4 tahun bersamamu

Bismillah…

4 tahun bersamamu adalah tahun-tahun membangun fondasi cinta. Saat pengorbanan, saat kerja keras, saat tangis dan bahagia, juga saat-saat memendam rindu dalam ribuan mil jarak yang terpisah. 4 tahun bersamamu adalah warna-warni perjalanan kita yang begitu melekat dalam ingatan.

4 tahun bersamamu adalah tahun-tahun dimana fondasi cinta itu kita bentuk bersama. Belajar menghargai, membangun rumah impian, menerka rencana-rencana Tuhan, hingga berani mengambil banyak resiko untuk mengejar ambisi bersama. 4 tahun bersamamu adalah warna-warni mengejar mimpi, mencatatkan ribuan kontemplasi, dan berlari kencang meninggalkan kenyamanan.

autumn

Continue reading

Pagi, di Awal Januari

Bismillah…

Hari ini adalah hari terakhir liburan,

Aneh sebenarnya jika Aku mengatakan hari terakhir liburan, karena bagiku, tiap hari adalah liburan. Bagi seorang PhD student yang tidak ada kewajiban kuliah, setiap hariku adalah hari-hari “liburan”.

Lantas karena alasan inilah Aku berhak untuk memperpanjang nafas senang-senang?

Tidak.. Aku tidak ingin melakukannya. Ada yang menghabiskan 1-2 tahun pertama PhD-nya untuk having fun, main-main, dan akan catch-up di 1-2 tahun terakhir studinya.

Namun bagiku, jalan-jalan sebentar saja, rasanya rugi. Rugi oleh waktu yang sudah kuhabiskan di sini, rugi dengan momen-momen penting tanpa keluarga yang kugantikan dengan kepergianku ribuan mil jauhnya dari mereka.

Hari ini adalah hari terakhir liburan, Continue reading

Autumn in Bristol – 3

Aku Takkan Menyerah

Bismillah…

Air hujan perlahan menutupi kaca jendela office-ku dengan tergesa-gesa. Langit menghitam, angin mendesau keras dan udara menjadi semakin dingin. Aku hanya diam, hening dalam camuk pikiran yang tak jelas tujuannya. Disampingku masih ada dua jurnal paper yang sudah hampir 2 jam sedang kubaca. Siang ini, aku seperti terpasung dalam ruang-ruang perenungan tentang hidup. Tentang cinta, tentang pengorbanan, tentang rindu. Semua yang berseliweran di kepala seperti memanggil-manggil diriku untuk meminta diperhatikan. Aku hanya tersenyum sembari membiarkan jemariku mengetik satu persatu kata yang hendak keluar dari otakku. Musim gugur tahun ini seperti renungan tentang makna kesyukuran yang tak pernah ada habis-habisnya.

Langkah kakiku yang gemetaran karena udara Bristol yang mendekati 0 derajat seperti menyadarkanku bahwa perjuangan meraih mimpi tidaklah mudah. Harus ada kerja keras dalam doa, kerja keras dalam kadar arogansi yang seimbang, juga pengorbanan atas hal-hal yang seharusnya menjadi hakku. Aku tahu dan amat sangat menyadari bahwa dinginnya pagi di musim gugur ini tak ada apa-apanya dengan lelah maupun rasa kehilangan akan sosok ayah, juga suami bagi kedua belahan jiwaku di timur Jawa. Aku tahu ini tak mudah, maka semoga semua keputusan ini berbuah manis dalam deret-deret musim berikutnya.

clifton-suspension-sun

Continue reading

Autumn in Bristol – 1

Kekuatan Do’a – Mendapatkan Kontrakan muslim di Inggris

Awal Juli 2014

Aku masih mematung di depan laptop ditemani suara pelan tiupan AC ruanganku yang mencegah dari panasnya Surabaya. Pikiranku campur aduk melihat deretan dokumen yang harus kupersiapkan untuk aplikasi Visa menuju Bristol-United Kingdom (UK). Ada salah satu masalah yang sampai detik ini masih menggangguku.

AKOMODASI!

Ya, ini masalah tempat tinggal. Mungkin terdengar sederhana bagi banyak orang yang memulai studi dimanapun, tapi bagiku, penerima beasiswa yang cukup pas-pasan ini, aku tidak mungkin mengandalkan asrama kampus sebagai tempat tinggalku. Mungkin saja sebenarnya, akan tetapi aku harus rela memotong setengah uang beasiswaku untuk sekedar membayar sewa bulanan asrama.

Bristol University memang berada di city center of Bristol, sama halnya dengan Imperial College of London yang berada di zona paling mahal di London. Pilihan untuk hidup di Asrama kampus yang berjalak kurang dari 15 menit jalan kaki akan merobek kucuran beasiswa hingga 415 pound per bulan. Memang sewa bulanan ini telah masuk semua tagihan, tapi jika ada cara untuk menempati tempat tinggal yang lebih murah, meski dengan jarak yang cukup jauh dari City Center kenapa aku tidak mempertimbangkannya?

Aku sudah belajar bagaimana bisa mengelola uang beasiswa dari berbagai cerita rekan-rekanku di UK. Tinggal di asrama bukanlah pilihan seorang penerima beasiswa sepertiku.

Muhammad Salami, teman PhD dari Iran juga mengatakan hal yang sama:

“You have to try finding flat out of campus. The on-campus accommodation is quite expensive.”

DSCF0006

Hal ini cukup berbeda dengan yang dikatakan Shiliang Li. Teman PhDku yang baru memasuki tahun kedua. Ia justru menyarankanku untuk mengambil akomodasi kampus karena memang setengah dari biaya hidup di Bristol dipakai untuk tempat tinggal.

Aku hanya mengernyitkan dahi membaca emailnya yang cukup panjang. Li memang telah lama menghabiskan waktunya jauh dari negeri Tiongkok untuk studi di Bristol. Pengalaman hidup sebagai mahasiswa S1 hingga S3 di sini tentu menjadi sebuah rekomendasi yang tidak bisa kusepelekan.

Namun rekomendasi Li masih belum apa-apa ketika aku mematung melihat lanjutan emailnya:

“However, it can be troublesome at the same time, most of the private property requires full payment up-front, unless you have a UK guarantor. Plus you probably would like to view the property before signing the contract.”

Full payment up-front?

Aku berkali-kali membaca barisan kata-kata ini di Inbox email-ku. Sepertinya memang tidak mudah mendapatkan akomodasi di Bristol. Dengan rata-rata harga sewa di atas 400 pound per bulan, hampir semua situs iklan sewa rumah/apartemen di Bristol menysaratkan uang muka (DP) untuk memastikan akomodasi akan disiapkan untuk kita. Ada yang bahkan meminta pembayaran 6 bulan hingga 1 tahun penuh seperti yang diceritakan Li di atas. Continue reading