Tips parenting ala Dr. Angela Duckworth: Membangun semangat kerja keras di keluarga

Bismillah…

Tulisan ini adalah bagin dari Self Management Project yang saya dedikasikan untuk membahas masalah manajemen diri. List artikelnya bisa di lihat di sini.

Bagi anda yang belum familiar dengan nama Dr. Angela Duckworth, maka perkenankan saya memberikan sedikit informasi tentangnya. Angela adalah doktor lulusan Psikologi dari University of Pennsylvania, Amerika dan merupakan alumni S1 bidang Neurobiology dari Harvard University dan S2 Neuroscience dari Oxford University. Rasanya latar belakang pendidikan seorang Angela sudah menjelaskan “kehebatan”nya.

Tapi ada yang lebih penting dari sekedar deretan pengalaman pendidikan di kampus-kampus terbaik di dunia yang dimiliki Angela. Adalah teorinya tentang GRIT-lah yang membuat namanya melejit dalam satu tahun terakhir ini. Angela sudah menekuni riset psikologi tentang GRIT lebih dari satu dekade lamanya dan hasilnya, Angela berhasil menelurkan salah satu buku yang fenomenal dan kemudian menjadi New York Times Best Seller.

Jika kita terjemahkan dalam bahasa indonesia, GRIT ini seperti reaksi yang kita lakukan ketika sedang menahan beban yang sangat berat lewat gemeretak gigi kita karena menahan sakit yang teramat sangat, namun kita terus bertahan melakukannya. Dalam bahasa Inggris menjadi sederhana yaitu GRIT namun jika diterjemahkan, Angela mengartikannya sebagai kekuatan gabungan antara passion dan kemampuan untuk berusaha menghadapi kesulitan dalam waktu yang lama (perseverance).

Menurut Angela, kesuksesan TIDAK ditentukan dengan BAKAT LAHIR yang anda bawa. Tetapi ditentukan level kualitas GRIT anda.

Bagi saya, teori ini seperti penyempurna konsep parenting yang selama ini saya dan Istri pahami. Bahwa modal IQ yang tinggi tidaklah cukup. Modal bakat alami dari kecil, juga tidaklah cukup. Yang membuat seseorang sukses adalah attitude-nya. Dan GRIT ini adalah salah satu attitude yang bisa menerjemahkan pemahaman kami selama ini. Saya beberapa kali membaca tips parenting ala Ayah Edy (entah itu dari sumber aslinya atau tidak) tentang bagaimana anak dibiarkan bermain sepuasnya dan mengembangkan kreativitas mereka sebebas-bebasnya. Bahkan disarankan untuk tidak membatasi waktu tidur mereka karena mereka sedang “berkarya” saat itu. Banyak teori-teori parenting yang kami baca justru tidak dilampirkan dengan bukti-bukti riset ilmiah yang mendukung. Sebagai orang tua yang sama-sama memahami makna riset ketika studi S3, teori-teori parenting yang banyak berseliweran masih belum memuaskan pemahaman kami. Angela Duckwort, on the other hand, menggabungkan semua hasil risetnya dengan sistem pendidikan keluarga yang sangat komprehensif. Tentu saja selalu ada kekurangan atau pros and cons-nya, tapi setidaknya kita punya cukup dasar yang kuat untuk mendukung apa yang kita terapkan di dalam keluarga.

Grit

Yang akan saya share kali ini adalah salah satu tips parenting Angela yang telah diterapkan untuk keluarganya. Tips parenting ini adalah untuk menumbuhkan karakter GRIT di dalam keluarganya. Jadi bukan hanya untuk dua anak perempuannya saja, tetapi juga membantu Angela dan suaminya untuk bisa berkarir dengan sukses dalam dunia yang mereka geluti. Mereka menyebutnya sebagai the HARD THING RULE – aturan yang SULIT.

Rule pertama: SEMUA ANGGOTA KELUARGA, termasuk ayah dan ibu harus memiliki satu atau lebih aktivitas yang SULIT (hard thing).

Hard thing yang dimaksud oleh Angela adalah aktivitas rutin (bisa harian) yang membutuhkan DELIBERATE PRACTICE. Penjelasan sederhana tentang deliberate practice ini adalah aktivitas rutin yang dilakukan dengan serius, penuh konsentrasi, juga dengan evaluasi, dan perbaikan terus menerus sepanjang waktu. Contoh real di keluarga Angela, suaminya menjalani aktivitas sebagai developer real estate dengan serius, Angela sendiri mengakatan hard thing-nya yaitu menjalani riset dan tugasnya sebagai dosen juga melakukan Yoga rutin setiap pekan. Bagi dua anaknya, mereka juga memiliki hard thing to do. Anak pertamanya rutin latihan Violin sedangkan anak bungsunya rutin latihan balet.

Rule kedua: You can quit, kamu bisa berhenti dari hard thing tersebut, tetapi berhentinya setelah berakhir satu session. Umumnya Angela menyarankan untuk “mendorong” anak anda agar menggeluti hard thing yang mereka ikuti hingga at least dalam waktu 1 tahun. Jangan biarkan mereka mudah mengganti aktivitas satu ke aktivitas yang lain dengan mudah (ada alasan ilmiah dibaliknya).

Rule ketiga: Anda sendirilah yang menentukan Hard thing yang kalian lakukan. Jadi, anak kita sendiri yang menentukan aktivitas yang hendak mereka kerjakan. Ini untuk menjaga ketertarikan dan passion mereka agar terus berkembang dan bertahan. Selain itu, alasan praktis dan sederhananya yaitu siapapun kita, akan sulit memulai sesuatu jika tidak ada ketertarikan awal untuk memulainya. Bagi anak anda yang masih kecil, jika ingin melatih mereka dengan hal yang lebih serius, Prof. Ericsson menyarankan untuk menunggu hingga usia mereka 6 tahun. Jika masih kecil, ajarilah mereka untuk belajar menyelesaikan masalah mereka secara mandiri dan bangun SIKAP PANTANG MENYERAH. Jika anda sering tidak tahan melihat anak anda kesulitan mengerjakan sesuatu lalu dengan mudah membantunya (contoh memakai baju, sikat gigi, dsb), maka anda sedang mengajarinya untuk menuntaskan tugas tertentu dengan mudah. Selain itu, anak anda juga bisa dilibatkan dengan les-les ringan bagi anak-anak yang menyenangkan. Bisa berenang bersama, melukis, dansa, dan sejenisnya.

Bagi kami sekeluarga, saya dan istri memiliki aktivitas hard thing yang sedang kami jalani: studi S3. Ini butuh deliberate practice yang tidak mudah. DeLiang menjadi saksi melihat ayahnya bekerja keras hampir setiap hari dengan tumpukan jurnal, berfikir, menulis, hingga membaca. Dialam bawah sadar anak kita, kita sedang menumbuhkan pemahaman bahwa, if you want to success, you have to work hard. Saya jadi teringat dengan dialog DeLiang beberapa waktu lalu.

“Kamu kalau ngaku jadi anaknya abi pas kapan?” tanyaku saat sedang bercanda dengannya.

“Saat sedang belajar. Itu aku anaknya abi.” Jawabnya polos dengan senyum manis dibibirnya.

Selamat merenung dan mencoba!

sumber gambar dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s