Anak Desa Dari Halmahera yang Studi S3 di Eropa

Bismillah…

Namanya Malifut, sebuah daerah di Utara Halmahera yang merupakan bagian dari Kecamatan Kao-Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Sebuah tempat dimana saya dibesarkan hingga menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Daerah dimana listrik tidak menyala 24 jam, lokasi dimana TV menjadi barang mahal untuk ditonton karena tidak banyak yang memilikinya. Sebuah kampung sederhana tempatku dibesarkan tanpa ada campur tangan game online, internet, dan sejenisnya.

Aku tidak dibesarkan oleh mimpi-mimpi panjang tentang menjelajah keliling dunia, karena terlalu jauh bagiku untuk memikirkannya. Aku juga tidak tumbuh dengan cerita-cerita tentang indahnya arsitektur kota London atau megahnya cahaya lampu di Paris. Aku dibesarkan dalam mimpi-mimpi sederhana tentang bermain di kali, menangkap belalang, dan ikut berkebun yang menjadi kebiasaan penduduk ditempatku berasal. Pun tidak ada bisikan dari siapapun bahwa ketika besar nanti, aku harus menjadi seperti Prof. Habibi yang bisa bersekolah hingga ke Jerman. Rasanya nama tokoh yang paling terdekat kala itu untuk mengimajinasikan mimpi tentang studi ke luar negeri adalah Prof. Habibi.

Orang tuakupun begitu. Bukanlah mereka yang memikirkan agar anaknya bisa menulis ceritanya di berbagai tempat di seluruh dunia, atau memasukkan anaknya untuk belajar bahasa Inggris sejak dini agar bisa ke luar negeri. Memikirkan itupun tidak pernah terlintas dipikiran mereka. Bagi mereka, sekolah hingga perguruan tinggi lalu bekerja selayaknya mereka (PNS) sudahlah cukup, Tidak usah berlebih.

UoB

DARI KERUSUHAN SARA HINGGA AKU YANG TAK BISA BERBAHASA INGGRIS

Adalah tahun 1999-2000, ketika perang antar agama dan suku mulai pecah di Maluku Utara. Malifut, dengan terhormat, “terpilih” menjadi daerah pertama meletusnya pertikaian yang terjadi diberbagai tempat di timur Indonesia. Hingga titik inipun, aku masih percaya, perpecahan itu bukan karena kebencian dengan mereka berbeda aqidah dan suku, tapi lebih karena korban kepentingan politik para petinggi negara. Aku kemudian dengan terpaksa pindah ke SMP N. 4 Ternate. Sekolah dimana aku menyadari bahwa ada pelajaran penting yang tidak kupahami sama sekali. Namanya BAHASA INGGRIS. Masih terngiang diingatanku ketika meminta tolong Fahria Abbas untuk mengajarkanku cara membaca di kamus karena memang dialah yang paling jago bahasa Inggrisnya di kelas. Kejadian kecil ini begitu kuat terekam di kepala. Aku bahkan masih mengingat reaksiku dan rekasi temanku ketika mengajariku cara membaca kamus. Dari titik inilah kemudian aku memutuskan mengikuti les tambahan oleh Ibu Sabaria Umahuk, tentu saja karena keinginan sendiri tanpa ada dorongan dari manapun.

Lewat belajar yang intens, hasilnya mulai terasa. Aku kemudian bisa masuk tim debat bahasa Inggris SMA N. 1 Ternate bersama Gita Pratami dan Rafika Aulia hingga beberapa kali memenangkan lomba debat bahasa Inggris tingkat Provinsi. Jika saya berfikir kembali, sebenarnya bukan karena tim kami yang bagus, namun memang di daerah timur seperti Maluku Utara kala itu, lomba debat masih terasa asing dan sangat sedikit saingannya.

Akan tetapi, setelah ke tanah jawa dan menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), aku kemudian menyadari betapa buruknya kualitas bahasa Inggrisku. Nilai TOEFL-ku menjadi ukurannya. Ketika mengikuti TOEFL like test, nilaiku hanya 427. Jadi bagi kalian yang sedang berjuang meningkatkan kemampuan bahasa Inggris kalian untuk bisa studi ke Luar Negeri, janganlah menyerah. Aku pernah memiliki skor yang masih jauh dari persyaratan ke luar negeri.

MEMBANGUN MIMPI STUDI KE LUAR NEGERI

Adalah Taiwan negara yang sejak semester 2 sudah kuimpikan menjadi tempat studi S2. Kenapa bukan Eropa atau Amerika? Alasannya sederhana, karena saat itu (tahun 2005-2010) banyak sekali peluang studi berbeasiswa ke Taiwan. Selain aku juga menyadari, tak mudah menembus beasiswa di negara-negara maju lainnya. Terima kasih kepada Prof. Agus S Muntohar juga Dr. Sri Atmaja P.Rosyidi, dua pembimbing risetku yang selalu memberikan motivasi untuk bisa studi S2 di luar negeri.

Persoalan bahasa Inggris kemudian menjadi cerita penting selama studi S1. Sejak mengetahui nilai TOEFLku yang hanya 427, sejak semester 2, aku mulai membuat rencana detail belajar untuk meningkatkan TOEFLku. Aku membuat rutinitas belajar TOEFL 1-2 jam sehari. Mulai belajar, membaca, mengulang soal-soal, hingga mengambil lest TOEFL diberbagai tempat. Aku sampai lupa berapa tempat kursus yang pernah kuikuti juga berapa kali test TOEFL yang kuikuti. Jika kuhitung mungkin lebih dari 25 kali mengikuti test TOEFL diberbagai tempat. Dari nilai yang hanya 427 pernah naik menjadi 440-an, lalu menginjak ke angka 470an. Tidak banyak peningkatan. Aku sangat mengerti, salah satu kendala terbesar bagi anak-anak Indonesia Timur adalah persoalan bahasa. Kami tidak tumbuh dengan lingkungan yang terbiasa dengan bahasa asing ini. Pelajaran inipun selalu sukses menjadi mata pelajaran paling mankutkan siswa-siswa di Maluku Utara, selain Matematika tentunya. Maka perjuangan menaikkan nilai TOEFL ini tidaklah mudah.

Bulan Januari 2009, masa-masa menjelang deadline penutupan beasiswa S2 National Taiwan University of Science and Tech. (NTUST), aku masih berjibaku mengejar nilai TOEFL agar bisa menembus angka di atas 500. Sedihnya, setelah tiga tahun rutin belajar TOEFL, nilai tertinggiku hanya menembus angka 493. Aku hanya butuh beberapa angka untuk lewat persyaratan beasiswa.

Saat-saat inilah momen keajaiban, taqdir, dan garis hidup yang sudah diatur Allah itu memainkan perannya. Entah bagaimana ceritanya, ketika melakukan test TOEFL terakhir di bulan Februari 2009 saya mendapatkan nilai TOEFL diluar dugaan yaitu: 560-an. Angka yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Kejadian inipun membuatku sadar, bahwa setelah kesulitan dan usaha keras, Allah selalu tidak pernah memberikan hasil yang meleset dari sekian banyak ikhtiar kita. Jadi JANGAN PERNAH MENYERAH. Seperti kata penulis buku Self-Help, Samuel Smiles, “Genius is patience”, bahwa kecerdasaan yang tinggi itu lahir dari kesabaran. Dia lahir dari “self-denial” dan “untiring perseverance”. Sebagai seorang muslim, bantuan Allah itu tak terlekkan dan akan hadir bagi mereka yang sudah berusaha keras.

LALU KE EROPA

Dan hari ini, aku sudah duduk manis di office 0.91, Queens Building, Bristol University. Salah satu dari 50 kampus terbaik di dunia (versi QS). Perjalanan S2 di Taiwan seperti batu loncatan untukku untuk menginjakkan kakiku di Eropa. Dari sinilah aku bisa menjelajah Jepang, Turkey, pulau terluar UK yang dekat dengan Kutub Utara, hingga cerita-cerita lain yang akan menjadi memori tak terlupakan bagiku.

IMG-20150704-WA0036

Jika ada catatan yang ingin aku pesankan kepada kalian anak-anak Indonesia Timur, maka:

PERTAMA: Tidak jadi soal jika orang tua kalian bukanlah mereka yang berpendidikan tinggi, yang meniupkan cita-cita besar kepada anda sejak dini. Banyaklah membaca, berdiskusi, dan bercerita dengan mereka yang sudah menjelajah dunia. Maka kalian akan menyadari bahwa dunia ini tidak hanya Indonesia. Bahwa pertarungan dan kesempatan sekolah tidak hanya di pulau Jawa. Bangunlah cita-cita kalian.

KEDUA: Jangan minder hanya karena kalian tidak bisa berbahasa Inggris. Aku memulainya dari NOL. Bekerja keras mengejar ketertinggalanku. Jika ada yang mengatakan: “Ahh.. Ario mah memang sudah pintar sejak dulu”, maka begitu banyak anak-anak Maluku Utara yang cerdasnya luar biasa. Namun titik temunya bukan di situ. Ini tentang kemampuan yang kuat dari kalian untuk meninggalkan zona nyaman kalian. Ini tentang mengubah cara berfikir kalian bahwa kesempatan untuk meraih pengalaman di luar negeri begitu terbuka lebar. Maka bangunlah keinginan yang kuat itu dari diri kalian lalu bekerja keraslah.

KETIGA: Kita masih sangat jauh ketinggalan dengan anak-anak di tanah Jawa sana. Ayo lanjutkan pendidikan kalian setinggi-tingginya, jelajahlah bumi Amerika, Eropa hingga tanah Timur Asia agar cakrawala kita terus berkembang, agar semakin banyak anak-anak Maluku Utara yang berprestasi. Agar kita bisa mengulang cerita Dr. Fadel Muhammad atau dr. Abdul Ghafur.

KEEMPAT: Jangan menyerah. Setelah punya mimpi tinggi, teruslah berjuang mengejarnya. Jangan biarkan penghalang memberatkan langkah kalian untuk mengejar cita-cita kalian. Kita bisa ketinggalan banyak hal, namun kita memiliki fisik dan ketahanan untuk berjuang seperti kuatnya kita melawan arus ombak yang menjadi warna-warni keseharian kita.

Tetap semangat dan terus mencoba!

-ditulis untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang bagaimana bisa melanjutkan studi ke luar negeri-

COver3

Iklan

3 thoughts on “Anak Desa Dari Halmahera yang Studi S3 di Eropa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s