjalanan studi akademik kita, maka pastikan kamu mengambilnya di reputable university.

Jadi jika ada bidang riset yang berkualitas di kampus TOP di dunia, dimanapun itu, maka pilihlah yang reputable university. Selain sebagai pengalaman sekali seumur hidup, kampus-kampus top di dunia biasanya memiliki sistem dan jaringan pendidikan yang meluas. Ini membuka kesempatan anda untuk bisa berkolaborasi dengan banyak peneliti dari berbagai negara dan institusi. Apalagi jika berbicara masalah fasilitas, saya menjamin di top 100 kampus terbaik di dunia kualitas fasilitas amat sangat memadai. Seperti kata Prof. Zhao, seorang professor bidang computer science di University California Santa Barbara (UCSB):

I would suggest focusing on the quality of the research group rather than the school. If the reputation of the prof or the group is good enough, it matters little whether it’s in the UK/Europe or in the US.  Take a look at the top conferences in your topic of interest, and note where the most papers come from. That’s your best hint as to which schools have the best CS departments in your area, and which schools you should target.

Continue reading

Think Small, Act Big

Ada sebuah kalimat menarik tentang mimpi dan cita-cita yang pernah saya baca. Kira-kira begini:

“Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka aku putuskan untuk mengubah negaraku saja.

Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku.

Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Ternyata aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.” [1]

Kalimat ini terekam lagi di memori saya ketika membaca bab Think Small Act Big di buku So Good They Cant Ignore You [2]. Adalah cerita Prof. Pardis Sabeti [3], seorang biologist lulusan summa cum laude Doctor of Medicine, University of Harvard dan juga peraih gelar PhD dalam bidang Evolutionary Genetics dari University of Oxford yang memanggil kembali memori saya tentang potret cita-cita kebanyakan orang.

Ada tiga cerita berbeda yang di bandingkan dalam bab ini, yaitu antara Sarah, seorang mahasiswa baru (PhD) yang bingung menenutukan arah risetnya sedngkn mimpinya begitu besar: “Bisa menghasilkan riset yang mampu mengubah dunia”, juga Jone, yang memilih berhenti dari college untk merealisasikan mimpinya: “Membangun komunitas skala global yang punya visi hidup sehat” dan tentu saja Prof. Sabeti yang baru menemukan mimpi dan cita-citanya setelah menyelesaikan S3 di Oxford yaitu: “Mengaplikasikan bioinformatic statistical method untuk menekan angka penyebaran penyakit”.

whatsapp-image-2016-11-21-at-17-50-47

Continue reading