MANAJEMEN WAKTU EFEKTIF BAGI MAHASISWA

“Kuncinya terletak bukan pada bagaimana anda menghabiskan waktu, namun dalam menginvestasikan waktu anda.” (Stephen R. Covey)

Namanya Dewi Nur Aisyah, Ph.D Ibu muda dan seorang muslimah lulusan dari University College of London (UCL) ini adalah salah satu nama yang perlu kita ikuti keseriusannya dalam berkarya. Bersama sang suami yang sedang menyelesaikan studi PhD di Brunel University bidang Hubungan Internasional, Dewi melewati lika-liku menjadi seorang mahasiswa S3 dengan segala tantangannya. Lebih dari itu, ada si kecil Najwa yang membersamai hidup mereka menambah warna-warni perjuangan yang harus mereka hadapi setiap hari.

Bulan Januari tahun ini, aku berkesempatan untuk berada satu forum dengan Dewi dalam sebuah acara motivation talk bertema berprestasi menembus batas yang diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Birmingham. Bagiku, kesempatan mengisi bersama dengan orang-orang hebat adalah momen untuk belajar. Mendengar presentasi mereka adalah sarana belajar terbaik karena melihat langsung bagaimana mereka mengeksekusi waktu mereka secara produktif.

Schedule

“Aku memulai segala sesuatu dengan membuat target dan merencanakan secara detail. Ini memudahkanku untuk meraih apa yang aku impikan.”

Kata pembuka ini diawali Dewi ketika ditanya tentang titik balik melejitkan potensinya. Kalian tidak usah bertanya list prestasi muslimah keren ini. Dari mahasiswa berprestasi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia yang harus dicapainya dengan terlibat dalam 13 organisasi, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) mentereng, dan juara di beberapa lomba akademik. Belum lagi sepak terjangnya selama PhD. Hampir selalu memenangkan penghargaan baik itu travel grant[1] ke berbagai konferensi di berbagai negara maupun best abstract[2] di konferensi-konferensi terkenal di bidangnya. Lebih dari itu, Dewi juga berhasil menelurkan dua buku: Awe Inspiring Me dan Sholihah Mom’s Diary selama PhD yang keduanya bisa dikategorikan sebagai best seller karena sudah cetak ulang lebih dari dua kali.

Melihat penuturan Dewi seperti menyaksikan langsung aplikasi dari berbagai buku manajemen waktu yang pernah kubaca. Dari the power of habbit-nya Charles Duhigh, willpower-nya Roy F. Baumeister, hingga bukunya Calvin Newport, Deep Work. Di saat yang bersamaan, pertemuan dengan orang-orang yang berhasil menjadikan harinya begitu produktif juga menjadi pertanda penting bahwa untuk menjadi seorang yang mampu mempengaruhi, yang kamu butuhkan bukan hanya ilmu, tetapi juga bukti yang kamu tunjukkan lewat keseharianmu.

“Aku hanya punya 2 hingga 3 hari dalam seminggu untuk mengerjakan pekerjaan satu pekan karena harus berbagi waktu dengan suami untuk menjaga anak. Jika fokusku hilang selama bekerja, maka berantakan juga semua targetan mingguan yang sudah kususun. Untuk itu, meskipun kita punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, harus ada prioritas yang kita tetapkan agar fokus kita lebih terarah. Jadi menjaga prioritas dan mengeksekusinya dengan baik adalah kuncinya.” Sambung Dewi.

PhDMama6

“Aku sering menemukan orang-orang yang begitu mudah kehilangan fokus. Ketika sudah memiliki target harian, yang dikerjakan bukanlah target yang sudah disusun. Justru yang lain. Ini yang menyebabkan banyak dari kita tidak berhasil meraih target yang sudah kita rencanakan sejak awal.” Uraian Dewi ini membuat sebagian besar para pendengar yang memadati auditorium di University of Birmingham mengangguk setuju.

Fokus memang menjadi salah satu masalah paling krusial bagi seseorang ketika ia hendak mengeksekusi rencana-rencana yang telah disusunnya. Banyak dari kita yang begitu mudah terganggu dengan hal-hal lain yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan yang sedang ditekuni. Entah itu berselancar di dunia maya, berbelanja online, hingga bermain game. Padahal sudah begitu banyak list pekerjaan yang sudah dipikirkan beberapa waktu sebelumnya.

Dewi adalah contoh perempuan yang tahu tentang prioritas dan hal-hal penting yang seharusnya mereka kerjakan.

“Aku tidak suka membaca, tapi ada sekitar 20,000 jurnal paper di endnote-ku.” Cerita Dewi beberapa saat kemudian.

“Jadi, habiskan waktumu dengan menuntaskan prioritas yang harus kamu kerjakan. Bukan yang lain. Aku tidak suka menghabiskan waktu membaca novel, tapi yang kubaca adalah hal yang paling relevan dengan targetan hidupku. Salah satunya adalah membaca artikel-artikel ilmiah.” Lanjut Dewi. 20,000 jurnal paper yang sudah di baca olehnya semenjak studi S2 di Imperial College London adalah bukti bahwa memfokuskan pekerjaan kita kepada hal-hal yang penting adalah cara terbaik untuk menjadi seseorang yang produktif.

Melihat keseharian seorang Dewi membuatku ingin merumuskan beberapa hal penting bagi kalian yang ingin membangun manajemen waktu efektif dalam hidupmu. Aku telah menjalaninya lebih dari lima tahun lamanya. Proses ini telah membawaku kepada tingkat produktifitas yang tidak pernah kucapai sebelumnya. Maka catatan berikut, adalah hal-hal penting yang perlu kalian ingat untuk membuat hidupmu lebih baik dari sebelumnya.

Mari kita mulai!

NFE8

Bagi yang tertarik, bisa melakukan pemesanan awal lewat link berikut: https://tinyurl.com/WA-BukuPPS

TAHAP PERSIAPAN

Ada hal-hal mendasar yang perlu kita ketahui sebelum memulai menata diri kita.

Pertama: Bersihkan jiwa dari noda dan pikiran-pikiran negatif

Ini hal yang paling penting. Sebelum Anda menata diri Anda, saya sangat menyarankan untuk membersihkan semua hal negatif dari pikiran Anda. Jangan sampai ada hal-hal yang mengganggu konsentrasi Anda dalam penataan diri. Jika kita tidak berhasil membersihkan jiwa dari kemaksiatan dan pikiran-pikiran negatif maka dipastikan Anda tidak punya kesiapan diri yang matang untuk ISTIQOMAH.

Hal-hal negatif ini termasuk rasa tidak percaya diri, merasa bukan siapa-siapa, dan menumbuhkan sikap bahwa saya bukan seorang juara.

TIPS: taubat, muhasabah, dan tingkatin amalan yauminya., juga hilangkan rasa minder dan tidak sanggup

Kedua: Punyai standar amalan yaumi

Sudah tahu kan jika para sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang paling dekat dengan Allah? Saya pribadi sangat meyakini bahwa kesuksesan seseorang berbanding lurus dengan usaha kerasnya juga ketaqwaannya kepada Allah. Catat ya: “Kesuksesan yang penuh keberkahan”. Ini sangat berbeda dengan kesuksesan tanpa kebekahan dari Allah. Banyak orang yang sukses tapi dia semakin jauh dari Allah dan semakin dekat dengan dunia. Menurut saya ini bukan kesuksesan yang penuh berkah.

Tengok firman Allah dalam Q.S. At-Thalaq ayat 2-3 dan Al-Anfal: 29

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya DIA akan mengadakan baginya jalan keluar (maksudnya dari kesulitan-kesulitan dunia dan akhirat), dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At-thalaq: 2-3)

“Hari orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya DIA akan memberikan kepada-Mu furqon (petunjuk/pertolongan) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Anda tentu ingin sukses!

sukses dunia akhirat kan? bukan hanya dunia yang Anda tuju. Maka mendekatlah kepada Allah. Sempurnakanlah ketaqwaan kita.

Salah satu sarana yang bisa kita ikhtiarkan agar semakin dekat dengan Allah adalah menjaga keistiqomahan amalan yaumiyah/harian kita.

Jika Anda ingin memulai manajemen waktu dengan baik, maka buatlah target amalan yaumiah Anda terlebih dahulu. Berikut contoh target amalan yaumiyah yang bisa anda implementasikan, silahkan sesuaikan dengan standard dan kemampuan anda:

(1) Tilawah 1 Juz 1 hari (30-45 menit)
(2) Duha minimal 3x sepekan (5 menit setiap kali sholat)
(3) Tahajjud minimal 5-7 kali sepekan (20-30 menit)
(4) Menjaga sholat 5 waktu (75 menit)
(5) Membaca riyadhus sholihin sebelum tidur (10-15 menit)

Saya sengaja menuliskan jumlah waktu yang kira-kira dihabiskan untuk menyelesaikan targetan amalan ini agar kita bisa memperkirakan pembagian waktu untuk yang lain. Jika kalian sudah memiliki targetan amalan yaumiyah ini maka jagalah. Karena sungguh, jika kita istiqomah menjalankan, justru amalan-amalan yang rutin inilah yang memberikan kita energi terbesar untuk berkarya.

Gak percaya? Coba deh!

Beasiswa6

Ketiga: Siapkan target “dunia” Anda

Kita semua punya mimpi bukan? cita-cita setinggi langit juga harapan yang menggunung. Namun percayalah, Anda tidak akan pernah bisa mewujudkannya jika hanya di angan-angan. Saya juga meyakini, bahwa kita butuh yang namanya “Desakan Internal” di dalam diri untuk mengejar mimpi kita.

Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan targetan dunia ini. Anda lebih tahu dari saya.

Yang menjadi poin paling penting di bagian ini adalah TARGETAN ini mampu MENGGERAKKAN kita. Ini yang paling penting. Biasanya mimpi hanya menjadi coretan di atas kertas atau catatan yang tersimpan di komputer Anda. Jika mimpi-mimpi tersebut belum mampu MENGGERAKKAN Anda, maka banyaklah belajar dari buku-buku biografi orang-orang sukses. Jika belum cukup, berteman baiklah dengan seseorang yang Anda pikir bisa menjadi inspirasi dalam mengejar mimpi-mimpinya. Jika belum berhasil juga, sebaiknya Anda gak usah hidup saja. Allah gak butuh muslim-muslim yang lemah. Islam butuh mereka yang bekerja keras untuk kontribusi dunia. Katanya Islam rahmatan lil alamin? gimana mau jadi pemimpin ummat kalo kita sendiripun ga bisa memimpin diri kita?

Please answer that question in your heart!

NFE7

Versi ebook (google play book) bisa langsung beli di sini: https://tinyurl.com/PPS-ebook

LET’S START IT

Jika persiapan diatas sudah matang mari kita mulai MENATA WAKTU kita.

PERTAMA: Create your own deep habits!

Deep habits adalah kebiasan-kebiasaan pendukung yang akan memudahkan manajemen waktu dan kerja/belajar kita. Hal-hal pendukung ini antara lain:

(1) Olahraga untuk kebugaran fisik
(2) Hiburan untuk kesehatan mental kita
(3) Menjaga gizi dan kualitas makanan kita
(4) Menjaga amalan harian untuk kesehatan ruhiyah kita

Kita mulai dulu dengan kebiasaan olahraga untuk kebugaran fisik. Saya akan share pengalaman saya.

Saya ingat sekali, di 1.5 tahun pertama menjalani S3, saya rutin berenang sebelum bekerja di office jam 10am 3-4 kali seminggu. Setelahnya saya selalu rutin main bukutangkis dan lari di taman hingga saat ini.

Bagaimana dengan hiburan?

Anda bisa memilih hiburan apapun, pengalaman saya adalah dengan menata waktu berikut:

Weekend (Sabtu dan Ahad) dipakai full untuk istrahat, kecuali ada agenda ke luar kota. Bagaimana dengan diluar weekend? Jika saya merasa pening dengan pekerjaan atau riset, maka saya membuat blok waktu bagi proses penataan waktu saya. Maksud dari blok waktu ini adalah saya menghitung batas waktu saya untuk bersantai selama weekdays (hari kerja).

Misal: Saya biasanya bekerja dari 9.30 – 12.30 am kemudian istrahat. Saya bisa mengambil jeda 30 menit atau 1 jam untuk sekedar duduk santai atau jalan-jalan disekitar kampus. Kebetulan, kampus Bristol University dekat dengan city center, jadi saya bisa keliling-keliling menikmati kota sambil menyegarkan pikiran. Waktu santai kita jangan lebih dari waktu yang sudah kita tentukan. Kalau lebih anda harus menggantinya, karena jatah weekdays ini hanya 5 kali seminggu. Setelahnya kita bisa liburan. Saya juga biasanya menghibur diri dengan menulis. Selain menyegarkan pikiran tentu saja jadi rekaman cerita buat anak-cucu saya kelak.
Jika masih sering “main-main” di weekdays, maka itu tandanya Anda belum berhasil menjalankan manajemen waktu Anda. Jika masih belum berhasil, ulangi lagi tahapnya dari TAHAP PERSIAPAN di atas.

Nah! sekarang bagaimana dengan masalah makanan?

Asupan gizi dan makanan ini perlu kita perhatikan. Anda bisa mencari informasinya di internet. Insya Allah banyak yang sudah membahas.

Berikutnya, masalah amalan harian justeru faktor yang sangat penting dari semua deep habits di atas. Kualitas ruhiyah kitalah yang akan menentukan kualitas kerja dan pemanfaatan waktu kita, ingat sekali kan hadits ke-12 dalam hadits arba’in berikut?

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi dan lainnya)

Selain itu, dalam hidup kita, apalagi bagi mereka yang beriman, banyak sekali kejadian-kejadian diluar perkiraan kita yang sangat mungkin terjadi. Terkadang hari-hari kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan, atau bahkan kita justeru sering mendapatkan kebaikan dari sumber yang tidak kita perkirakan sebelumnya. Peran Allah dalam mendesain hidup kita-lah yang menjadi kuncinya. Kalau Allah yang mengatur hidup kita, lalu kenapa kita harus jauh dari Sang Maha Pengatur? jika berani menantang Allah dengan meninggalkan-NYA, maka merugilah kita. Lebih sulit lagi kita untuk bangkit dan menata diri ketika terpuruk.

Jadi sudah jelas kan masalah aktivitas pendukung ini?

KEDUA: Jadwalkan waktu anda

Setelah melewati tahap pertama, maka silahkan menjadwalkan jadwal harian anda.

NFE9

HAL-HAL NON TEKNIS

Ada beberapa hal non teknis yang bisanya menjadi kendala untuk menata waktu kita. Catatan yang saya dapatkan dari pengalaman sendiri adalah berikut ini:

MALAS: Jangan DIPELIHARA. Setiap kali bangun dari tidur, udara selalu dingin, rasanya menghangatkan tubuh saya kembali dengan selimut adalah pilihan terbaik. Namun, Alhamdulillah, saya masih ingat, jika saya tidak bangun saya bisa TERANCAM tidak lulus PhD tepat waktu, saya bisa TERANCAM gagal menjadi lulusan Bristol University. Salah satu pendukung supaya GAK MALAS adalah dengan tidur yang cukup 6-8 jam per hari. Oh ya, saya bukan pengikut teori Kang Romi yang mengatakan bahwa cara manajemen waktu terbaik adalah “Kurangi tidurmu.. Kurangi tidurmu..”

JANGAN BEGADANG: Begadang berarti Anda melanggar kesepakatan waktu yang Anda buat. Saya justru belajar dari diri saya sendiri bahwa saya TIDAK BISA bekerja lebih dari 9 jam non stop. Otak maupun mata saya sudah tidak bisa berkonsentrasi penuh. Riset saya adalah riset pemodelan sehingga banyak berpikir dan simulasi di depan komputer. Saya pernah pulang hingga pukul 1 malam ketika belum menata waktu saya, namun akibatnya fatal. Saya jadi MALAS di hari berikutnya. Semenjak memulai kebiasaan ini, tubuh saya lebih sehat, jarang sakit, pikiran fresh, target riset bisa diselesaikan dengan luar biasa. Bekerja hingga pukul 10 pm juga tidak baik bagi saya, saya pernah melakukannya dan tidak fit ketika esok harinya.

NGANTUK ketika bekerja: Saya juga beberapa kali merasakannya Tips: Anda bisa minum kopi, tapi jangan keseringan ya! atau minum multi-vitamin. Sekali lagi jangan sering-sering.

TIAP ORANG BEDA-BEDA: Setiap orang tentu punya karakter yang beda-beda, termasuk load pekerjaan yang beda-beda, namun pakailah standar yang sama dengan saya yaitu:

Tidur cukup (7-8 jam)
Olahraga cukup (minimal 3 kali seminggu)
Hiburan yang cukup
Asupan makanan yang baik
dan tentu saja AMALAN YAUMI yang berkualitas.
Anda bisa menyesuaikan dengan keadaan anda.

MENJADI MORNING PERSON: Saya belajar banyak dari orang UK, mereka adalah orang-orang yang punya life namun hasil kerja mereka efektif dan efisien. Saya pernah belajar di salah satu negara Asia Timur dan sekarang berada di Eropa. terus terang saya lebih menyukai gaya bekerja orang UK dibanding orang-orang Asia Timur. Mereka sangat family oriented, punya life, dan bisa bekerja dengan efisien.

Keep a good record: Di sticky note komputer saya, lengkap record perkerjaan, amalan yaumiyah, dsb day by day. Ini sangat bermanfaat untuk melihat progress pekerjaan riset saya juga waktu yang sudah saya habiskan untuk belajar. You have to create it!

Demikian cerita panjang soal manajemen waktu. Di share ke sahabat maupun teman dekat ya, pasti banyak manfaatnya

Salam musim gugur dari Bristol

———————-

[1] Bantuan biaya perjalanan.

[2] Abstract terbaik. Yaitu penghargaan yang diberikan kepada para peserta seminar yang mempunya kualitas artikel yang bagus.

NFE10

SEBAB SEORANG ISTRI TIDAK DICIPTAKAN UNTUK URUSAN DAPUR, SUMUR & KASUR SAJA

Ditulis oleh Fissilmi Hamida (@fissimihamida) penulis buku Notes From England

 

Ini kisahku, ketika bercakap-cakap dengan seorang lelaki atheis saat kami tengah memasak bersama di suatu pagi buta sebelum Subuh tiba, tepat saat hari Idul Adha. Sebuah percakapan tentang apa definisi “good husband” menurut dirinya, sebuah pemikiran dari seorang atheis yang membuatku tak bisa berkata apa-apa.

Kita bisa memetik pelajaran dari siapa saja, kan?

Saat itu adalah hari Idul Adha. Samar Samar kudengar suara seseorang sedang memasak di dapur yang terletak di ujung. Meski kamarku berada di ujung yang lain, tetap saja aku bisa mendengar saat piring bersentuhan dengan piring yang lain sehingga menghasilkan bunyi ‘cring‘.

Saat itu masih pukul 4.30 pagi. Masih jauh dari Subuh karena masa itu, Subuh disini hampir pukul 6 pagi. Tapi sudah ada yang sibuk di dapur? Penasaran, aku segera menuju kesana. Hmmmmm… penasaran hanya bumbu saja, karena aku juga memang akan ke dapur untuk memasak. Tentu saja aku harus memasak pagi-pagi sebab aku tidak ingin terlambat sholat Eid yang baru akan pertama kali aku lakukan di negeri Ratu Elizabeth ini.

Bunga

“Hi, morning,” sapa lelaki asal Tiongkok bertubuh kekar itu sembari jemarinya sigap memotong kentang.
“Morning,” jawabku sambil meraih pintu kulkas.
“Where is your wife?” tanyaku.

Lelaki itu adalah flatmate ku. Kami tinggal di flat yang sama, di Chantry Court 407 lantai 4, tapi beda kamar. Ia tinggal sekamar dengan istrinya. Untuk beberapa minggu, ia memang menemani istrinya disini sebelum kembali bertugas di Dubai.
“She is still sleeping,” (dia masih tidur), jawabnya. Kentang yang tadi dipotongnya, sekarang sudah berpindah ke atas wajan.
“Why doesn’t she cook for you?” (Kenapa dia nggak masak buat kamu? tanyaku.

Jujur, aku penasaran. Karena aku belum melihat istrinya ke dapur untuk memasak. Sesekali memang istrinya menemani di dapur. Tapi hanya duduk menemani, bukan untuk memasak.
“She can’t cook. So, it’s my responsibility as her husband to serve her,” (dia tidak bisa memasak. Jadi, tanggung jawabku sebagai suaminya untuk melayaninya), jawabnya, membuatku sedikit tersentak.

Karena istrinya tidak bisa memasak, lelaki itu menganggap bahwa dia sebagai suami yang harus bertanggung jawab melayani istrinya. Jawaban yang menarik dari seorang atheis. Aku jadi tertarik melanjutkan perbincangan dengannya, melupakan sayuranku yang baru separuh aku potong.

“Wow, nice,” ucapku. “So, you don’t think that a wife must be able to cook?” (jadi menurutmu, seorang istri nggak wajib untuk bisa masak?, sambungku lagi.

Lagi-lagi ia tersenyum. Ia memang murah senyum. Setelah memasukkan daging ke dalam wajan, ia berbalik arah menghadapku.

“Yeah, I never think that way. Who says that a wife must be able to cook?” (Memangnya siapa yang mewajibkan seorang istri harus bisa memasak?) Ia berbalik arah, menambahkan air pada masakannya.

NFE5

“But many people think that way, declaring that cooking is wife’s responsibility. What do you think.” (tapi banyak yang kekeuh kalau memasak itu ya tugas istri.) kataku.

“Yeah, they do, but I don’t.” (Aku nggak berpikir kayak mereka). Ia memberikan sedikit merica bubuk pada masakannya.
“In my marriage principal, there is no exact separation of duty like a wife must do bla bla bla and a husband must do bla bla bla. It’s more about helping each other, sharing the duty together,“ (Dalam prinsip pernikahanku, nggak ada pembagian pasti tentang istri harus begini, suami harus begitu. Menikah itu menurutku tentang bagaimana kita saling membantu dan saling memikul tanggung jawab bersama). jawabnya, kembali membuatku tersenyum.

Interesting!

“Can’t agree more about that. But too bad that many people are still standing on that old belief,” (Setuju. Sayangnya, masih saja ada orang yang berpikiran begitu), timpalku.

“Yeah, it happened in my life too. Some people questioned my decision to marry a woman who can’t do housewife jobs. But the ability to do a housewife jobs is not a basic principal for marriage life,” (Aku juga mengalaminya, kok. Banyak yang bertanya-tanya kenapa aku mau menikahi perempuan yang nggak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Tapi, kemampuan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga bukanlah prinsip dasar sebuah pernikahan), katanya.

“And, I marry her the way she is. Not because she can do something.” (Dan aku menikahinya karena apa adanya dia, bukan karena dia bisa atau tidak bisa melakukan sesuatu). Lagi-lagi aku tidak bisa bilang untuk tidak setuju.

“Absolutely,” kataku sambil melanjutkan pekerjaanku : memotong-motong sayuran.

“Furthermore, she is here to study. So, how can I demand her to serve me?” (Apalagi dia disini untuk kuliah. Bagaimana mungkin aku tega menuntutnya untuk melayaniku?) Ia mengecilkan kompor.

Ya Tuhan. Bikin baper nggak, sih? Benar-benar suami yang baik.

“So, you don’t mind anything about this?” (Jadi kamu sama sekali nggak masalah dengan semua ini?) Sekadar memastikan. Siapa tahu lelaki itu pernah berada pada satu titik dimana ia merasa keberatan dengan kehidupan pernikahan yang dijalaninya.

“I don’t mind anything. This is one of my way to love her,” (Sama sekali nggak masalah. Ini justru salah satu caraku untuk mencintainya), katanya.

Sumpah. Ini manis sekali!

“She is lucky to have you,” (Dia beruntung memilikimu), kataku. Dia kembali tersenyum.

“And so am I. I am lucky to have her. She can accept all weaknesses I have, so why I shouldn’t accept her weakness too?” (Aku juga beruntung memilikinya. Kalau dia saja bisa menerimaku dengan segala kekuranganku, kenapa aku enggak?

“Anyway, you are Muslim, aren’t you? “ (ngomong ngomong, kamu muslim, kan?) tanyanya, memecahkan lamunanku yang tetiba teringat akan suamiku tercinta.

“Yes, I am. Why?” tanyaku.

“Is it okay for you to cook with me? I heard that Muslims are forbidden to eat pork but now I am cooking pork,” (Kamu nggak papa masak bareng aku? Setahuku muslim nggak boleh makan babi, dan ini aku masak babi). katanya. Rupanya daging yang dimasaknya adalah daging babi.

“It’s okay. As long as we dont cook in the same pan and we don’t wash it with the same sponge, it’s okay. No need to worry,” (Nggak apa apa. Selama kita nggak masak pakai wajan yang sama dan cuci piring pakai spons yang sama, nggak masalah), jelasku.

Kami memang memasak di dapur yang sama, tapi lelaki itu sangat mengerti batasan. Ia sama sekali tidak pernah menyentuh peralatan masakku, termasuk juga peralatan makan. Ia juga memakai spons yang berbeda untuk mencuci peralatan dapurnya.

“Hey, I am done. I have to wake her up to have breakfast together,” (Eh, aku udah selesai. Aku mau membangunkan istriku dulu untuk sarapan bersama), katanya, berpamitan untuk membangunkan istrinya untuk mengajaknya sarapan bersama.

Sungguh, masih lekat dalam ingatan ketika aku begitu meradang melihat banyak lelaki dan para suami di timeline facebook-ku ramai-ramai men-share sebuah meme dengan foto Menteri Susi yang diberi caption :

“YANG ISTRINYA NGGAK BISA MASAK, TENGGELAMKAN!” atau “PUNYA ISTRI NGGAK BISA MASAK? TENGGELAMKAN!

Pernah lihat, kan meme menyebalkan ini?
Duhai, sayang. Andai semua lelaki berpikiran seperti ini, maka meme menyebalkan untuk “menenggelamkan” istri yang tidak bisa memasak itu tidak akan pernah ada.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, agar tak semena-mena “menenggelamkan” istri hanya karena ia tidak bisa memasak atau kurang terampil melakukan pekerjaan rumah tangga, sebab seorang istri tidak diciptakan Tuhan untuk urusan dapur, sumur, dan kasur belaka.

NFE6

NFE8

Ebook: https://tinyurl.com/PPS-ebook

Selain itu,
“…. sebab sejatinya, menikah itu tentang bagaimana saling membantu dan saling memikul tanggung jawab bersama.”
Dan dari pada saling menenggelamkan, bukankah lebih baik berlayar bersama, saling bahu membahu menjalankan biduk rumah tangga? 😊

Masa itu, setelah lelaki berpostur tinggi itu kembali ke kamarnya untuk membangunkan istri tercintanya, aku kembali melanjutkan pekerjaanku, sembari membayangkan wajah lelaki tercintaku, dengan segala cinta tak bersyaratnya untukku.
Terimakasih, Tuhan, telah Kau ciptakan dia untukku.

Pertamakali ditulis saat itu,
Di Denmark Street, Bristol
25 September 00.30 UK time.
11° C
____________________________________________
Kalian tahu. Selepas suaminya kembali ke Dubai, sang istri berusaha keras untuk mencoba memasak sendiri daripada terus menerus membeli makanan siap saji. “Aku ingin memberi kejutan untuk suamiku saat aku bertemu dengannya lagi nanti,” begitu katanya. Aku bercanda meledeknya. Memegang pisau saja ia kaku sekali. “Lihat saja. Aku pasti bisa jadi sehebat chef ternama!”. Lalu kami tertawa bersama.

Aku tersenyum melihatnya begitu bersemangat memporak-porandakan dapur dengan contekan di sebelahnya, entah dari buku resep, atau contekan dari smartphone-nya. Benar, kami memang sering memasak bersama. Kami memang dekat dan akrab. Sebab penghuni kamar lainnya di flat kami adalah berjenis kelamin pria. 6 bulan berlalu. Saatnya sosok berambut panjang hitam dan lurus yang tak pernah mau berpakaian pendek saat ada lelaki di dapur itu harus kembali ke negaranya. Aku sedih. Namun aku juga bangga padanya. Ia yang dulu tak pernah menyentuh dapur seumur hidupnya, kini berhasil menaklukkannya, meski mungkin memang belum sehebat beberapa yang lainnya.

Tak bisa kubayangkan betapa manisnya saat ia dan suaminya kembali bersua, dan suaminya mendapatinya telah mampu menyajikan masakan lezat yang begitu menggugah selera. Yah… meski aku tak pernah berkesempatan mencicipi masakannya lantaran ia seringkali memasak babi & menggunakan minyak babi di masakannya 

Sumber gambar: ummi online.

——–

Ayo pesan buku yang ditulis oleh penulis berjudul NOTES FROM ENGLAND.

NFE7

Paket 1

NFE9

Ebook: https://tinyurl.com/NFE-ebook

NFE10

INFORMASI LENGKAP BEASISWA S2 & S3 DI SELURUH EROPA

promo11

Ayo ikuti kisah keluarga kami di Inggris dalam buku PhD Parents’ Stories: Menggapai Mimpi Bersama Pasangan Hidup. Dengan 60rb (termasuk ongkir dalam pulau Jawa) anda bisa mendapatkan bonus postcard Eropa dan buku ini. Pesan sekarang di sini: https://tinyurl.com/EmakPhD

INFO LENGKAP buku PhD Parents’ Stories ada di: https://ariomuhammad.com/

Berikut saya rangkumkan informasi lengkap beasiswa S2 dan S3 di Benua Eropa. Silahkan klik di link yang saya tautkan pada nama-nama tiap beasiswa. Ayo kencangkan semangatmu dan taklukan Eropa dengan kegigihanmu.

BEASISWA S2

  •  Untuk Studi Dimanapun di Eropa

Beasiswa Erasmus Mundus: adalah bantuan beasiswa dari European Comission kepada seluruh mahasiswa di berbagai belahan dunia untuk melanjutkan studi S2 di beberapa negara dan Institusi.

Beasiswa GoEuro European Study Abroad: Adalah beasiswa sebesar 2,000 Euro untuk 10 orang mahasiswa yang diterima di Universitas di Eropa.

  • Austria

Beasiswa pemerintah Austria: adalah bantuan beasiswa per bulan sebanyak 1,050 Euro selama 4 bulan bagi mahasiswa internasional di seluruh level.

  • Belgia

Beasiswa CIUF-CUD untuk negara berkembang: adalah bantuan beasiswa atau funding untuk studi S2 atau riset level S2 di Belgia. Continue reading

Dokumen/Syarat Apa Saja Untuk Masuk 20 Universitas Terbaik Dunia?


promo11

Ayo ikuti kisah keluarga kami di Inggris dalam buku PhD Parents’ Stories: Menggapai Mimpi Bersama Pasangan Hidup. Dengan 60rb (termasuk ongkir dalam pulau Jawa) anda bisa mendapatkan bonus postcard Eropa dan buku ini. Pesan sekarang di sini: https://tinyurl.com/EmakPhD

INFO LENGKAP buku PhD Parents’ Stories ada di: https://ariomuhammad.com/

Bismillah…

Tulisan yang bertajuk (Q&A Beasiswa) adalah semua kumpulan tulisan terkait pertanyaan mengenai beasiswa di semua jenjang. Semoga memudahkan! saya merangkum beberapa pertanyaan yang hampir sama agar lebih mudah kepada para penanya untuk Saya beri jawaban.

DIKTI bekerjasama dengan LPDP baru saja melaunching 50 Universitas terbaik dunia untuk dijadikan dasar seleski Beasiswa Presiden RI (BPRI) atau Presidentional Scholarships. Saya kemudian mencoba menelusuri satu per satu persyaratan di kampus-kampus tersebut. Saat ini saya baru memposting 20 kampus terbaik dunia. Insya Allah akan menyusul yang lainnya.

Catatan penting:

  1. Bisa jadi terjadi kesalahan dalam penulisan persyaratan berikut. Human error, mohon dimaklumi
  2. Saya tidak terlalu punya informasi soal memulai studi di Jepang, sehingga beberapa kampus Informasinya tidak terlalu detail. Mohon koreksi dari pembaca.

SEMOGA BERMANFAAT!

Tulisan lain terkait aplikasi beasiswa S3: http://almuhandis.wordpress.com/2014/03/25/journey-to-phd-4/ Continue reading