Studi PhD ?

Bismillah…

Dear ARIO MUHAMMAD

Thanks for your applying for the Ph.D Degree of the Department of Construction Engineering in NTUST (National Taiwan University of Science and Technology). Congratulations that your application has been accepted. And the scholarship of International Students for PhD Degree is NT$ 15,000/month(approximately US$500). Baca lebih lanjut

Iklan

Malam yang (terasa) panjang

Bismillah...

Pernahkah anda melewati malam yang (terasa) panjang ? malam yang dihantui dengan beribu pikiran atau mungkin banyaknya perencanaan. Lebih parahnya lagi, jika malam itu, ternyata adalah malam-malam tak tenang karena banyaknya masalah. Tubuh kita mulai beringsut kesana-kemari. Posisi tidur mulai tak nyaman. Mencoba menghadap ke kanan, tetap tak bisa. Terlentang lurus, masih saja mata sulit terpejam. Atau bahkan, malam-malam panjang itu anda lalui bersama tumpukan pekerjaan ? Ah.. ini mungkin sering terjadi, atau bahkan menjadi kebiasaan salah seorang diantara kita. Bukan salah seorang lebih tepatnya. Tapi banyak orang ?. Orang-orang yang habis waktu malamnya untuk mengejar targetan-targetan kerja yang menggunung. Orang-orang yang terasa panjang (atau sedikit ?) malamnya karena tuntutan-tuntutan idealisme maupun perut yang terus bertambah setiap hari. Malam-malam panjang yang merupakan pengganti untuk siang hari. Ada yang masih memiliki waktu untuk “balas dendam” di pagi atau siang harinya. Tidur ba’da subuh atau pagi hingga menjelang duhur. Atau bahkan, yang lebih parah, bisa tidur seharian, kemudian mengulang kebiasaan itu setiap harinya. Sungguh memusingkan. Memikirkan hidup seperti itu menurutku sangat rumit, apalagi menjalankannya.

Aku sendiri pernah melewati sekitar 1 bulan hidup seperti ini. Alasannya sederhana “mengejar deadline”. Tugas salah satu numerical work di penghujung tahun 2010 termasuk menjadi kenangan merasakan kerumitan hidup di tengah malam. Kata seorang sahabat saya “awalnya, kita akan merasa mual dan pusing ketika begadang… lama kelamaan jadi biasa“. Pertama mendengarnya, saya harus percaya, sebab belum pernah menjadikan begadang sebagai kebiasaan saya. Mungkin karena saya termasuk orang yang ingat akan lagu Bang Roma “Begadang jangan begadang…”. Terus terang, lagu Bang Rhoma itu sebenarnya penuh idealisme, penuh petuah dan nasihat. Sederhana sebenarnya, pesannya beliau supaya anak muda bisa lebih bijaksana. Ada lagu beliau tentang “wanita sholehah” yang seru kalau didendangkan dengan logat melayu yang di buat-buat. Tapi saya pikir suara saya cukup bisa mengimbangi irama lagu ini (mohon maaf pembaca, saya numpang narsis ^_^). Atau mungkin tentang “Judi”, dan masih banyak lagi. Dan sepertinya, saya sudah mulai sembrawut menulis tema tulisan ini. Mungkin karena pikiran saya sedang melompat-lompat, sampai isi tulisan di tengah malam ini-pun “terpelest” ke bang Oma.

Baca lebih lanjut

5 Papers in 2 months

Bismillah..

Finally, dapat kepastian juga soal diterima atau tidak paper saya tuk conference di Yunani. Waah.. cukup antusias menunggu pengumuman paper ini, karena conferencenya yang spesifik dan sudah di laksanakan kira-kira 30 tahun. Dan yang paling menarik adalah metode reviewing-nya. Mungkin karena saya yang kurang pengalaman, hingga baru pertama kali mengikuti pola reviewing seperti ini. Setiap paper yang masuk, langsung di forward-kan ke reviewer yang merupakan seorang Prof. Paper saya, langsung di review oleh Prof. Barry Topping. Kurang lebih semingguan setelah memasukkan paper ini, tadi subuh dikirimkan juga hasilnya.

“This is to confirm that the above abstract has been accepted for CC2011: The Thirteenth International Conference on Civil, Structural and Environmental Engineering Computing which will take place in Chania, Crete, Greece 6-9 September 2011″

Baca lebih lanjut

Aku dan Conference

Bismillah…

Kali ini, saya lagi tidak punya ide nulis yang serius-serius, jadi mending nulis yang santai-santai, alias pengen cerita apa yang terjadi 2 tahunan terakhir.

Pengalaman presentasi di conference, pertama kali terjadi ketika bulan November 2008, di tahun ke-3 studi S1 saya. Waktu itu, paper saya berjudul “Characteristic of The Soil Strength Surrounding Lime-Column” di terima untuk di presentasikan di Seminar Nasional Sains dan Teknologi-Lampung. Setelah menjelang kelulusan S1 dan beberapa bulan studi disini, baru paham, kalo konferensi-konferensi nasional seperti ini terkesan sangat mudah untuk ditembus dan terkadang tidak well-organized. Pengalaman pertama kali oral presentation soal hasil riset saya memang sangat berkesan, walau hanya berskala nasional. Seterusnya, 1 paper lagi berhasil di publish di Konferensi Nasional teknik Sipil, UPH, dengan bidang riset yang hampir sama, setelah sebelumnya, saya pernah menerbitkan 1 paper di Jurnal Semesta Teknika UMY. Paper inilah, kali pertama saya belajar bagaimana menulis scientific writing dalam bahasa nggris. jangan ditanya prosesnya, merasa sangat-sangat kurang kemampuan menulisnya, modalnya ya HANYA SEMANGAT 😀

Menjelang keberangkatan saya ke Taipei, 2 September 2009. Hasil riset TA S1 saya dengan judul Backcalculation Analysis on Falling Weight Deflection Data for Elastic Modulus Measurement on Pavement Structure” di terima di International Conference on Civil Engineering-Makassar. Sayangnya, ketika saya berencana untuk hadir sebagai presentator di bulan Maret 2010, kendala kondisi kuliah dan waktu membuatku tidak bisa hadir. Akhirnya, paper tersebut saya coba submit ke GEOTROPIKA 2010 di Malaysia. Alhamdulillah, juga accepted without correction, namun (lagi-lagi), kendala waktu dan biaya (kali ini ditambah biaya, karena waktu itu saya tidak well prepared tuk dana, dll), saya BATAL berangkat.  Akhirnya, paper ini saya submit ke The Second Annual Indonesian Scholar Conference in Taiwan (ASICT) yang diadain oleh FORMMIT. Mudah-mudahan saja keterima 😀

Baca lebih lanjut

The Story of Thesis(3) — Hasil “Kuliah” Singkat Via Facebook

Bismillah…

Sesuatu yang tak pernah saya sangka dan saya mempercayainya sebagai rahasia Allah adalah keterikatan riset Thesis saya dengan pembimbing S1 saya, bapak Sri Atmaja., PhD. Walau tentu saja, masih agak berbeda (mungkin jauh bedanya). Kesamaannya terdapat pada beberapa konsep dasar riset saya berkaitan dengan penelitian beliau karena sama-sama menggunakan metode NDT untuk diaplikasikan di civil structures.

Saya cukup surprise karena mengira ketika masuk lab material concrete technology Taiwan Techology, saya akan berjibaku dengan tema-tema alternative material untuk substitusi semen seperti menggunakan slag, fly ash dan kawan-kawannya. Ternyata, bidang-bidang riset seperti ini sudah cukup lewat masanya disini. Jadilah saya di arahkan risetnya ke Non Destructive Test (NDT). ITU SAJA… selebihnya, Prof. saya membiarkan saya bebas berekspresi.. Alhasil, sampe sekarang saya masih sulit memprediksi apakah riset ini akan kelar dengan sisa waktu 9 bulan ? Jika saya tak bisa menyelesaikannya, tamatlah riwayat saya, karena jatah beasiswa HANYA 2 TAHUN.. Teman lab saya, Bo tsu CHen., PhD. hanya tersenyum dan mengatakan.. “You should take your PhD here if you want to finish your research..”

This is the ultrasonic testing

weleh.. Jadikan ini sebagai tantangan saja.. toh ada Allah.. gagal dan berhasil nya saya tergantung pada Usaha, Do’a dan sudah pasti yang paling mutlak yaitu atas kehendak-Nya. Mudah2an ini modal bagus untuk belajar sebelum lanjut PhD.. Amiin.. Baca lebih lanjut

Tips Mendapatkan Beasiswa ke Taiwan (1)

Bismillah…

Sudah sejak lama sebenarnya saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan mendapatkan beasiswa ini. Alasannya sederhana saja. KARENA BANYAK YANG BERTANYA. Tidak ada salahnya berbagi sembari menghilangkan stagnasi riset Thesis yang belum juga ada ujungnya 😛

Untuk edisi pertama, saya akan share cerita bagaimana caranya mendapatkan beasiswa di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), atau sekarang dikenal dengan nama Taiwan Technology. Beberapa bagian berikutnya, kemungkinan –jika ada niat dan kesempatan menulis– akan saya share beberapa pengalaman dan prosodur mendapatkan beasiswa di beberapa kampus lain, juga beasiswa dari pemerintah Taiwan (pengalaman beberapa sahabat).

1. Beasiswa di NTUST itu gampang-gampang susah

Jika anda pemburu beasiswa, maka sudah dipastikan anda sangat paham dengan persyaratan beberapa beasiswa yang cukup “berkelas” dan dikejar oleh banyak peneliti/dosen/fresh graduate dari berbagai negara. Sebut saja FULLBRIGHT (USA), ADS (Australia), Monbusho (Jepang), maka deretan beasiswa ini dijamin punya tingkat persaingan yang sangat tinggi. Anda butuh nilai TOEFL yang mumpuni (Diatas 570), IPK yang “aduhai”, serta rekomendasi dari orang-orang hebat baik dibidang akademisi maupun yang berhubungan langsung dengan proses aplikasi beasiswa ini. Saya sendiri belum punya pengalaman mencobanya, hanya saja cerita dari beberapa sahabat, untuk mengejar beberapa beasiswa ini termasuk sangat sulit jika dibandingkan dengan ketika anda hendak melamar beasiswa ke Taiwan.

Kenapa beasiswa di NTUST itu mudah ?

Jawabannya, karena persyaratannya tidak sesulit sebagian besar beasiswa diatas. Syaratnya adalah : Baca lebih lanjut

Catatan Ringan Di Usia 23

Bismillah…

Sering sekali, momen-momen penting kuabadikan dalam tulisan-tulisan refleksi yang sengaja kubuat untuk diri sendiri. Sekedar pelepas ide, dan pengingat bagi jiwa ketika waktu sudah mulai meninggalkan sejarah. Namun, tidak untuk hari ini. 3 hari kemarin cukuplah menjadi waktu yang sangat cukup untuk menumbuhkan inspirasi. Sangat hidup rasanya, menikmati keindahan langit malam Taipei di kala summer, menerawang jauh tumpukan gedung-gedung bertingkat dari lantai 9 lab teknik Taiwan-Tech, serta merasakan sinaran mentari pagi sambil memandangi jejeran bukit hijau di ujung Taipei. Sebuah inspirasi yang hidup dari yang Maha Hidup. Kumulai hari dengan tidur yang cukup, setelah berhasil menormarmalkan pola hidup yang berantakan beberapa bulan terakhir. Sehabis subuh-an bersama teman kamarku, ruang lab no. 603 adalah tujuanku, tempat menghabiskan waktu seharian untuk menyelesaikan simulasi riset thesisku. Jam 5.30 tiba disana. Berseluncur di dunia maya sambil melihat beberapa ucapan selamat dan menunggu berlangsungnya final Grand Slam US Open antara Nadal Vs Djokovic, rupanya pertandingan di tunda karena hujan (lagi).

Pukul 06.45, kumenuju lantai 9, lantai paling atas sambil menikmati mentari pagi. Susunan bukit yang berjejeran, gedung Taipei 101, dan hamparan luas pemandangan kota Taipei menemaniku bersama angin pagi yang menghangat. Damai rasanya. Sebuah terapi bagi otak saya sebelum melanjutkan risetku. Mulai pukul 7.00 pagi, simulasi riset kembali di lakukan. Sampai jam 3 sore batas energiku. Sesekali, ketika lelah melakukan simulasi, aku berseluncur di dunia maya bersama Twitter, blog, atau Facebook, atau kadang-kadang mencari video-video menarik di Youtube. Apalagi ketika menunggu running program LS DYNA yang kadang membutuhkan beberapa waktu. Sempat juga menikmati dahsyatnya persaingan Novak Vs Nadal di Final US Open, akhirnya sang raja tanah liat mencatatkan dirinya sebagai 1 dari 7 petenis yang pernah memenangi 4 grand slam selama karier profesional mereka. Permainannya sungguh luar biasa. Alhamdulilah, tepat di usia 23 tahunku, ada Final US Open. Setidaknya ada momen yang bisa di ingat olehku 🙂

Baca lebih lanjut