Journey to PhD (43) – ‘Sengsara’ membawa perubahan

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya juga termasuk dalam Self Monagement Writing project.

“Kenyamanan adalah musuh terbesar untuk berubah. Jika apa yang anda kerjakan terasa menyenangkan, maka waspadalah, bisa jadi ia tidak meningkatkan kualitasmu.”

Lebih dari 30 tahun lamanya, Prof. Erricsson melakukan riset yang mendalam kepada para mega bintang di bidang musik, olahraga, hingga sains. Psikolog berkebangsaan Swedia ini kemudian menemukan bahwa bekal menjadi world-class performers tidak hanya bermodal passion, talenta, uang, dan kemudahan akses untuk belajar. Lebih dari itu, keberhasilan para juara menaklukkan dunia adalah bertahan dalam DELIBERATE PRACTICE yang konsisten dan menyengsarakan [1-5].

Kalimat menyengsarakan ini saya adopsi karena cukup merepresentasikan perasaan hampir semua top performers di berbagai bidang. Sebut saja pebasket terkenal, Ray Allen. Pebasket yang masuk 10 kali dalam All Start National Basketball Association (NBA) Amerika dan dikenal sebagai three-point shooter terbaik sepanjang sejarah NBA ini, pernah berkata:

“Saya sangat tidak suka mendengar orang mengatakan keberhasilan saya melakukan three-point shooter karena anugerah Tuhan lewat tinggi badan saya. Mereka tidak pernah tahu bahwa saya melewati latihan yang keras dan menyengsarakan setiap hari untuk berada pada level tersebut.” [1]

Revisi2

snapshot komen revisi pembimbing

Pun para pemain violin berbakat di The Berlin University of the Art, Jerman. Para calon mega bintang violin ini selalu mengatakan bahwa proses latihan mereka selalu dilewati dengan ketidaknyamanan. Betul bahwa mereka menikmati memainkan violin sebagai passion mereka, tapi berlatih berjam-jam sejak umur 6 tahun hingga beberapa dekade setelahnya tidak lagi menjadikan permainan musik mereka menyenangkan. Lebih dari itu, butuh komitmen yang kuat untuk melawan ketidaknyaman [1,4].

Memasuki masa-masa akhir studi PhD saya, kalimat “menyengsarakan” ini saya ingat terus menerus dan coba untuk diinternalisasikan dalam alam bawah sadar saya. Saya berterima kasih sekali menemukan buku-buku seperti Grit karya Dr. Angela Duckworth, Deep Work karya Dr. Newport, hingga Peak karya Prof. Erricsson [1, 6-7]. Pesan-pesan di buku-buku tersebut sarat dengan pelajaran tentang melawan ketidaknyamanan. Setiap kali saya harus berjibaku dengan komentar professor yang sangat bikin pusing tujuh keliling, saya selalu dan selalu berkata kepada diri saya sendiri:

“Proses yang sulit ini justru yang akan menumbuhkan kualitasmu. Jika kamu nyaman, maka kamu akan berhenti untuk berkembang.”

Saya sering sekali menenangkan mental saya dengan kata-kata ini.

Dua tahun terakhir ini adalah proses belajar yang mengubah cara berfikir saya dalam memandang sebuah kesuksesan. Bagi seorang peneliti bau kencur seperti saya yang baru belajar menulis paper dengan benar sejak memulai studi S3, proses ini terasa sangat menyiksa. Betul bahwa saya punya penglaman menulis paper juga thesis berbahasa Inggris sebelum S3. Namun dihadapan supervisor saya, kualitas saya seperti berada di dunia lain. Hehehehe..

Rule supervisor saya adalah PERTAMA: jika men-submit paper maka harus dipastikan at least hanya akan terjadi minor correction. Supervisor saya tidak mau jika yang memborbardir paper kita adalah para reviewers yang bisa memberikan komentar menyakitkan. Beliau memastikan proses penulisan paper harus berkualitas tinggi agar paper yang di-submit terhindar dari rejection. KEDUA: styleacademic writing beliau termasuk diatas rata-rata. Saya berani mengatakan ini karena ketika menggarap paper bersama salah seorang senior lecturer di salah satu kampus terbaik di dunia saja, supervisor saya membobardir tulisan beliau dengan revisi yang gak kalah banyaknya dengan draft paper saya. Saat itulah perasaan merasa paling bodoh dan tolol mulai berkurang karena saya memahami, tidak mudah mencapai level kualitas menulis seperti beliau. KETIGA: Everything must be perfect. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun. Tentunya sebagai manusia kita pasti melakukan salah, namun semua proses penulisan yang saya lakukan harus terbebas dari error, sekecil apapun.

Saya membutuhkan sekitar 8 bulan untuk menyelesaikan penulisan jurnal paper pertama saya setelah melewati revisi lebih dari 20 kali. Dari hanya menghadap screen computer berjam-jam tanpa menghasilkan apapun, hingga rasanya mau muntah melihat ratusan komen revisi dari supervisor saya. Namun proses menyengsarakan inilah yang kemudian menjadikan titik balik mengenal dan beradaptasi dengan penulisan artikel ilmiah yang baik dan benar. Draft akhir paper yang saya berikan ke pembimbing ke-2 berakhir manis:

“Woww.. Tidak ada kesalahan grammar atau flow menulis sama sekali di tulisanmu. Saya cukup heran karena kamu bukan native.”

Kata-kata pembimbing ke-2 seorang British ini seperti pembuktian bahwa saya berjalan di jalur yang benar. Beliau tidak pernah tahu bahwa saya sudah melewati puluhan revisi bersama pembimbing yang sering membuat saya frustasi.

Dan saat ini, sudah 3 paper yang siap untuk dipublikasikan. Dua sudah diterima sedangkan satunya sedang proses review dengan minor revisi ditangan Editor. Setelah melewati ini, saya diuji level ketahanan melawan ketidaknyamanan lagi lewat penulisan jurnal paper ke 4. Secara teori, sebenarnya saya tinggal meng-extend riset saya dari paper ke-3 saya karena paper ke-4 ini dikembangkan dari paper ke 3. Namun proses penulisan paper ke 4 ini tidak boleh sama dengan jurnal paper sebelumnya. Saya diminta untuk mengambil sudut pandang yang berbeda dengan cara penulisan yang juga berbeda. Puluhan baris komentar dari supervisor saya hari ini, terus terang masih membuat kepala saya pusing bukan kepalang. Sampai saat inipun saya masih bingung bagaimana menuliskannya sedangkan saya harus menyelesaikan revisi PhD thesis agar bisa submit sebelum Agustus tahun ini. Namun lagi-lagi saya teringat bahwa:

KETIDAKNYAMANAN adalah TANDA kita sedang berjalan menuju perubahan.

Maka saya memutuskan untuk melawan kecemasan, ketidaknyamanan, dan kesulitan ini dengan attitude pantang menyerah agar kelak perubahan kualitas itu akan saya rasakan. Pesan Prof. Ericsson ini saya pegang dengan benar:

Guru terbaik adalah salah satu cara untuk melakukan deliberate practice yang benar.

Memiliki seorang pembimbing seperti Dr. Katsu Goda, meskipun dengan segala ketidaknyamanan yang harus saya terima, adalah rezeki yang tak bisa saya sia-siakan.

Jadi bertahanlah dan teruslah melangkah meskipun anda tertatih, karena diujung jalan sana, ada kesuksesan yang tak semua orang bisa merasakannya.

-In the end of the day, being a successful person is not either about how smart or talented you are yet it is about how strong your GRIT is. The grit to keep going and practicing even though it is hard and painful-

Bristol. 17 April 2017.

[1] Ericsson A. and Pool R., (2016) Peak: Secrets from the new science of expertise, Penguin Random House publishing.

[2] Erricsson K.A. The Road To Excellence: The Acquisition of Expert Performance in the Arts and Sciences, Sports, and Games.

[3] Erricsson K.A. and Charness, N. (1994). Expert performance: Its structure and acquisition. American Psychologist, 49(8), 725-747.

[4] Ericsson K.A. et al. (1993). The role of deliberate practice in the acquisition of expert performance. Psychology review, 100(3), 363-406.

[5] Ericsson K.A. and Lehmann, A.C. (1994). The acquisition of accompanying (sight-reading) skills in expert pianists. In I. Deliege (Ed.). Proceedings of the 3rd ICMPC, Liege, Belgium (pp. 337-338). Liege, BelgiumL ESCOM.

[6] Duckworth A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Penguin Random House publishing.

[7] Newport C. (2016). Deep Work. Grand Central Publishing.

COver3

 

Iklan

3 thoughts on “Journey to PhD (43) – ‘Sengsara’ membawa perubahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s