Journey to PhD (45) – Akhirnya SUBMIT PhD Thesis

Bismillah…

Hari ini, 3 tahun 2 bulan sudah perjalanan studi S3 saya terlewati. Banyak orang melihat skenario perjalanan studi S3 saya seperti cerita menarik tanpa kendala, bak dongeng tanpa konflik. Ada juga yang berkesimpulan bahwa saya bisa melewatinya karena otak encer dan mudah menaklukkan kesulitan. Tak banyak yang kemudian belajar bahwa dibalik cerita yang dibilang tanpa kendala ini, tanpa ada konflik yang berarti ini, ada perjuangan dan kerja keras yang tak mudah.

3 tahun 2 bulan ini adalah sebuah perjalanan panjang yang menguras emosi, isi kepala, merontokkan rambut di ubun-ubun, juga hari-hari yang terlewati dengan kerja keras tak henti. Maka saya memberi apresiasi yang sangat besar kepada para pejuang akademik di level ini. PhD adalah proses yang tak mudah –at least bagi saya yang miskin ilmu dan pengalaman-. Ini perjalanan yang hanya bisa dilewati oleh mereka yang panjang nafasnya, mau bertarung dengan revisi demi revisi, kegagalan demi kegagalan riset di laboratorium, hingga hasil analisis yang seringkali tak sesuai harapan.

DeLiang dan PhD Thesis saya

Baca lebih lanjut

Iklan

Journey to PhD (10) – 2 Bulan Menjadi Mahasiswa PhD

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Masa-masa adaptasi

2 bulan sudah saya tercatat menjadi PhD student, department of Civil Engineering Bristol University. Sebuah kampus yang berada di top point kota Bristol. Konturnya yang hilly memang membuat setiap hari tubuh ini dipaksa untuk olahraga. Gambaran dua bulan pertama adalah masa-masa penyesuaian yang tak terlupakan.

Office 0.91 Queens Building, University walk adalah lokasi kantorku berada. Semua PhD student di UK dan di Eropa pada umumnya memang disamakan dengan university staff sehingga orang-orang di sini lebih awam menyebutkan office sebagai tempat kerja kita dibanding dengan kata “lab” yang sering dipakai di negara-negara Asia Timur. Dari segi bahasa saja rasanya sudah beda. memiliki sebuah office bagi seorang student tentu menunjukkan tingkat kemandiriannya. Office lebih berkesan kita adalah bagian dari keluarga kampus yang turut menyumbangkan banyak kontribusi bagi kemajuan universitas. Lab seperti kata yang lebih kepada pekerja.

Masa-masa adaptasi ini saya lalui dengan sangat sibuk. Total dalam dua bulan sudah 6 progress report yang saya tulis. 6 progress report ini dimulai dari hasil literature review saya, menyelesaikan satu demi satu tugas dan arahan dari pembimbimbing hingga berujung pada progress yang terakhir yang baru selesai kami diskusikan bersama terkait program riset yang akan saya laksanakan.

Bristol 1 Baca lebih lanjut

Autumn in Bristol – 3

Aku Takkan Menyerah

Bismillah…

Air hujan perlahan menutupi kaca jendela office-ku dengan tergesa-gesa. Langit menghitam, angin mendesau keras dan udara menjadi semakin dingin. Aku hanya diam, hening dalam camuk pikiran yang tak jelas tujuannya. Disampingku masih ada dua jurnal paper yang sudah hampir 2 jam sedang kubaca. Siang ini, aku seperti terpasung dalam ruang-ruang perenungan tentang hidup. Tentang cinta, tentang pengorbanan, tentang rindu. Semua yang berseliweran di kepala seperti memanggil-manggil diriku untuk meminta diperhatikan. Aku hanya tersenyum sembari membiarkan jemariku mengetik satu persatu kata yang hendak keluar dari otakku. Musim gugur tahun ini seperti renungan tentang makna kesyukuran yang tak pernah ada habis-habisnya.

Langkah kakiku yang gemetaran karena udara Bristol yang mendekati 0 derajat seperti menyadarkanku bahwa perjuangan meraih mimpi tidaklah mudah. Harus ada kerja keras dalam doa, kerja keras dalam kadar arogansi yang seimbang, juga pengorbanan atas hal-hal yang seharusnya menjadi hakku. Aku tahu dan amat sangat menyadari bahwa dinginnya pagi di musim gugur ini tak ada apa-apanya dengan lelah maupun rasa kehilangan akan sosok ayah, juga suami bagi kedua belahan jiwaku di timur Jawa. Aku tahu ini tak mudah, maka semoga semua keputusan ini berbuah manis dalam deret-deret musim berikutnya.

clifton-suspension-sun

Baca lebih lanjut

Autumn in Bristol – 1

Kekuatan Do’a – Mendapatkan Kontrakan muslim di Inggris

Awal Juli 2014

Aku masih mematung di depan laptop ditemani suara pelan tiupan AC ruanganku yang mencegah dari panasnya Surabaya. Pikiranku campur aduk melihat deretan dokumen yang harus kupersiapkan untuk aplikasi Visa menuju Bristol-United Kingdom (UK). Ada salah satu masalah yang sampai detik ini masih menggangguku.

AKOMODASI!

Ya, ini masalah tempat tinggal. Mungkin terdengar sederhana bagi banyak orang yang memulai studi dimanapun, tapi bagiku, penerima beasiswa yang cukup pas-pasan ini, aku tidak mungkin mengandalkan asrama kampus sebagai tempat tinggalku. Mungkin saja sebenarnya, akan tetapi aku harus rela memotong setengah uang beasiswaku untuk sekedar membayar sewa bulanan asrama.

Bristol University memang berada di city center of Bristol, sama halnya dengan Imperial College of London yang berada di zona paling mahal di London. Pilihan untuk hidup di Asrama kampus yang berjalak kurang dari 15 menit jalan kaki akan merobek kucuran beasiswa hingga 415 pound per bulan. Memang sewa bulanan ini telah masuk semua tagihan, tapi jika ada cara untuk menempati tempat tinggal yang lebih murah, meski dengan jarak yang cukup jauh dari City Center kenapa aku tidak mempertimbangkannya?

Aku sudah belajar bagaimana bisa mengelola uang beasiswa dari berbagai cerita rekan-rekanku di UK. Tinggal di asrama bukanlah pilihan seorang penerima beasiswa sepertiku.

Muhammad Salami, teman PhD dari Iran juga mengatakan hal yang sama:

“You have to try finding flat out of campus. The on-campus accommodation is quite expensive.”

DSCF0006

Hal ini cukup berbeda dengan yang dikatakan Shiliang Li. Teman PhDku yang baru memasuki tahun kedua. Ia justru menyarankanku untuk mengambil akomodasi kampus karena memang setengah dari biaya hidup di Bristol dipakai untuk tempat tinggal.

Aku hanya mengernyitkan dahi membaca emailnya yang cukup panjang. Li memang telah lama menghabiskan waktunya jauh dari negeri Tiongkok untuk studi di Bristol. Pengalaman hidup sebagai mahasiswa S1 hingga S3 di sini tentu menjadi sebuah rekomendasi yang tidak bisa kusepelekan.

Namun rekomendasi Li masih belum apa-apa ketika aku mematung melihat lanjutan emailnya:

“However, it can be troublesome at the same time, most of the private property requires full payment up-front, unless you have a UK guarantor. Plus you probably would like to view the property before signing the contract.”

Full payment up-front?

Aku berkali-kali membaca barisan kata-kata ini di Inbox email-ku. Sepertinya memang tidak mudah mendapatkan akomodasi di Bristol. Dengan rata-rata harga sewa di atas 400 pound per bulan, hampir semua situs iklan sewa rumah/apartemen di Bristol menysaratkan uang muka (DP) untuk memastikan akomodasi akan disiapkan untuk kita. Ada yang bahkan meminta pembayaran 6 bulan hingga 1 tahun penuh seperti yang diceritakan Li di atas. Baca lebih lanjut