Journey to PhD (37) – Membersamai Istri Menembus S3 di University of Bristol

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

DeLiang masih demam ketika kami berdua menuju security office University of Bristol, tempat mengambil kartu mahasiswa istri saya setelah melewati proses pendaftaran yang sederhana. Meminta assessment dan cap dari pihak fakultas, international office, lalu ke Jurusan. Semua berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apapun. Tepat tanggal 26 Agustus 2016, Istri saya, Ratih Nur Esti Anggraini, resmi menjadi PhD student di Engineering Mathematics department, University of Bristol. Tak bisa tergambarkan dengan kata-kata apa yang ada dipikiran kami berdua. Namun keberhasilan menggenggam kartu mahasiswa ini seperti membuka kembali memori-memori perjuangan untuk bisa berkumpul bersama-sama, berjihad menuntut ilmu di negeri Ratu Elizabeth ini, tentu saja di salah satu kampus terbaik di dunia. Kalimat berikut ini mungkin adalah gambaran paling gamblang tentang ikhtiar kami:

“Rencana Allah memang tak pernah meleset!”

September dua tahun lalu, sesaat setelah saya menginjakkan kaki di UK, sudah terpatri rencana demi rencana untuk memboyong DeLiang dan Istri saya menuju UK. Namun misi keluarga kami bukanlah sekedar menemani saya menyelesaikan studi S3, namun juga menjadi kesempatan bagi Istri saya untuk melanjutkan studi S3nya di UK. Hampir 8 tahun lalu, mimpinya untuk studi S2 di salah satu kampus di UK harus terkubur dalam-dalam karena hanya mendapatkan beasiswa parsial. Jadi kesempatan menimba ilmu selama studi S3 di negeri ini seperti kelanjutan cerita mimpinya yang sempat tertunda. Beberapa tahun sebelum mengenalku yang kini menjadi suaminya.

ktm

Rumitnya pencarian kampus

Istri saya menekuni bidang software engineering selama bertugas sebagai dosen dan peneliti di ITS. Selama empat tahun setelah kembalinya dia di ITS, risetnya memang banyak berkecimpung di dunia software engineering. Jadinya fokus kami ketika mencari Professor untuk PhD adalah yang dekat dengan riset software engineering. Sayangnya nyaris tidak menemukan salah satupun professor yang pas di University of Bristol (UoB), lebih tepatnya di jurusan Computer Science. Kami lalu berpindah ke beberapa kampus terdekat seperti University of West England (UWE-Bristol), Cardiff University, dan Bath University. Istri menemukan beberapa professor yang pas di University of Cardiff serta 1 professor di UWE. Karena alasan kedekatan universitas dengan saya, akhirnya pilihan kami mengerucut ke UWE. Sayang sekali, nyaris satu tahun berkorespondensi, respon dari UWE tidak sesuai dengan harapan kami. Kelanjutan lamaran S3 Istri saya stagnan sebelum interview. Harapanpun menghilang dan kami hanya bisa terpaku melihat sisa-sisa list professor di kampus UoB dan University of Cardiff.

Peluang untuk menuju University of Cardiff juga harus dicoret setelah syarat IELTS sedikit lebih tinggi (IELTS>= 7.0) sedangkan hasil test Istri saya benar-benar “memaksa” kami untuk memilih UoB karena memang pas-pasan, pas butuh pas dapat (Overall 6.5). Istri saya memang hanya mengikuti kursus academic writing di kampus ITS yang bekerjasama dengan IALF Surabaya. Itupun tidak mampu mendongkrak banyak nilainya karena writingnya tetap saja sangat pas-pasan (6.0). Dengan bekal nekat dan pasrah, test IELTS itu berakhir dengan cukup baik, setidaknya pas untuk lulus UoB.

Titik terang mengenai professor mulai menemukan celah ketika kami membrowsing jurusan Engineering Math di UoB. Beberapa professor ternyata memiliki minat riset yang sesuai dengan bidang Istri saya. Pilihan kami akhirnya bermuara kepada Prof. Trevor Martin seorang professor bidang Artificial Intelligence yang begitu ramah selama berkorespondensi dengan Istri saya. Masalah inipun akhirnya selesai.

Pencarian beasiswa S3 yang berliku

Lewat program beasiswa Islamic Development Bank (IDB), Istri saya memulai perjalanannya mencari beasiswa S3. Saya mendukung penuh persiapannya mencari beasiswa. Dari penulisan aplikasi hingga persiapan dokumen lainnya. Bulan Maret 2015 aplikasi beasiswa IDB Istri saya dikirimkan ke Jakarta, ke kantor perwakilan IDB. Namun berbulan-bulan menunggu hasilnya tak sesuai harapan.

Kami mengubah haluan melamar beasiswa BPPLN DIKTI 2015. Ketika melewati proses pendaftaran beasiswa IDB dan DIKTI, Istri saya menggunakan UWE sebagai universitas tujuan. Sayangnya hingga September 2015, periode terakhir pendaftaran beasiswa DIKTI 2015, Istri saya belum juga mendapatkan LoA dari UWE. Kesempatan untuk mendapatkan beasiswa DIKTI-pun menguap. Bersamaan dengan mulai pesimisnya kami dengan pencarian beasiswa.

Bulan November dan Desember 2015 kami disibukkan dengan pencarian beasiswa S3 melalui program Faculty for the Future (FF), Schlumberger dan LPDP. Saat itupun Istri saya belum juga mendapatkan LoA dari UWE maupun dari universitas manapun. Seleksi wawancara beasiswa LPDP Istri saya juga berakhir tragis karena diprotes habis-habisan oleh interviewer karena dinilai belum menemukan topik riset S3 yang memadai karena belum adanya LoA dan kepastian dengan professor. Di titik inilah kami sudah mulai jengah dengan semua proses pencarian beasiswa namun kami tetap bersabar sembari menyelesaikan aplikasi FF-nya schlumberger. Sekitar bulan Januari 2016, sesaat setelah pengumuman kegagalan beasiswa LPDP Istri, kami akhirnya bisa terhubung dengan Prof. Trevor Martin yang kemudian membantu penuh proses aplikasi S3 Istri saya ke UoB. Selang 2 bulan kemudian Istri saya mendapatkan LoA dari UoB. Berdekatan dengan waktu wawancara beasiswa LPDP untuk yang ke dua kali. Ini kesempatan terakhir bagi Istri saya, jika dia gagal di wawancara ke dua maka namanya akan di coret untuk selamanya dari list pendaftar LPDP dan tidak akan mungkin lagi mengikuti seleksi beasiswa ini. Do or die! 

Perjalanan pencarian beasiswa yang panjang ini seperti ujian bagi kami. Ujian konsistensi, kesabaran, kuatnya ikhtiar, pengharapan, serta tawakkal kepada Allah. Namun kami yakin dan percaya bahwa rencana Allah takkan pernah meleset. Tepat tanggal 10 Maret 2016, akhirnya pengumuman yang ditunggu-tunggu datang juga. Saya dengan gemetaran ketika sedang menjadi Teaching Assistant di kelas computing 1 membuka email aplikasi Istri saya. Dan benar adanya, Istri saya akhirnya resmi menjadi penerima beasiswa S3 LPDP.

We, three, flew together

Dua puluh empat Agustus 2016, kami bertiga akhirnya terbang meninggalkan Jakarta dengan kondisi DeLiang yang masih mengalami radang tenggorokan ditambah panas dan demam. Semua harapan dan perjuangan itu akhirnya berakhir. Namun kami baru saja memulai lembaran baru perjuangan kami sama-sama.

“The next 3-4 months will be very crucial for your study, career, and everything. So don’t waste your time and work hard.” 

deliang2

Pesan supervisorku beberapa hari setelah kedatanganku di Bristol seperti menjadi bukti perjuangan ini masih panjang. Masa-masa krusial penentuan apakah saya akan lulus 3 tahun, kelanjutan karirku sebagai peneliti, dan hal-hal menentukan lainnya harus saya tuntaskan dengan baik dalam beberapa bulan kedepan.

Saat ini saya sedang menulis Chapter 6 sekaligus menyelesaikan analisis Chapter ini. Masih ada analisis Chapter 5 yang belum selesai lalu akan saya lanjutkan dengan proses pengerjaan Chapter 7 dan mempublish 2 paper lagi (at least in total akan 4 paper sebelum sidang). Setelah penuntasan Chapter 7, maka bisa dibilang garis finish akan semakin dekat. Saya masih optimis bisa menyelesaikannya dengan baik.

Bismillah… and KEEP FIGHTHING! 

Iklan

4 thoughts on “Journey to PhD (37) – Membersamai Istri Menembus S3 di University of Bristol

  1. Saya bisa merasakan perjuangan istri, pak.. Mirip dengan saya yang berusaha mendapatkan LoA dari uni yang sama dengan suami.. Dapatnya salah paham hehe.. Muter2 browsing radius sekian km dari Frankfurt, sampe hapal nama2 kota dekat Frankfurt dibandingkan suami.. Pdhl blm pernah sampe jerman hehe..
    Akhirnya dapat di tempat sekarang yang alhamdulillah termasuk uni yang bagus..:)..
    Walau beda kota tapi tetap tinggal di rumah yang sama dan suami jadi roker (rombongan kereta) hehe..
    Semoga lancar semuanya pak..
    Salam kenal utk istri dan anak..
    Selamat berjuang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s