Jangan Terlalu Banyak Berharap Pada Manusia

Bismillah…

Pernahkah anda mengagumi sosok orang-orang di dekatmu ? berbagai alasan dan sebab mungkin saja hadir sehingga ia dijadikan sosok teladan yang patut untuk anda ikuti. Bisa saja karena kejujurannya, prestasinya, kesholehannya, kebaikannya, kekayaannya, atau banyak alasan yang akhirnya membuat anda meletakkan rasa hormat dan takjub kepada mereka. Sosok-sosok itu kadang hadir sebagai penyemangat dari cerita mereka, dialog-dialog mereka, atau bahkan hanya sekedar tindakan nyata yang langsung kita saksikan dengan mata kepala. Orang-orang yang memilki kekuatan karakter adalah orang-orang hebat yang sangat kuat pengaruhnya bagi lingkungan.

Sejatinya, ada satu sisi yang tak boleh kita lepaskan dari mereka. Mereka hanyalah MANUSIA BIASA. Manusia dengan segala potensinya, kelebihannya, kekuatannya, tentu memiliki keterbatasan. Untuk itu, merasakan bahwa diri kita memiliki keterbatasan adalah salah satu upaya agar kesombongan tak menjadi pakaian kita. Karena sunnatullah sebagai manusia pulalah kita perlu lebih dalam memahami setiap karakter orang-orang yang kita anggap sebagai panutan.

KODAK Digital Still Camera

Baca lebih lanjut

Iklan

Begini Cerita Ibu Hamil dan Istri Yang Sekolah S3

Bismillah…
 
Nemenin ibu negara Ratih Nur yang studi S3 sama-sama nih lebih nerve wrecking dari jalanin PhD sendiri. Status sebagai Ibu dan Istri bukanlah pekerjaan mudah ketika harus studi S3 yang membutuhkan tingkat konsentrasi belajar yang tinggi. Ditambah tahun pertama ini menjalani kehamilan ke-2nya di luar negeri. Fix, Ibu negara ini gak pernah ngerasain terpenuhi ngidamnya selama masa awal-awal hamil karena DeLiang juga dulu made in Taiwan dan lahirannya juga di sana. Satu minggu setelah kelahiran DeLiang istri melewati sidang Thesis S2nya dan lulus tanpa revisi dari National Taiwan Univ of Science and Tech (NTUST). Waktu ditanya kenapa lulus tanpa revisi, katanya: “Karena penguji kasihan ada ibu hamil sibuk sekolah.” hahahaha..
 
Kehamilan ke-2 ini rasanya tidak sekompromise DeLiang karena suka protes kalau ibunya pusing baca paper. 😀
 
Untungnya lumayan tahan banting. Katanya saya suami yang punya tingkat tega tinggi sekali, jadi gak penting juga nuntut-nuntutan. hahaha.. Kami bercanda begini sambil ngetawain diri kami sendiri.
FotoBertiga1
 
Melewati kehamilannya, Istri masih bisa travelling beberapa kali ke luar kota untuk menuntaskan amanahnya. Sesuatu yang amat sangat saya kagumi darinya. Mungkin jika saya di posisinya tidak akan melakukan hal yang sama. Terkadang keram perut membersamainya selama perjalanan panjang ke Oxford, London, Birmingham, hingga Nottingham. Namun istri tetap tenang melewatinya. Perjalanan-perjalanan itu bisa memakan waktu hingga 10 jam PP. Saya membiarkannya agar anak kami juga terdidik kuat ketika diberi amanah ketika besar nanti.

Baca lebih lanjut

KERJA KERAS dan PANTANG MENYERAH adalah kuncinya

Bismillah…

Tulisan ini adalah bagin dari Self Management Project yang saya dedikasikan untuk membahas masalah manajemen diri. List artikelnya bisa di lihat di sini.

Pukul 6.30pm tadi, saya baru saja mengirimkan draft ke-7 jurnal paper keempat ke email pemnbmbing. Rasanya pintu menggondol PhD semakin dekat. Bersama itu pula ada semangat yang tak pernah habis terus mengisi hari-hari saya setelah 2 thn 8 bulan digembleng oleh Dr. Goda untuk bisa menjadi independent researcher.

Menjelang akhir studi PhD saya, justru terasa berkebalikan dengan cerita-cerita banyak rekan yang berjibaku menulis dan mengejar submit PhD thesis dengan susah payah. Justru kesulitan yang saya hadapi adalah di 2 tahun pertama menjalani PhD. Weekend yang selalu habis di kantor, membaca ratusan jurnal, hingga belajar hal-hal baru yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.
IMG_2832
Di awal PhD saya, Dr. Goda sudah mengatakan bahwa saya akan melewati proses belajar yang tidak mudah. Alasannya sederhana, karena background saya yang berantakan. Beliau menyebutkan dalam laporan perkembangan saya sebagai “steep learning curve” karena saya harus belajar banyak hal baru dengan cepat. TIGA tahun adalah waktu yang singkat.

Baca lebih lanjut

Serpihan Inpirasi – Yusuf, Sang Muallaf

Bismillah…

Aku tergesa-gesa menuju ke dalam masjid Taipei Grand Mosque karena mengejar waktu setelah keluar dari kelas reliability analysis yang jadwalnya sangat berdempetan dengan waktu sholat Jum’at. Namun, saat hendak mengunci sepeda, pandanganku seketika tertuju dengan seorang pemuda Taiwan berperawakan tinggi yang sedang bergurau dengan teman-teman dari Timur Tengah. Tanpa sungkan, aku menyapanya.

“Assalamu’alaikum, I am Ario[1]

“Waalaikumsalam, I am Yusuf[2]Jawabnya

 “I am from Indonesia, and now I am studying at NTUST, are you a student here?[3]Aku memulai memperkenalkan diriku.

“Oh.. Yes, I am a student. I study at National Cheng Chi University (NCCU), in international relation department, about 30 minutes from here.[4] Aku kemudian baru tahu, ia adalah seorang mahasiswa S1 NCCU jurusan Hubungan Internasional (HI). Saat itu, kami tidak berbincang banyak karena memang waktu sholat jum’at yang sudah semakin dekat. Rasa penasaranku sebagian besar disebabkan karena mendengar kefasihannya berbahasa Arab bersama teman-teman timur tengah.

COver3

Baca lebih lanjut

Serpihan Inspirasi – Seni Berdo’a

Bismillah…

Tak cukup hanya dengan kesungguhan hati meminta. Do’apun ada seninya. Puji-pujian untuk-Nya dan Rasul-Nya adalah pendahulu dari segala pintamu, kemudian, iringilah ia dengan kalimat ampunan dan pertaubatan, lalu tutuplah dengan segala tumpukan harapanmu. Jangan lupa untuk mensucikan tubuhmu, memperhatikan waktu do’amu, dan tempat dimana engkau berdo’a. Jika masih belum berbalas, pakaikanlah makna “baik sangka” kepada-Nya, karena buah kesabaran memang selalu indah.

Kalaupun di waktu berikutnya, baik sangkamu itu mulai berkarat. Maka yakinkanlah di dalam dirimu, bahwa masih banyak cela dan noda yang melekat dalam hatimu. Ia menjadi penghalang terkabulnya do’amu, sebab kekotoranmu yang pernah terjadi dahulu, bisa jadi menjadi hambatan naiknya do’a-do’amu menuju langit-Nya.

COver3
Baca lebih lanjut

Serpihan Inspirasi – Yang pasti adalah kematian

Bismillah…

Nafasku tersengal ketika mengedarkan pandanganku di seisi ruangan 3.05, International Building, National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). Tak ada seorangpun yang terlihat batang hidungnya dihadapanku. Aku memang sengaja datang lima belas menit lebih awal sebelum kelas dimulai. Adalah kelas reliability analysis of structures, sebuah mata kuliah yang sering membuat kepalaku senut-senut setelah melewatinya. Namanya Prof. Cherng, lelaki dengan 165 cm ini yang mengampu kelas reliability analysis of structures. Beliau terkenal sebagai salah satu Prof. tercerdas di jurusan Construction Engineering, NTUST. Lulusan University of Illinois, U.S.A. ini tidak hanya cerdas namun juga begitu telaten menjelaskan satu persatu persamaan matematika kepada kami jika raut wajah mahasiswanya terlihat kebingungan. Ramah. Itulah kesan lain yang kutangkap dari beliau. Sebuah pesan sederhana tentang pentingnya memiliki attitude yang baik ketika anda menjadi guru.

Beberapa menit sebelum pukul 9.30 am, wajah Prof. Cherng terlihat. Senyumnya mengembang dan penuh antusias. Tak berselang beberapa lama, 15 mahasiswa internasional yang mengambil kelasnya sudah duduk manis dihadapan Prof. Cherng yang sedang sibuk mempersiapkan kelasnya hari ini. Beliau mengambil beberapa batang kapur – satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna kuning, lalu meletakkannya disamping meja yang disediakan khusus untuk meletakkan barang-barang para pengajar. Dengan tenang, Prof. Cherng mulai membuka suara:

“Nothing is certain

“Tidak ada yang pasti di dunia ini” Beliau mengulang kalimat yang diucapkan beberapa detik sebelumnya.

“Apakah ada kondisi di dunia ini yang pasti untuk ditentukan? Jawabannya adalah TIDAK ADA. Semua tidak ada yang pasti untuk ditentukan jumlahnya. Bangunan  yang kita desain tidak akan pernah bisa kita bangun dengan failure of probability zero (kemungkinan kegagalannya nol). Tidak ada dan tidak akan pernah bisa.” Lanjut beliau.

COver3 Baca lebih lanjut

Bedanya PENGEN dan CITA-CITA

Bismillah…

Tulisan ini adalah bagin dari Self Management Project yang saya dedikasikan untuk membahas masalah manajemen diri. List artikelnya bisa di lihat di sini.

“Sebenarnya dia ingin sekali studi di Belanda. Tapi pertimbangan keluarga yang membuatnya memilih Inggris.” Istriku membuka obrolan ketika saya sedang menikmati lunch di kantornya siang tadi.

“Abi heran sama orang-orang yang punya keinginan tapi gak mau kerja keras. Ini persis dengan target umi yang mau publikasi di jurnal, tetapi gak mau kerja keras. Atau teman Umi yang sebenarnya menurut abi masuk dalam kategori pengen bukan punya cita-cita karena kelihatan effortnya biasa saja.” Lanjutku menjustifikasi. Baca lebih lanjut