Begini Cerita Ibu Hamil dan Istri Yang Sekolah S3

Bismillah…
 
Nemenin ibu negara Ratih Nur yang studi S3 sama-sama nih lebih nerve wrecking dari jalanin PhD sendiri. Status sebagai Ibu dan Istri bukanlah pekerjaan mudah ketika harus studi S3 yang membutuhkan tingkat konsentrasi belajar yang tinggi. Ditambah tahun pertama ini menjalani kehamilan ke-2nya di luar negeri. Fix, Ibu negara ini gak pernah ngerasain terpenuhi ngidamnya selama masa awal-awal hamil karena DeLiang juga dulu made in Taiwan dan lahirannya juga di sana. Satu minggu setelah kelahiran DeLiang istri melewati sidang Thesis S2nya dan lulus tanpa revisi dari National Taiwan Univ of Science and Tech (NTUST). Waktu ditanya kenapa lulus tanpa revisi, katanya: “Karena penguji kasihan ada ibu hamil sibuk sekolah.” hahahaha..
 
Kehamilan ke-2 ini rasanya tidak sekompromise DeLiang karena suka protes kalau ibunya pusing baca paper. 😀
 
Untungnya lumayan tahan banting. Katanya saya suami yang punya tingkat tega tinggi sekali, jadi gak penting juga nuntut-nuntutan. hahaha.. Kami bercanda begini sambil ngetawain diri kami sendiri.
FotoBertiga1
 
Melewati kehamilannya, Istri masih bisa travelling beberapa kali ke luar kota untuk menuntaskan amanahnya. Sesuatu yang amat sangat saya kagumi darinya. Mungkin jika saya di posisinya tidak akan melakukan hal yang sama. Terkadang keram perut membersamainya selama perjalanan panjang ke Oxford, London, Birmingham, hingga Nottingham. Namun istri tetap tenang melewatinya. Perjalanan-perjalanan itu bisa memakan waktu hingga 10 jam PP. Saya membiarkannya agar anak kami juga terdidik kuat ketika diberi amanah ketika besar nanti.

 
Dan hari ini, melihat dia bisa submit draft paper conference pertama dan memproduksi hasil riset yang cukup baik setelah 8-9 bulan studi S3nya cukup membuat saya lega. Draft report sidang review tahun pertamanya juga sudah disiapkan dengan baik. Tugas saya mem-proof read laporannya sambil memberikan masukan apa yang perlu dilakukannya. Semua dikerjakan selama melewati masa-masa mual 1.5 bulan dengan sabar, termasuk hamil yang selalu check up tanpa ditemani suami karena saya harus bersama DeLiang ke sekolah dan sibuk menuntaskan studi S3 saya tahun ini.
 
“Merasa belum banyak yang dilakukan” adalah kalimat pertamanya ketika saya mengatakan “You are doing fine”. Kata-kata ini tentu bukan semacam pemanis bibir saja karena supervisornya yang super baik itupun mengatakan hal yang sama.
 
Darinya saya menemukan kenapa ada orang yang bisa menuntaskan pekerjaan mereka meskipun sibuk. Kekuatannya ada pada KECERDASAN MENENTUKAN PRIORITAS, TIME MANAGEMENT YANG BAIK, dan tentu saja TIDAK MUDAH TERDISTRAKSI.
 
Masih 3 tahun lagi perjalanannya. Waktu yang tak singkat namun jika tidak diperhatikan dengan baik, akan berlalu dengan begitu cepat. Terus terang, saya excited menemaninya melewati studi S3 yang amat sangat tidak mudah (yang sedang dan pernah menjalaninya pasti mengetahui). Dan selama kita berikhtiar dengan baik, Allah akan memberikan hasil yang terbaik juga buat kita.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s