Follow your passion is a bad advice

Bismillah…

Tulisan ini adalah bagin dari Self Management Project yang saya dedikasikan untuk membahas masalah manajemen diri. List artikelnya bisa di lihat di sini.

Namanya Jun, lelaki berkacamata dengan tinggi 170 cm asal Tiongkok ini setiap hari akan berjalan mendaki dari park street – area city centre of Bristol – menuju gedung Queens, University of Bristol untuk melakukan rutinitasnya: menjalani tugasnya sebagai sponsorship PhD student. Perusahaan yang membiyai riset S3nya mengharuskan ia menghasilkan sebuah produk baru dalam waktu 4 tahun. Sebuah task yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik jika dia menikmatinya. Namun harapannya untuk menjalani studi S3 dengan baik dan penuh karya tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Istrinya yang baru ia nikahi di usia yang cukup muda – 23 tahun – terkadang membersamainya sambil menuntaskan perannya sebagai pendiri shopping online website yang baru dirintis beberapa bulan. Wajah Jun lebih sering kusut sambil berujar kalimat ini: “I regret taking a PhD, I should take a job in a company.”

Seperti halnya Jun, Dr. Goda juga melakukan rutinitas yang sama dengannya setiap hari. Melewati jalur Queens Road bersisian dengan gedung Wills Memorial, kemudian mengambil jalan mendaki menuju gedung Queens Building, University of Bristol. Rutinitasnya akan dimulai pukul 9 pagi dengan tumpukan paper yang siap dibaca. Di depan pintunya, sebuah tanda “not available” tergantung manis selama beliau membaca paper hingga siang hari. Setelah makan siang, beliau akan melanjutkan dengan menulis, melakukan simulasi, meeting, atau membagi waktunya untuk bimbingan dengan 3 PhD students-nya. Jika Jun sering mengungkapkan kata “I regret doing this”, maka Dr. Goda punya kalimat pamungkas yang berbeda “You have to love what you are doing. It is not a matter of doing what you love. It is about hard works”.

Jika melihat background Jun dan Dr. Goda, kita akan menemukan dua hal yang cukup berseberangan. Jun adalah lulusan S2 Electrical Engineering dari University of Nottingham, salah satu dari 100 universitas terbaik di dunia. Dia lulus dengan nilai fantastis, DISTINCTION, tentu saja dengan average nilai di atas 80. Sebagai gambaran, untuk memperoleh nilai distinction di UK, umumnya seseorang harus melewati angka 70. Jadi angka 80 untuk nilai rata-rata selama S2nya termasuk angka yang fantastis. Disertasi riset S2nya bahkan menembus angka 84. Pilihannya menjadi mahasiswa S3 adalah karena alasan klasik: this is my passion. I do really enjoy doing a research project.

whatsapp-image-2016-11-21-at-17-50-47

Berbeda cerita dengan Jun, Dr. Goda justru memulai karirnya di dunia Academia karena terjebak cinta. Apa daya, dia harus memperjuangkan gadis pilihannya yang merupakan warga negara Canada dengan memutuskan melanjutkan S3 di University of Western Ontario, Canada mengambil bidang yang berbeda sama sekali dengan latar belakang S2nya di Pertanian yaitu seismologi. Kala itu, Goda (belum menggondol gelar Doctor tentunya) menyadari bahwa proses membangun karir harus dimulai dengan membangun skill dan pengalaman yang kuat. Dan skill yang mumpuni terbentuk lewat proses belajar yang penuh komitmen, konsistensi, dan tentu saja kedisiplinan. Maka berbeda dengan Jun, Goda melewati PhD dengan penuh semangat, menghabiskan nyaris 80 jam per minggu untuk menuntaskan project S3nya yang berbeda 180 derajat dari background pendidikan sebelumnya. Hasilnya, Dr. Goda akhirnya mendapatkan lecturer position di Nanyang Technological University dan University of Bristol (dua dari 50 kampus terbaik di dunia versi QS) 4 tahun setelah menjalani masa-masa penuh perjuangan mengasah skill dan pengalamannya sebagai researcher di Kanada.

Dua cerita ini kembali terngiang dipikiran saya setelah menamatkan buku So Good They Cant Ignore You karya Dr. Calvin Newport. Cerita tentang Jun adalah potret bahwa tak selamanya kata-kata “saya passion dengan bidang ini” lalu dengan terburu-buru memutuskan berkecimpung di bidang tersebut akan mampu menjaga semangat Anda dalam bekerja atau berkarya. Justru sebaliknya, teori follow your passion terkadang atau bahkan sebagian besar justru menjadi ancaman yang mampu mengantarkan kepada pilihan karir yang salah.

“In real world, the vast majority of people don’t have pre-existing passions waiting to be discovered and matched to a career. The real path to work you love, it noted, is often more complicated’ -Cal Newport-

Passion is rare and takes time to capture it

Adalah di tahun 2002, Robert J. Vallerand seorang psikolog asal Kanada melakukan sebuah riset yang didasari atas pertanyaan sederhana: Apakah para mahasiswa mempunyai passion? jika ia, apa passion mereka?

Maka diambillah 539 mahasiswa diberbagai universitas di Kanada sebagai sampel penelitian. Hasilnya 84% dari mahasiswa yang di survey mengatakan jika mereka benar-benar memiliki passion. Sebuah kabar yang menarik tentunya. Lalu apa passion mereka? 5 passion yang umumnya diyakini milik mereka adalah: Dancce, hockey, skiing, reading and swimming. Sayangnya 5 passion ini tidak punya kaitan langsung dengan pekerjaan yang ditawarkan di dunia nyata. Hanya 4 % dari jawaban para mahasiswa yang langsung berhubungan dengan pekerjaan [1].

Passion

Riset lain yang dilakukan oleh Amy Wrzesniewski seorang professor di bidang perilaku organisasi di Yale University lewat suvey yang mendalam dari ribuan responden yang menggeluti berbagai bidang pekerjaan dari programmer hingga dokter menyimpulkan bahwa [2]:

“The happiest, most passionate employees are not those who followed their passion into a position, but instead those who have been long enough to become good at what they do.”

Temuan ini membuka ruang berpikir kita untuk memandang kalimat passion sebagai hal yang tidak mudah ditemukan dan membutuhkan waktu yang lama untuk menggalinya. Bagi beberapa orang tertentu, sebut saja Joy Alexander, seorang prodigy dalam music jazz asal Indonesia yang memang terlahir dengan bakat yang memukau. Tentu saja bakat semacam ini jarang ada dan merupakan gift dari Tuhan Sang pencipta. Atau sebutlah Lilyana Natsir, kekuatan tangannya dan skill bulutangkisnya adalah salah satu yang terbaik dan langka yang sulit ditemukan di pemain puteri ganda campuran Indonesia lain saat ini.

Building your career capital is more important than soul calling

Adalah Zhao Yun Lei, penerima dua medali emas olimpiade London 2012 yang membuka mata kita bahwa tak selamanya skill dan gift dari Tuhan sebagai talenta yang akan mengantarkan kita menjadi tangga juara di dunia. Usianya ketika menjadi juara dunia di ganda campuran pertama kali adalah 25 tahun, seusatu yang cukup tertinggal dibanding dengan Lilyana Natsir yang sudah menjadi juara dunia di usia 19 tahun. Ketekunan dan latihan yang keras bisa mengalahkan bakat alam yang sudah dimiliki seseorang sejak lahir. Inilah yang mengantarkan Zhao Yun Lei menjadi salah satu pebulutangkis terbaik sepanjang sejarah mengalahkan capaian prestasi seorang Lilyana Natsir. Contoh lain adalah Carolina Marin. Pebulutangkis tungal puteri asal Spanyol ini membuat sejarah yang cukup menggemparkan dunia karena berhasil menjadi puteri Eropa pertama yang meraih medali emas di Olimpiade. Sesuatu yang aneh mengingat Spanyol bukanlah seperti Denmark yang merupakan negara penghasil pemain tingkat dunia dalam olahraga bulutangkis. Dia mengunguli Ratchanok Inthanon (Thailand) yang merupakan prodigy tunggal putri bulutangkis yang sudah memenangkan kejuaran dunia junior 3 kali berturut-turut. Rekor yang belum terkalahkan hingga kini. Carolina Marin selalu menjadi bayang-bayang May (sapaan akran Inthanon) selam di Junior dan baru mengalahkannya di tahun ini. Namun prestasinya di senior terkalahkan oleh Carolina Marin yang lebih bersinar karena kerja keras yang dimilikinya.

Contoh dari Zhao Yun Lei dan Carolina Marin ini mirip dengan yang ditulis oleh Dr. Newport yang menyebutkan bahwa bagian terpenting dari memandang pekerjaan kita adalah keseriusannya dalam membangun career capital. Sebuah istilah yang dipakai oleh Dr. Newport untuk menamai skill. Carolina Marin berkali-kali harus latihan keberbagai negara yang kesohor bulitangkisnya seperti Indonesia dan China hanya untuk mengembangkan skillnya. Zhao Yun Lei sendiri pernah bercerita bahwa proses latihannya justru lebih menyengsarakan dibandingkan bertanding dua nomor sekaligur (ganda puteri dan ganda campuran).

Maka jangan mengambil keputusan terburu-buru dengan berhenti dari sebuah pekerjaan atau memutuskan menjadi seorang freelancer dari rumah jika Anda belum memiliki skill (baca career capital) yang mumpuni, apalagi venue (pasar) yang belum memadai. Menseriusi diri dengan mengasah secara terus menerus skill di bidang yang kita tekuni saat ini adalah cara yang paling tepat dibanding Anda melamun dan bergumam setiap hari sambil memikirkan panggilan jiwa Anda. Panggilan jiwa yang terburu-buru bisa jadi menyesatkan. Maka tetaplah bertahan dengan konsistennya Anda mengembangkan diri. Di titik tertentu, Anda akan menyadari bahwa carrer capital yang suda Anda asah dengan sabar dan dalam waktu yang lama akan mengantarkan kepada sebuah capaian cita-cita yang lebih besar dari yang Anda bayangkan.

Then how can you love what you do?

Ada dua hal penting yang disebut Dr. Newport agar kita bisa mencintai apa yang kita kerjakan saat ini.

Pertama: we have control.

Punya kontrol yang besar dalam pekerjaan kita akan lebih membuat kita bahagia dibanding berada pada posisi dimana kontrol menjadi hal yang langka. Banyak riset-riset tentang kebahagiaan dalam bekerja sudah menunjukkan bahwa mereka yang punya kontrol dalam pekerjaan mereka cenderung lebih puas dan bahagia dibanding dengan mereka yang tidak memiliknya. Maka tidak usah heran jika melihat Radyum Ikono atau Novan Maulana, beberapa contoh dari CEO-CEO muda Indonesia yang sangat antusias menjalani karirnya membangun perusahaan Nano Technology di Indonesia. Latar belakang pendidikan mereka tentu saja bisa membuat mereka memilih jalur karir lain. Dosen misalnya atau yang lebih mentereng bekerja di perusahaan-perusahaan kelas wahid dengan gaji wah. Namun sadar atau tida sadar, kemampuan mereka untuk mengontrol pekerjaan mereka dengan lebih luas adalah salah satu alasan kenapa mereka begitu antusias menjalani perannya saat ini. Contoh lain adalah dr. Gamal Albinsaid. Seseorang yang dikenal sebagai dokter sampah yang sudah mendapatkan penghargaan tingkat dunia dari berbagai negara. Pertemuan dan diskusi dengannya beberapa tahun lalu ketika mengisi seminar bersama-sama menunjukkan kepada saya bahwa dr. Albinsaid lebih menikmati perannnya mengembangkan project asuransi sampah dibanding menyelesaikan masa-masa co-ass yang waktu itu masih digelutinya (tahun 2013). Karena disanalah dia lebih bisa melakukan kontrol atas karyanya. Lebih bisa amengatur ritme, waktu dan misi yang sedang dirancangnya.

Kedua: harus menghasilkan uang

“When deciding whether to follow an appealing pursuit that will introduce more control into your work life, ask yourself whether people are willing to pay for it. If so, continue. If not, move on” – the law of financial viability by Cal Newport –

Mempunyai control saja tentulah tidak cukup. Seseorang akan lebih menikmati pekerjaannya jika dia mampu memiliki kestabilan secara finansial. Bayangkan saja jika anda punya kontrol yang kuat dengan pekerjaan anda, sebutlah jika anda seorang web designer freelancer yang bekerja dari rumah dan bebas memulai pekerjaan kapan saja tapi kemudian Anda tidak memiliki klien yang tetap dan membawa keuntungan secara finansial kepada Anda secara stabil. Maka bisa dipastikan, Anda justru akan memilih karir lain untuk mengamankan isi kantong Anda. Sebutlah dengan melamar ke perusahaan yang lebih settle yang menerima background Anda.

Maka jika Anda sudah memiliki career capital yang mumpuni, pastikan menekuni sebuah pekerjaan yang juga menghasilkan kestabilan secara finansial. Dengan kontrol yang kuat dan kestabilan finansial ini, seseorang cenderung akan lebih bahagia dan in the end, akan lebih passionate dengan pekerjaan yang dia geluti.

Cheers!

Bristol, 29 November 2016

References:

[1] Vallerand et al., (2003), “Les passions de l’ame: on obsessive and harmonious passion,” journal of personality and social psychology 85, 156-67. http://psycnet.apa.org/journals/psp/85/4/756/

[2] Wrzesniewski et al., (1997), “Jobs, Careers, and Callings: People’s Relations to Their Work”, Journal of research in personality, 31, 21-33.

sumber gambar dari sini

Iklan

4 thoughts on “Follow your passion is a bad advice

  1. Ping-balik: Geologist Pertama Indonesia – Belajar Geologi | Geologi & Ranah Rinangkun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s