Serpihan Inpirasi – Yusuf, Sang Muallaf

Bismillah…

Aku tergesa-gesa menuju ke dalam masjid Taipei Grand Mosque karena mengejar waktu setelah keluar dari kelas reliability analysis yang jadwalnya sangat berdempetan dengan waktu sholat Jum’at. Namun, saat hendak mengunci sepeda, pandanganku seketika tertuju dengan seorang pemuda Taiwan berperawakan tinggi yang sedang bergurau dengan teman-teman dari Timur Tengah. Tanpa sungkan, aku menyapanya.

“Assalamu’alaikum, I am Ario[1]

“Waalaikumsalam, I am Yusuf[2]Jawabnya

 “I am from Indonesia, and now I am studying at NTUST, are you a student here?[3]Aku memulai memperkenalkan diriku.

“Oh.. Yes, I am a student. I study at National Cheng Chi University (NCCU), in international relation department, about 30 minutes from here.[4] Aku kemudian baru tahu, ia adalah seorang mahasiswa S1 NCCU jurusan Hubungan Internasional (HI). Saat itu, kami tidak berbincang banyak karena memang waktu sholat jum’at yang sudah semakin dekat. Rasa penasaranku sebagian besar disebabkan karena mendengar kefasihannya berbahasa Arab bersama teman-teman timur tengah.

COver3

Continue reading

Review Buku Notes of 1000 Days in Taiwan

Notes of 1000 days in Taiwan; Ketika Seorang Da’i Berkisah

Kita adalah da’i sebelum menjadi yang lainnya

Kita mesti berhati-hati ketika sehari lewat tanpa sebuah hikmah. Karena itu tanda bahwa dalam sehari itu tidak ada hal baru yang kita peroleh. Dan seorang da’i yang senantiasa bergerak, akan berada dalam kegelimpangan hikmah. Ia bisa peroleh itu dari membaca buku, bergaul, maupun bepergian.

Itu salah satu kesimpulan saya setelah membaca buku “Notes of 1000 days in Taiwan”; sebuah bunga rampai yang disusun oleh Ario Muhammad—penyandang gelar S2 di Taiwan, seorang suami, ayah, dan tentunya pekerja dakwah—selama ia tinggal di Taiwan.

Cover

*** Continue reading

Tentang Kriteria dan Ketidaksempurnaan

Bismillah…

Teringat dengan beberapa baris kata yang sering sekali terekam di dalam kepala

“Tak perlu menuntut yang sempurna, dan mempersulit keadaan yg sbnrnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakanlah niat awal kita, jika ia penuh berkah dan ridho dari-Nya, maka titik kemuliaan menjadi seorang manusia, Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk ada dalam diri kita”

Ada juga sebuah selentingan yang cukup “menggigit”

“Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa. Apa penyebabnya ? karena bs jadi yang diharapkan tak seindah realita, yang disyaratkan tak sempurna dalam lakunya. Maka berharap menemukan seseorang dalam kesempurnaan hanya membuat yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah untuk dicerna”

Tentang penggalan kalimat kedua diatas. Saya (lagi-lagi) teringat buku Serial CInta-nya Anis Matta, di topik “Mengelola Ketidaksempurnaan”

“Apa lagi ketampanan yg tersisa di dunia ini ketika telah dibagi habis kepada Nabi Muhammad SAW, dan Yusuf AS. Dan kecantikan yang telah disempurnakan kepada Sarah istri Ibrahim AS dan Khadijah RA Istri Rasulullah. Hingga pesona kebajikanpun telah direnggut habis oleh Utsman bin Affan dan keluruhan budi telah dimiliki secara purna oleh Aisyah RA”

Continue reading

Kesempurnaan Keyakinan

Bismillah…

Kesempurnaan keyakinan, sejatinya bisa di ukur dengan sejauh mana engkau mengmbalikan harapmu pada-Nya. Apakah ia lahir atas dasar kesungguhan menuju-Nya, atau justru karena kecendrungan hatimu akan dunia yang indah dan memabukkan. Maka panjangkanlah keyakinanmu dengan nafas TAUBAT dan DO’A tiada henti. Agar ribuan langkah yg kau jejaki di kemudian hari, selalu akan melahirkan keputusan2 yang bijaksana.

Percayalah, dari-Nya, selalu akan indah. Sebab Allah takkan pernah mengecewakan hamba-Nya. Yang ada hanyalah kekotoran diri yang tertutup oleh dunia, sehingga terlampaui sulit untuk menikmati “hidangan” hikmah yang disediakan oleh-Nya. Jika masih kecewa, lihatlah hati, mungkin saja harap dan cita-mu, sejatinya tertuju karena dunia, bukan murni untuk-Nya. Atau ketika semuanya datang di alam nyata, tengoklah ia, jangan sampai di tengah perjuangan menjemput segala cita, masih tertanam benih-benih riya, masih tersemai langkah-langkah kesombongan, atau justru terlampaui sering ia berlalu bersama dengan keangkuhan. Jika masih ada, ber TAUBAT-lah, bisa saja ia memang belum layak untuk kau punyai.

Continue reading