Serpihan Inpirasi – Yusuf, Sang Muallaf

Bismillah…

Aku tergesa-gesa menuju ke dalam masjid Taipei Grand Mosque karena mengejar waktu setelah keluar dari kelas reliability analysis yang jadwalnya sangat berdempetan dengan waktu sholat Jum’at. Namun, saat hendak mengunci sepeda, pandanganku seketika tertuju dengan seorang pemuda Taiwan berperawakan tinggi yang sedang bergurau dengan teman-teman dari Timur Tengah. Tanpa sungkan, aku menyapanya.

“Assalamu’alaikum, I am Ario[1]

“Waalaikumsalam, I am Yusuf[2]Jawabnya

 “I am from Indonesia, and now I am studying at NTUST, are you a student here?[3]Aku memulai memperkenalkan diriku.

“Oh.. Yes, I am a student. I study at National Cheng Chi University (NCCU), in international relation department, about 30 minutes from here.[4] Aku kemudian baru tahu, ia adalah seorang mahasiswa S1 NCCU jurusan Hubungan Internasional (HI). Saat itu, kami tidak berbincang banyak karena memang waktu sholat jum’at yang sudah semakin dekat. Rasa penasaranku sebagian besar disebabkan karena mendengar kefasihannya berbahasa Arab bersama teman-teman timur tengah.

COver3

Pada bulan Oktober 2010, aku berkesempatan bertemu lagi dengannya di International Cultural Diaologue yang tema utamanya untuk memperkenalkan islam. Event ini dihadiri oleh para pemuda non muslim dari berbagai negara. Aku menjadi salah satu moderator di acara tersebut dan grup diskusi yang ku pimpin sempat dikunjungi olehnya. Dari pertemuan inilah, aku mengetahui bahwa ia kenal dekat dengan Prof. Nabil, seorang profesor muslim asli Taiwan yang cukup dekat denganku karena sering berkorespondensi terkait agenda organisasi kemahasiswaan muslim yang sering kami buat.

Suatu waktu di akhir tahun 2010, aku berkesempatan mengunjungi Prof. Nabil yang merupakan seorang profesor di bidang kajian Timur Tengah NCCU. Saat itulah aku berdikusi lebih akrab lagi dengan Yusuf setelah pertemuan kami yang pertama di Masjid Besar.

“I converted to Islam 2 years ago.[5] Kata Yusuf membuka pembicaraan di warung makan vegetarian yang terletak di depan kampus NCCU.

“Aku pergi ke Suriah untuk belajar bahasa Arab 2 tahun karena memang aku tertarik dengan bidang diplomasi. Aku juga tertarik dengan kajian Timur Tengah, jadilah aku berkunjung ke Suriah untuk belajar bahasa Arab dan ingin tahu lebih banyak tentang kondisi di sana.” Lanjut Yusuf, memulai kisah bagaimana hingga ia bisa masuk ke dalam islam.

“Orang pertama yang mengajarkanku bahasa Arab adalah orang Indonesia. Yang menarik adalah, kitab yang di pakai untuk mengajariku bahasa Arab adalah Al Qur’an.” Tambahnya. Aku cukup kaget mendengarnya.

“Di sanalah pertama kali aku mengenal islam dengan lebih mendalam. Setiap kali ada masalah-masalah yang di bahas di dalam Al Qur’an, membuatku fokus kepada pembahasan materi yang ada di dalamnya. Kandungannya yang sangat komprehensif memang membuatku begitu penasaran untuk mempelajarinya.” Kata Yusuf sembari mengambil jeda ketika menikmati menu vegetarian berupa sayur sawi dan beberapa potong tahu yang terletak di sampingnya. Aku sendiri masih melahap makananku sembari dengan serius mendengarkannya. Kadang-kadang aku memasang wajah heran dan kagum dengan ceritanya.

“Aku berangkat ke sana bersama seorang teman perempuanku. Sepertinya suatu waktu aku bisa mengenalkannya kepadamu. Ia terlebih dulu masuk islam, tetapi alasannya agak berbeda denganku.” Lanjut Yusuf

“Maksudmu?” Tanyaku penasaran.

MasjidKaohsiung

Salah satu sudut Masjid Kaohsiung – Taiwan

“Dia masuk Islam karena jiwa dan hatinya bergetar sehari sebelumnya. Dia tidak bisa tidur hingga membaca kalimat-kalimat di dalam Al Qur’an. Dia bermimpi melihat cahaya yang masuk ke dalam hatinya hingga ketika bangun tubuhnya menggigil dan baru tenang ketika bersama Al Qur’an. Besoknya, dia meminta bantuan orang Indonesia untuk mengislamkannya.” Lanjut Yusuf.

“Lalu apa yang berbeda denganmu.” Aku masih penasaran hingga memotong bicaranya. Makan siangku hari itu tersisihkan karena mendengar ceritanya yang menarik.

“Aku masuk islam bukan seperti dia. Aku tidak mengalami kejadian-kejadian aneh dan menarik sebelum mengucapkan 2 kalimat syahadat. Aku tidak menggigil ketakutan lalu tenang dengan Al-Qur’an atau mendapatkan mimpi buruk sebelumnya. Aku masuk islam, karena islam menurutku sangat rasional. Semua isi kandungannya yang kupelajari selama belajar bahasa Arab menggunakan Al-Qur’an di Suriah membuatku menyadari bahwa agama islam adalah agama yang paling benar. Setiap kali berdikusi tentang kandungannya, aku tidak memiliki sanggahan yang lebih rasional lagi untuk membantahnya” Tambahnya.

Aku terkesima sekaligus malu mendengarnya. Bayangkan saja dia jauh lebih fasih berbahasa Arab di banding berbahasa inggris. Keinginannya untuk belajar bahasa Arab sangat tinggi sedangkan aku sendiri yang sudah berislam semenjak kecil, bahkan tidak bisa berbahasa Arab sama sekali. Terkadang selama berdiskusi denganku, jika ada kata-kata yang tidak bisa ia terjemahkan dalam bahasa Inggris, ia katakan di dalam bahasa Arab.

Aku semakin kagum dengan kisahnya yang luar biasa. Dia tidak masuk islam karena banyaknya kejadian hebat yang menghantamnya. Dia justru masuk islam atas kesadaran yang sempurna, dengan sebuah pertimbangan yang memakai akal sehat. Tidak dalam paksaan, tidak karena tuntutan, tidak karena kondisi yang menekan, tapi karena akal sehatnya menyadari bahwa Islam itu begitu sempurna dan benar adanya.

“I believe that Islam is the right religion. Simply because I’m amazed with the content of Qur’an not because of other reasons. The content of Qur’an is just really great.[6] Sahut Yusuf sembari menghabiskan sisa nasi di piringnya.

“Setelah kembali dari Suriah, aku jadi jijik melihat babi. Aku bahkan ingin muntah setiap kali melihat keluarga atau temanku memakannya. Padahal sebelumnya aku paling suka dengan daging babi.” Lanjut Yusuf mengisahkan kepulangannya dari Suriah.

“Bagaimana dengan kebiasaan yang lain?” Tanyaku lagi

“Untuk minum bir, aku mencoba menghindar dari teman-temanku untuk tidak berada dalam kondisi dimana aku harus meminumnya. Aku juga menjelaskan kepada mereka bahwa saat ini, aku sudah masuk islam.” Jawabnya

“Apakah mereka mendukungmu? Lalu bagaimana dengan keluarga besarmu?” Aku kembali mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaan. Ini sebuah momen langka yang tak bisa aku dapatkan dimana saja.

“Teman-temanku ada yang mencemoohku dan menganggap aku gila karena mengikuti agama teroris seperti yang media beritakan. Ada juga dari mereka yang mendukung. Keluarga besarku sendiri, terutama ayah dan ibuku sangatlah demokratis, hingga membiarkan anaknya memilih jalan hidup mereka sendiri. Tidak ada paksaan.” Lanjut Yusuf. Aku kemudian baru mengetahui kalau ayah dan ibunya adalah seorang profesor di Taichung. Aku sempat bertemu keduanya di stasiun kereta Hsincu setelah berakhirnya acara International Cultural Dialogue ketika aku hendak kembali ke Taipei.

“But It’s very hard to do the subuh pray. I can not wake up at that time.[7] Tutupnya dengan senyum mengembang sembari membereskan makannya. Aku sendiri masih tersisa beberapa potong tahu dan sayuran yang menjadi menuku hari itu.

“Aku bisa membangunkanmu via telepon.” Kucoba menawarkan bantuan kepadanya.

“No. You do not need to do that. All of my friends from middle east calls me when the subuh time is coming. But I still can not wake up.[8] Kali ini dia menertawai dirinya sendiri. Aku hanya membalasnya dengan senyum.

Percakapan kamipun berakhir dengan berakhirnya makanan yang ada di piringku. Aku kembali menyegat bus menuju Gongguan sambil di temani oleh Yusuf. Sungguh sebuah kisah yang menarik dan menjadi bahan perenungan yang luar biasa buatku.

***

[1] Assalamu’alaikum, aku Ario

[2] Wa’alaikumsalam, aku Yusuf

[3] Aku dari Indonesia dan saat ini sedang studi di NTUST, apakah kamu mahasiswa di sini?

[4] Ya, aku mahasiswa di sini. Aku belajar di NCCU jurusan hubungan internasional, 30 menit dari sini.

[5] Aku masuk islam 2 tahun yang lalu

[6] Aku percaya bahwa islam adalah agama yang benar. Hanya karena aku merasa kagum dengan kandungan AL Qur’an bukan karena alasan lainnya. Kandungan Al-Qur’an sangatlah luar biasa.

[7] Tapi sangatlah sulit mengerjalan sholat subuh. Aku tidak bisa bangun di waktu tersebut

[8] Tidak. Kamu tidak perlu melakukannya. Semua temanku dari Timur Tengah telah menelponku ketika waktu subuh tiba, tetapi aku masih tidak bisa bangun di waktu tersebut

Buku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s