Kehilangan Motivasi dan Bagaimana Membangkitkannya

Bismillah…

Di musim dingin 2016, ketika suhu menyentuh angka dibawa nol derajat dan  sering membuat orang malas untuk bergerak, seorang lelaki bertubuh tegap dan berkacamata bergerak dari stasiun kereta Paddington London menuju Temple Meads, Bristol. Doktor muda bidang bencana banjir lulusan University of Naples Federico II (UNINA), Italia ini bernama Dr. Petrone. Umurnya baru saja melewati angka 35 dan sedang bekerja sebagai research associate (postdoctoral researcher) di University College of London (UCL), salah satu dari 20 kampus terbaik di dunia. Hari itu, University of Bristol adalah tujuannya. Sehari penuh dia akan disibukkan dengan diskusi pengembangan riset integrasi bencana Gempa dan Tsunami bersama Dr. Katsuichiro Goda dan Dr. De-Risi. Nama terakhir ini adalah koleganya selama menjalani studi S2 dan S3 di UNINA. Dr. De-Risi adalah juga seorang research associate seperti Dr. Petrone di Bristol University. Dr. De-Risi mengerjakan proyek integrasi bencana Gempa dan Tsunami dibawah bimbingan Dr. Goda.

“Kamu tahu apa yang paling menyenangkan dengan pekerjaanku sebagai research associate di UCL?” Tanyanya kepada De-Risi ketika mereka sedang menikmati dinner tanpa Dr. Goda. De-Risi mengambil posisi tegap, lalu memandang pacarnya, Dr. De-Luca yang berada disampingnya. Mereka memang teman dekat Dr. Petrone di Bristol.

“Saya punya otoritas untuk menentukan pekerjaan, menerbitkan paper di jurnal, dan tentu saja waktu dan tekanan yang lebih flexibel.” Lanjutnya dengan antusias.

“Saya tahu kamu juga produktif bersama Dr. Goda, tetapi saya bisa menjamin otoritas saya yang diberikan oleh pembimbing selama melewati research associate ini lebih besar darimu.” Tutupnya dengan senyum kemenangan.

Islammu_adalah_Maharku

Perbincangan ini tentu saja bukan untuk mengejek Dr. De-Risi yang setiap hari selalu dibombardiri task demi task dari Dr. Goda, juga revisi demi revisi untuk kepentingan publikasi. Tapi untuk membuka ruang berfikir Dr. De-Risi kenapa dia berhasil mempublikasinya banyak hasil riset dibanding dengan Dr. De-Risi, meskipun pencapaian Dr. De-Risi sendiri tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun produktivitas dan kepuasan yang dimiliki Dr. Petrone setingkat lebih baik dari Dr. De-Risi. Sebagai catatan, menjelang kontrak sebagai research associate mereka berakhir, Dr. Petrone berhasil menerbitkan 27 paper dimana 18 diantaranya adalah jurnal paper bereputasi dibidang Gempa dan Tsunami, sedangkan Dr. De-Risi hanya setengahnya. 

Berbeda dengan Dr. Petrone yang selalu bersemangat bekerja sebagai Research Associate di UCL, Ahmer Ali, mahasiswa baru PhD dari Pakistan ini punya cerita tersendiri.

“Godaan terbesar saya adalah ngantuk. Saya orang yang gampang sekali tidur dan susah bangun.” Dia tersenyum malu menceritakannya. Kami sedang berdiri di salah satu pelataran fakultas teknik, University of Bristol.

“Hal terberat saat ini bagi saya adalah membangun motivasi untuk belajar. Terutama membaca paper. Saya punya ruangan untuk belajar di kampus, tapi tempat tinggal hanya 10 menit dari sini. Godaan baca paper tentu saja lebih kuat di rumah dibanding dengan di kampus. Apalagi saat ini saya masih bingung mau ngapain. Masih harus menunggu instruksi dari pembimbing. Waktu terasa berjalan lambat dan susah menjaga motivasi untuk terus belajar.” Lanjutnya panjang lebar, menceritakan kegelisahannya.

Cerita kontras dua orang ini seakan membenarkan teori para saintis tentang MOTIVASI yaitu:

“SYARAT awal membangun motivasi adalah kita harus memiliki OTORITAS  atas tindakan/pekerjaan  yang akan kita lakukan. Untuk menjaga motivasi diri, maka perasaan memiliki kontrol atas apa yang kita kerjakan memudahkan kita untuk bertahan dalam keseriusan” [1]

Dr. Petrone adalah sebuah contoh jika kita punya otoritas yang kuat dan bisa mengontrol apa yang kita kerjakan, maka kebahagiaan dan kepuasaan lebih terasa dibanding mereka yang tidak. Seperti keluhan yang sering kudengar dari Dr. De-Risi yang selalu dia katakan hampir setiap hari:

“Saya lelah sekali. Malas ngapa-ngapain.

Tekanan yang berat dan otoritas yang tidak penuh membuatnya bekerja dalam pressure yang tinggi. Dr. Petrone adalah contoh yang berbeda dengannya.

“Dr. Petrone senang di UCL. Dia punya otoritas, karirnya setelah menjadi research associate akan lebih cemerlang karena memproduksi banyak karya.” Kata Dr. De-Risi di suatu sore ketika kami sedang berdiskusi tentang peluangnya menjadi dosen di University of Bath dan UCL yang sedang dilamarnya.

Tidak berbeda jauh dengan Dr. De-Risi, Ahmer Ali juga mengalami hal yang sama. KETIDAKTAHUAN apa yang akan kita kerjakan/riset ketika memulai studi S3 adalah contoh bahwa kita tidak punya kontrol atas apa yang kita lakukan. Mengumpulkan paper dan membaca satu persatu meskipun memiliki tema umum ketika memilihnya terasa sangat sulit dibandingkan kita punya fokus dan tahu apa yang sedang kita pelajari dan apa yang sebenarnya yang kita cari. Membaca paper untuk menentukan topik riset S3 terasa lebih berat dibanding membaca paper khusus yang kita butuhkan untuk menyelesaikan sebuah task tertentu. Tidak adanya kontrol yang penuh atas pekerjaan kita ketika memulai studi S3 juga menjadi tantangan sendiri. Jikalaupun sudah berhasil menemukan topik di paper yang kita baca dengan tepat, pertanyaan-pertanyaan seperti: “Apakah akan disetujui supervisor? Apakah ini sudah dalam level PhD?”, selalu akan berseliweran. Dan ini justru melemahkan semangat kita.

Sayangnya, neurologist dan scientist mengatakan bahwa memunculkan motivasi di dalam diri bukanlah hal yang mudah. Pengalaman masa lalu ternyata memainkan peran yang begitu penting. Ketika anda belum pernah merasakan betapa menyenangkannya memiliki otoritas dalam pekerjaan, maka anda cenderung lebih susah untuk menumbuhkan motivasi. Seseorang yang sering mendapatkan apresiasi atas keberhasilannya dimasa muda dan tahun-tahun sebelumnya akan lebih mudah untuk membangkitkan motivasi di dalam diri dibanding mereka yang tidak merasakan nikmatnya apresiasi dan penghargaan dari orang lain.Perasaan bahagia ketika bisa menentukan pilihan dan membuktikan pilihan kita adalah pilihan yang benar adalah salah satu alasan kenapa seseorang bisa membangkitkan motivasnya untuk bekerja [2,3].

Kita tinggalkan cerita Dr. petrone, Dr. De-Risi, dan Ahmer Ali di UK lalu beranjak ke benua Amerika. Di New York sana ada Charles Duhigh, penulis mega best seller buku the power of habbit ini memiliki target penting yang harus dia selesaikan sebelum tahun 2015 berakhir: menyelesaikan manuskrip buku terbarunya. Ketika melakukan perjanjian dengan penerbit untuk menulis buku terbarunya, Duhigh adalah seorang reporter senior The New York Times. Dia juga sedang sibuk mempromosikan buku sebelumnya, dan juga menjaga ritme agar tetap menjadi seorang ayah dan suami yang baik bagi keluarganya. Setelah melewati hari yang melelahkan sebagai seorang reporter, maka Duhigh akan pulang dengan kebingungan antara mendongengi anak-anaknya sebelum tidur, mencuci piring, atau menulis chapter buku yang sudah direncanakannya. Belum lagi tumpukan email yang menanti untuk dibaca dan direspon olehnya. Tumpukan pekerjaan yang ada dikepalanya hanya terjawab oleh satu satu keinginan darinya: MENONTON TV. Sebuah tindakan yang tentu saja tidak menyelesaikan targetan dan tanggung jawabnya.

Salah satu yang paling berat menjadi seorang reporter adalah puluhan email yang dikirim kepadanya. Setiap hari, Duhigh menerima kurang lebih 50 email yang harus dijawab dan dibalas. Sebuah pekerjaan yang melelahkan diluar tugasnya sebagai reporter dan kepentingannya untuk menyelesaikan buku terbarunya juga sebagai seorang ayah dan suami. Dia kemudian memutuskan untuk membuat sebuah komitmen dengan meletakkan kontrol untuk menuntaskan pekerjaan-pekerjaannya. Setiap malam, setelah menidurkan anaknya, Duhigh akan menuntaskan pengiriman email dengan mengetik lebih cepat balasan, membuat default balasan jika ada pertanyaan yang mirip, dan membuat kontrol atas ajakan meeting yang diminta koleganya. Dia akan meletakkan kontrol atas pekerjaannya bukan berdasarkan perintah dari yang lain. Seperti mengontrol berapa lama dia bisa berada di sebuah meeting maupun menentukan tempat pertemuan yang lebih mudah diaksesnya. Lewat proses inilah salah satu distraksi terbesar Duhigh (e.g. email) bisa teratasi dengan baik dan melancarkan prosesnya menyelesaikan manuskrip yang sudah dia siapkan.

Bagaimana jika kita tidak punya kontrol atas pekerjaan kita seperti Ahmer Ali maupun Dr. De-Risi yang berada dalam pressure pekerjaan yang tinggi?

Renungkanlah dan tanyakanlah kepada diri anda KENAPA anda harus menyelesaikan pekerjaan ini?

Apakah ini berkaitan dengan tujuan terbesar hidup kita? Apakah dengan menyelesaikan pekerjaan ini mampu menyelesaikan taget dan cita-cita kita dalam beberapa tahun ke depan?

Pertanyaan-pertanyaan ini harus terus diulang-ulang setiap waktu agar kita mengerti tujuan besar kita. Dengan memahami bahwa pekerjaan-pekerjaan berat adalah tangga awal pencapaian cita-cita besar kita maka semakin mudah kita mendrive diri kita untuk bekerja. Jadi jika anda tidak punya kontrol, merasa lelah dan tidak punya keinginan lagi untuk belajar, BERTANYA dan PIKIRKAN LAGI kenapa sehingga anda melakukan ini? Kenapa anda harus terus belajar? Lakukanlah terus menerus, bayangkanlah setiap waktu bahwa dengan kerja keras yang anda lakukan saat ini maka  suatu waktu anda akan menikmati hasilnya.

Proses self affirmation ini juga dilakukan oleh Duhigh untuk menuntaskan misinya menyelesaikan manuskrip buku terbarunya. Dia kemudian senantiasa meletakkan notes di halaman depan setiap buku atau jurnal yang sedang dibacanya seperti: “WHY I READ THIS PAPER? Kenapa saya membaca paper ini?” Lalu dia akan menuliskan alasan-alasannya dibawahnya. Dengan ini, dia akan mengingatkan dirinya betapa penting pekerjaan-pekerjaan melelahkan yang harus dia lakukan. Dengan mengingatkan dirinya tentang tujuan awal, maka memudahkan dia menggerakkan dirinya untuk bertahan dalam keseriusan. Jika anda belum melakukannya, maka cobalah.

Dua hal ini: MEMILIKI kontrol dan mengevaluasi NIAT awal kenapa kita melakukan pekerjaan dan tantangan berat yang kita jalani sekarang adalah cara untuk menjaga MOTIVASI. Yang terpenting, seperti banyak ditulis di jurnal-jurnal penelitian tentang pengembangan diri [2-4]:

“Motivation is more like a SKILL. A kin to reading or writing, that can be learned and honed. If you PRACTICED the right way, you can get better at self-motivation.” [1]

Jadi masalah motivasi adalah latihan. Jika gagal mencobanya hari ini, jangan menyerah dan mengatakan tidak bisa. Teruslah berlatih dengan cara yang benar, suatu-saat anda akan menikmati hasilnya.

[1] Charles Duhigh, Smarter, Faster, Better.

[2] LINK

[3] http://www.nature.com/neuro/journal/v11/n8/abs/nn.2141.html

[4] http://psycnet.apa.org/psycinfo/2008-01984-005

Tulisan ini bagian dari SM project: https://ariomuhammad.com/self-management-project/

COver3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s