Bagaimana merencanakan dan mengeksekusi resolusi kita?

Bismillah…

Memasuki tahun baru ini, rasanya tidak ada topik yang paling banyak dibahas selain tentang RESOLUSI. Sebuah haris riset yang dilakukan oleh University of Scranton, Pennsylvania, U.S.A menunjukkan bahwa hanya 8% yang sukses menjelankan resolusinya di tahun sebelumnya [1]. Sebuah angka yang sudah lumrah dan bisa diprediksi karena kebanyakan dari kita memang selalu berhenti di tahap perencanaan tanpa pernah mengeksekusinya. Atau sebenarnya kita telah mencoba mengeksekusinya, namun selalu saja banyak hambatan yang mencegahnya.

Salah satu metode yang paling mahsyur digunakan adalah metode SMART goal yang terpecah menjadi Specific-Measurable-Achievable-Realistic-Timeline. Metode ini pertama kali dikembangkan oleh perusahaan General Electric (GE) yang salah satu pendirinya adalah Thomas Alfa Edison. Perusahaan ini adalah salah satu perusahaan terbesar di dunia yang sudah memiliki berbagai cabang di bidang energi, health care, hingga aircraft engines dan dibangun sejak 124 tahun yang lalu. Dimulai tahun 1940an, metode ini sukses mengantarkan kesuksesan GE kala itu. Pada era 1960an setiap karyawan GE harus melaporkan kepada pemimpinnya targetan yang hendak dicapai dalam setahun dalam format SMART ini.

s-smart

Akan tetapi, pada tahun 1980an, beberapa cabang perusahaan yang bergerak dibidang nuclear equipment justru gagal merealisasikan targetan mereka dan keuntungan perusahaan tetap saja menurun setiap tahunnya meskipun rancangan SMART goal ini sudah dimplementasikan. Chief executive GE kala itu, Jack Welch, kemudian merekrut Prof. Steve Kerr, dekan fakultas bisnis University of Southern California, untuk menuntaskan persoalan ini. Setelah melakukan riset yang mendalam tentang cabang perusahaan GE ini, Prof. Kerr mengatakan bahwa setiap karyawan perlu disadarkan untuk memiliki ambisi yang lebih besar, tidak hanya terbatas pada targetan yang realistis dan short-term mindset.

Kemudian, pada tahun 1993, 12 tahun setelah chief executive GE, Jack Welch, menjabat, kunjungannya ke Jepang justru membuka perspektif tentang pentingnya menumbuhkan ambisi besar yang bisa dicapai dalam jangka waktu yang lebih panjang. Perspektif ini tercetus ketika menyaksikan secara langsung bagaimana Jepang mempush sistem perkeretaapian mereka untuk memiliki kereta dengan kecepatan hingga 193 km/jam yang merupakan kereta tercepat di dunia kala itu. BIG AMBITION yang ditekankan oleh head of the Japanese railway system kala itu berhasil menjadikan Jepang sebagai kiblat kereta api tercepat di dunia yang kemudian diadopsi di berbagai negara termasuk di Jerman, Perancis, dan Australia [2].

Maka Jeck Welch dan Prof. Kerr mengatakan bahwa merencanakan resolusi tidak hanya dimulai dengan SMART GOAL, tapi harus dimulai dengan STRECH goal yang merupakan AMBISI BESAR kita.

Dipostingan foto ini [3] saya menuliskan metode STRETCH-SMART goal ini. Metode ini tidak harus berhasil di setiap individu, tapi setidaknya kita perlu belajar mengimplementasikannya dalam hidup kita.

Semoga bermanfaat!

strecth

specific

measurable

achievable

reaslistic

timeline

[1] http://www.statisticbrain.com/new-years-resolution-statist…/
[2] Dikembangkan dari buku Smarter Faster Better by Charles Duhigh
[3] Poster dibuat di www.postermywall.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s