(Cerpen) Beginikah Cinta?

Aku berlari dengan nafas memburu. Otakku seakan berhenti berpikir, dada sesak, penuh, semua sesal dan sedih berkecamuk jadi satu. Kususuri jalanan kampus yang masih sedikit basah karena hujan kemarin malam. Aku benar-benar kalut. Bingung. Pikiranku mulai bergumam sendiri dengan batinku.

“Beginikah jadinya? Beginikah rasanya mengakhirkan harapan?

Beginikah rasanya menghentikan cinta yang sudah terlanjur dalam?.

Aku harus berkata apa? Bertanya pada siapa?”

Jalanan ini tentu saja takkan memberi jawab. Sore menuju senja yang selalu indah ini tentu saja takkan menenangkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain kekalutan yang luar biasa menghinggapi dada.

“Haruskah melepasmu cinta? Melepas segala rasa yang tumbuh subur merekah hingga kini dan entah kapan berakhirnya?

Haruskah ku bunga jauh-jauh penggal harap yang entah kenapa masih membuatku sesak ketika kutahu aku tak bisa memilikimu cinta?

Haruskah aku membalikkan semua waktu agar perasaan ini tidak pernah ada di dalam diri? Atau setidaknya..

Ahh.. Allah.. mungkinkan kau ijinkan aku mengembalikan kekosongan jiwa agar yang terisi hanya KAMU? Hanya KAMU ya Rabb.. Hanya KAMU.. hanya KAMU yang kucinta. Mungkinkah ya Rabb?”

Dadaku semakin sesak. Air mata lagi-lagi dengan tak sopannya keluar tanpa pernah mau kuperintahkan. Aku laki-laki, dan kini aku menangis.

“Aku benci dengan perasaan ini. Benci dengan keadaan ini.

Aku sadar aku harus bangkit. Tak boleh lemah hanya karena kehilangan kesempatan merealisasikan harapku.

Aku tak boleh kalah, hanya karena imaji yang sedari dulu kubangun akhirnya pergi dan menghilang tanpa bekas. Aku benci dengan semua perasaan yang telah porak-poranda ini. Aku harus bangkit. Tak boleh seperti ini.”

Kukuat-kuatkan hatiku agar tetap seperti dulu. Tenang dan segar. Namun percuma. Setiap larian kecilku mengelilingi kampus hijau ini, membuatku semakin tergugu. Pikiranku tak bisa untuk kuhentikan dalam mengingat sang permata jiwa. Semua kenangan seperti tergambar jelas dibenakku. Kenangan tentangnya semua menyeruak tanpa tahu betapa aku sakit ketika mulai mengingatnya. Baca lebih lanjut

Iklan

(Cerpen) Beginikah Cinta? (1)

Aku berlari dengan nafas memburu. Otakku seakan berhenti berpikir, dada sesak, penuh, semua sesal dan sedih berkecamuk jadi satu. Kususuri jalanan kampus yang masih sedikit basah karena hujan kemarin malam. Aku benar-benar kalut. Bingung. Pikiranku mulai bergumam sendiri dengan batinku.

“Beginikah jadinya? Beginikah rasanya mengakhirkan harapan?

Beginikah rasanya menghentikan cinta yang sudah terlanjur dalam?.

Aku harus berkata apa? Bertanya pada siapa?”

Jalanan ini tentu saja takkan memberi jawab. Sore menuju senja yang selalu indah ini tentu saja takkan menenangkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain kekalutan yang luar biasa menghinggapi dada.

“Haruskah melepasmu cinta? Melepas segala rasa yang tumbuh subur merekah hingga kini dan entah kapan berakhirnya?

Haruskah ku bunga jauh-jauh penggal harap yang entah kenapa masih membuatku sesak ketika kutahu aku tak bisa memilikimu cinta?

Haruskah aku membalikkan semua waktu agar perasaan ini tidak pernah ada di dalam diri? Atau setidaknya..

Ahh.. Allah.. mungkinkan kau ijinkan aku mengembalikan kekosongan jiwa agar yang terisi hanya KAMU? Hanya KAMU ya Rabb.. Hanya KAMU.. hanya KAMU yang kucinta. Mungkinkah ya Rabb?”

Dadaku semakin sesak. Air mata lagi-lagi dengan tak sopannya keluar tanpa pernah mau kuperintahkan. Aku laki-laki, dan kini aku menangis.

“Aku benci dengan perasaan ini. Benci dengan keadaan ini.

Aku sadar aku harus bangkit. Tak boleh lemah hanya karena kehilangan kesempatan merealisasikan harapku.

Aku tak boleh kalah, hanya karena imaji yang sedari dulu kubangun akhirnya pergi dan menghilang tanpa bekas. Aku benci dengan semua perasaan yang telah porak-poranda ini. Aku harus bangkit. Tak boleh seperti ini.”

Kukuat-kuatkan hatiku agar tetap seperti dulu. Tenang dan segar. Namun percuma. Setiap larian kecilku mengelilingi kampus hijau ini, membuatku semakin tergugu. Pikiranku tak bisa untuk kuhentikan dalam mengingat sang permata jiwa. Semua kenangan seperti tergambar jelas dibenakku. Kenangan tentangnya semua menyeruak tanpa tahu betapa aku sakit ketika mulai mengingatnya. Baca lebih lanjut

(Cerpen) Zahra

Pagi yang masih bisu di awal musim panas. Kapal-kapal masih sibuk disekitar pelabuhan Hamburg yang selalu ramai di musim kapanpun. Umar masih dalam kesibukannya sembari sesekali melihat orang-orang yang masih tidur dalam kelelahan mereka.

“Fffuuuh… pagi yang hangat. Ini musim panas bukan ? Ahh.. ternyata, selain panas dan cerahnya mentari, musim panas juga sering sekali di temani hujan.. Tapi anehnya ia tak mampu mendinginkan udara..” gumamnya sendiri.

Tiba-tiba, handpone-nya bergetar. Ada sebuah pesan yang masuk, nomor yang sangat dikenalinya.

“Assalamu’alaikum wr. wb. sehatkan nak ? prosesi pernikahan semakin dekat nih nak.. Jaga kesehatan ya. Mudah-mudahan lancar dan ridho Allah senantiasa mengiringi sampai hari-H nya nanti..”

Hati Umar berdesir seketika. Ada perasaan yang tak biasa mulai hinggap tiba-tiba.

“Wa’alaikumsalam wr. wb. Alhamdulillah sehat bu. Ibu sehatkah ? jaga kesehatannya ya… Amiin, mudah-mudah dimudahkan oleh Allah. Umar segera tiba di Indonesia bu..” jawabnya dipenuhi haru.

Ada perasaan lega mendapati pesan dari calon mertuanya. Juga rasa was-was yang hadir dalam kadar yang mulai banyak. Kuliahnya di Hamburg University of Technology di bidang chemical and bioengineering process masih terkatung-katung. Ia masih harus berjuang 2 bulan lagi untuk bisa melengkapi impiannya tahun ini. Namun, tekad-nya sudah bulat.

“Saya harus menikah… Ia jauh lebih tinggi nilainya jika dibandingkan dengan pengorbanan waktu yang tak sedikit untuk mengambil jeda riset Thesis saya. Jika tak sekarang, kapan lagi ?” Umar bertanya pada dirinya sendiri sembari menekuri lembaran demi lembaran analisis hasil risetnya. Data-datanya masih berantakan. Masih harus uji lab beberapa kali lagi sebelum menyempurnakannya menjadi sebuah riset yang layak untuk dijadikan sebagai thesis S2-nya. Hasil kerja kerasnya selama tahun pertama telah berhasil mengantarkannya menjadi penerima penghargaan “best young researcher” di sebuah konferensi Internatioanal di Hamburg Desember tahun lalu. Sialnya, semua riset itu belum juga dianggap cukup layak oleh Prof. Borg, pembimbingnya untuk dijadikan sebagai bahan-bahan thesisnya. Umar harus merancang dari awal lagi semua eksperimennya guna menyanggupi apa yang diinginkan oleh adviser-nya.

“17 Juli 2011..” Umar melingkari kalendernya dengan spidol merah sebagai tanda waktu oral defense-nya. Masih tersisa kurang lebih dua bulan. Umar berpikir keras membagi waktu-waktu yang tersisa agar rencananya pun lancar.

Baca lebih lanjut

(Cerpen) Sebuah Dialog

Bimisllah…

Dalam senja yang mulai gelap. Kupandangi hamparan birunya laut itu. Laut biru yang ketika siang begitu manisnya menggambar bumi di ujung Timur Formosa. Sepertinya ia lunglai dengan siang yang panas, merasa penat dengan kebisingan mentari bersama sinarnya, ia butuh berteduh dalam damai, berdiam dalam perenungan di gulita yang hanya ditemani bintang. Ia menuntut itu. Menuntut untuk segera ditemani malam, biar ia tak lagi diganggu dengan penduduk-penduduk bumi yang mencari kehangatan, kehangatan yang membuatnya jengah. Jengah karena ulah mereka.

‘Semakin brengsek saja penghuni bumi.. “ gumamnya.

“Panasnya air yang kumiliki semakin menjadi selama beberapa tahun terakhir. Padahal dulu, saya masih menikmati kedamaian hangatnya mentari sembari sesekali badai datang menerpa negeri ini. Buatku, ini karena ulah manusia. mereka dengan borosnya memakai energi di perut tanah-tanah itu. Aku, hutan, dan semua inti bumi ini sebenarnya marah dengan mereka. Tapi mereka begitu tak peduli” Lanjutnya..

Aku tersenyum sendiri membayangkan betapa kesalnya seluruh makhluk Allah di muka bumi. Mereka jengah sebenarnya. Jengah dengan para penghuni bumi yang mulai tak mengindahkan perintah Tuhan. Satu persatu terus ditinggalkan. Benar, bahwa nikmat-nikmat Allah itu terus turun di bumi para orang kafir, tapi itu tak lebih dari istidraj-Nya Allah untuk mereka. Kadang-kadang dunia ini memang unik dan sungguh memilki banyak tanda tanya. Tapi bagi yang berilmu. Sebenarnya ini sederhana. Ini hanya tentang “patuh atau tidaknya kamu dengan perintah Allah Yang maha Kuasa..” hanya itu pangkal persoalannya. Jika kembali kepada jalan yang benar, jalan lurus nan bercahaya, sejatinya hidup akan menjadi sederhana lagi bermakna.

Aku mengutuk diri sendiri. Rasanya tak pantas kumulai menghitung salahnya orang lain, sedangkan akupun masih banyak lalai dan masih banyak hal yang berlum disempurnakan. Tak lama kemudian, kuarahkan pandanganku di sekeliling kereta. Setiap manusia masih asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Sebagian besar dari mereka benar-benar acuh tak peduli. Beginikah hidup di negara yang maju ? yang penduduknya pekerja keras dan tahan banting manantang dunia ? mereka seperti lupa, bahwa sapaan dan dialog hangat bersama saudara seperjalanan adalah kenikmatan paling indah di dunia. Kenikmatan yang bisa kurasa ketika perjalanan Jakarta-Yogyakarta kulalui. Menikmati tertawanya para pengemis, sedihnya wajah mereka, atau para penjual-penjual jajanan kecil yang sungguh ribut tak terkira meski itu di malam hari. Bagiku, itulah eksotis-nya Indonesiaku. Negeri permai yang semrawut namun merupakan syurga bagi mereka yang mencintai keramahan dan hidup dalam komunitas.

Aku berdialog lagi dengan diri sendiri. Sepertinya harus kuakui, bahwa berbicara dengan hati adalah aktivitas paling kucintai. Aku menyukai keluasaan cakrawalanya dalam mengambil keputusan, juga sangat menikmati berbagai macam pemikiran dan teori yang suka ia tafsirkan dari berbagai sumber informasi yang berasal dari otakku. Kali ini aku bergelut dengan dua kata. “Nekat” dan “Yakin”

Baca lebih lanjut

(Cerpen) Kisah 2 Orang Pemuda

Bismillah..

Langit masih terang bederang, sedangkan sinar mentari masih memancarkan hangatnya ditengah bukit-bukit kecil yang terjal. Sungai-sungai yang jernih, terlihat kehijau-hijauan melengkapi kesempurnaan hamparan pemandangan disepanjang perjalan 2 pemuda itu. Mereka masih menarik nafas mereka yang sempat memburu ketika sama-sama mengejar kereta di pagi yang cukup panas. Salah seorang dantaranya menertawakan dirinya sendiri. Entah ini yang keberapa, namun yang jelas, kisah bersama kereta selalu saja membuat banyak tawa. Rupanya, pemuda berbaju cokelat disampingnya masih kelihatan dongkol. Itu menurutku yang menyaksikan mereka berdua tergopoh-gopoh mencari gerbong dan tempat duduk di pagi itu. Seperti biasa, pemuda berbaju cokelat itu masih duduk tenang, meski dengan raut yang masih tak nyaman atas kejaidian yang menimpanya beberapa menit yang lalu. Buatnya -mungkin- ini keteledoran yang tak bisa diulangi 🙂

Keduanya kemudian melempar senyum. Rupanya mereka adalah sahabat dekat. Cukup dekat sepertinya, terlihat dari bahasa-bahasa yang mereka pakai. Bahasa-bahasa se-frekuensi dengan tema-tema lintas generasi yang hangat mereka bicarakan. Namun, jika kuperhatikan, kedekatan mereka sepertinya juga bukan sebuah kedekatan biasa. Kedekatan yang penuh misi mungkin. Misi keabadian yang mereka cari, meski ketika kuperhatikanpun, mereka tak lebih dari dua pemuda biasa yang masih sama-sama belajar. Belajar mencari cinta lebih tepatnya. Belajar memknai kata cinta menjadi kalimat-kalimat kerja dalam hari-hari mereka. Kata cinta yang berujung pada Allah, Tuhan mereka. Cinta yang -mungkin- mirip defenisinya ketika Umar RA, menggantikan cintanya kepada diri dan keluarga menjadi sebuah cinta melangit untuk Muhammad Sang Nabi mulia. Ya.. saya yakin kedua pemuda itu sedang belajar memaknai ejawantahan perasaan cinta menjadi sebuah kata kerja -semoga-.

Baca lebih lanjut