[Tentang Mimpi] Akhirnya menembus Gramedia

Bismillah…

Masih ingat postingan tentang Novel Pertama saya?

Alhamdulillah, Allah punya rencana lain untuk menerbitkan novel ini. Akhirnya hari ini naskah novel sy diterima Elex Media Komputindo (Gramedia) dan Insya Allah akan diterbitkan bulan Ramadhan ini.

Saya masih menunggu revisi naskah yang akan saya kerjakan sambil melakukan riset simulasi tsunami, persiapan presentasi, dan mamasukkan aplikasi Travel Grant untuk sebuah Symposium di September nanti. Baca lebih lanjut

Iklan

Review Novel Bumi Cinta – Habiburrahman El Shirazy (2)

Bismillah…

Lanjutan postingan kemarin, bisa di klik disini.

3. Jalan Cerita

Cukup membosankan sebenarnya alur cerita yang di bangun. Tema cerita yang dibawa sebenarnya menarik, terutama buat saya pribadi. Ayyas yang dikisahkan menjadi seorang peneliti di MGU, adalah jaminan kisah ini akan menarik, apalagi settingannya di Moskwo-Rusia. Hanya saja, Kang Abik terlalu memaksakan beberapa fakta sejarah yang ditulis dengan detail dan gamblang dalam novel ini. Bisa di bilang nyaris penuh setiap babnya dengan penjelasan dan penjelasan. Tidak terlalu halus dan seberhasil yang beliau lakukan di AAC. Banyak dialog-dialog yang kelihatan terlalu janggal dengan meletakkan berbagai macam teori ilmiah maupun fakta sejarah.

Selain itu, novel ini terlalu tipis (meski sudah sangat tebal) untuk merangkum semua cerita yang menurutku begitu sayang untuk tidak didetailkan. Kang Abik banyak memfokuskan penulisan novel ini untuk memberikan pencerahan bagi pembaca. Bagaimana beliau membeberkan teori-teori ketuhanan dan melawan paham atheisme, juga menunjukkan fakta-fakta sejarah tentan pembantaian ummat Islam Palestina oleh Israel. Satu bab yang cukup menggangguku, bahkan terkesan seperti membaca sebuah buku ilmiah adalah bab “Jenis-Jenis Atheisme”. Rasanya sangat aneh membaca bab ini. Cerita dimulai setelah Yelena dan Linor (terutama Yelena) yang masih penasaran dengan teori atheisme yang disampaikan Ayyas selama seminar di MGU. Full bab ini menjelaskan jenis-jenis atheisme dengan detail. Saya jadi punya pengetahuan baru, ini tentu sisi positifnya. Sayangnya tidak terlalu halus “dimasukkan” dalam novel ini.

Satu lagi dari jalan cerita yang agak kurang sreg kuterima adalah di bagian akhir. Saya sudah menikmati 3 bab terakhir, namun kembali terganggu dengan kedatangan Linor yang mencari Ayyas untuk dijadikan suami setelah memeluk Islam sekembalinya dari Jerman. Setelah meminta Ayyas menjadi suaminya, Linor ditembak mati oleh agen Mossad, dan beberapa menit sebelum ditembak mati, Ayyas mulai merasakan cinta yang membuncah kepada Linor bahkan menjadikannya separoh jiwanya. Terus terang saya masih belum bisa menerima alur logika yang dipakai. Bukankah ada Ainul Muna yang di cintai Ayyas ? tapi bisa saja argumen terbantahkan, kalau cinta sudah di dada, apalagi yang mau dikata… 😀

4. Cover

Saya cukup terganggu dengan nama Habiburrahman El Shirazy yang terpampang besar-besar di cover novel ini. Juga gambar depannya yang menurutku masih saja kurang. Tapi saya kurang tahu sebelah mana – maklum bukan pakarnya 😆 – Baca lebih lanjut

Review Novel Bumi Cinta – Habiburrahman El SHirazy (1)

Bismillah….

Terus terang, sudah cukup lama saya menunggu novel Kang Abik di terbitkan lagi. Alhamdulillah, meski saya tidak berada di tanah air saat ini, namun tidak terlambat mengikuti perkembangan tulisan beliau. Saya di belikan Novel ini setelah nitip lewat teman-teman UI yang datang untuk lomba di Taipei. Sayangnya buku Salim A. Fillah belum ada di pasaran hingga belum bisa mereka bawakan. Kali ini, saya sengaja menuliskan kelemahan-kelamahan novel ini. Let’s check it out…

1. Penokohan

Ada 4 tokoh sentral dalam cerita ini.

Pertama : Muhammad Ayyas, lelaki Indonesia yang menyelesaikan S1 nya di Madinah dan saat ini sedang menyelesaikan studi S2-nya di India. Ayyas ke Moskow-Rusia untuk melakukan penelitian Thesis S2-nya tentang sejarah umat Islam di Rusia pada jaman Stalin. Ayyas kemudian di pertemukan dengan Prof. Tomskii yang menjadi teman sejawat pembimbingnya di India. Namun kemudian, Prof. Tomskii tidak bisa membimbingnya karena ada tugas negara ke Turki hingga proses bimbingan di serahkan kepada Doktor Anastasia. Ayyas melakukan riset thesis di Lomonosov Moscow State University atau biasa disingkat MGU.

Penokohan Ayyas terbilang cukup berhasil. Jika orang banyak yang protes tentang sempurnanya setiap tokoh yang di gambarkan oleh Kang Abik, dari Fachri, Azzam hingga Niyala. Saya pribadi justru setuju dengan Kang Abik. Perlu ditumbuhkan tokoh-tokoh teladan yang akan mengisi jiwa para pembaca agar bisa melihat inilah sosok Al Qur’an yang berjalan. Saya yakin dan percaya bahwa masih banyak pemuda-pemuda yang akhlaqnya seperti Al Qur’an, bahkan pernah bertemu dengan sosok-sosok seperti itu. Oleh karena itu, untuk penggambaran tokoh Ayyas, kang Abik cukup berhasil mengantarkan pembacanya untuk mengetahui dengan detail seiapa Ayyas ini. Seorang yang cerdas, teguh dengan iman-nya, jago bela diri, baik hati, romantis, dan tegas untuk hal-hal yang terkait dengan prinsipnya. Baca lebih lanjut