5 tahun pernikahan kami

Bismillah…

Dua hari lalu adalah salah satu momen penting dalam keluarga kami. Lima tahun yang lalu, di tanggal yang sama, saya dan Istri resmi terikat secara agama dan negara sebagai pasangan suami Istri. Biar tidak mengulangi kesalahan melupakan hari ulang tahun Istri tahun lalu, saya memutuskan untuk merangkum kenangan kami bersama selama 5 tahun pernikahan kami. Dibanding membuat video, saya lebih suka menulis, jadilah tulisan ini merangkum kenangan pernikahan kami. Semoga suatu waktu bisa menjadi cerita menarik bagi anak-cucu kami 🙂

Pra nikah

Saya pernah iseng bertanya ke Istri, kenapa memilih saya? waktu itu status saya masih pengangguran dan hanya bermodalkan beasiswa PhD dari National Taiwan University of Science and Tech. (NTUST) sebesar 15,000 NT (kala itu 1 NT = Rp. 300,-). Jawabannya terasa absurd:

“Karena tidak ada alasan untuk menolak abi.”

Entah senang atau bagaimana. Jawabannya sudah cukup membuat saya tidak bertanya lagi. Saya juga beruntung karena memiliki Ibu mertua dan keluarga Istri yang paham bahwa menikah itu soal Ibadah, bukan hanya soal materi. 

Saya baru melamar Istri malam hari sebelum akad. Sebelumnya sudah melamar secara langsung ke Ibu Mertu via telpon (Ayah mertua saya sudah almarhum). Jadilah proses pernikahan itu berjalan dengan lancar. Saya harus meninggalkan Thesis saya yang baru akan sidang 2 pekan setelah pernikahan saya. Istri mengambil libur summer pada tahun 2011.

Tahun pertama (2011-2012)

Tahun pertama pernikahan kami dimulai dengan hidup negeri orang. Di Taipei-Taiwan lebih tepatnya. Kota kembang api sekaligus kota taifun.

Kami mengontrak sebuah flat sederhana berkamar 1 dengan dapur di luar dan berada di lantai 6 tanpa lift. Jadilah episode ke kampus dan ke pasar selalu berakhir dengan ngos-ngosan naik turun tangga 6 lantai. hahahahaha.. That was a good memory though!

DSC_0305-2

Istri melanjutkan studi tahun keduanya sedangkan saya memutuskan melanjutkan studi PhD di NTUST.

Sekitar 3 bulan pernikahan kami, kami mendapatkan rezeki tak terduga dari Allah. Istri saya hamil. Reaksi pertama? cukup panik. Tapi ada kalimat ini yang terngiang di memori saya:

“Jika Allah sudah menitipkan sebuah amanah kepadamu, maka DIA pasti tahu kamu mampu mengembannya dengan baik.”

Saya lupa siapa yang pertama kali mengatakannya, entah Istri atau saya, kami lalu dengan tenang menjalani peran kami sebagai calon orang tua.

“Ingatlah… Setiap Ayah dan Ibu tidak pernah langsung terlahir menjadi sepasang orang tua yang baik. Mereka justru baru belajar menjadi orang tua di hari pertama ketika mengetahui kehadiran buah hati mereka.”

Ada beberapa momen kehamilan yang masih terekam dikepala saya.

Pertama, di tahun kedua kuliah Istri saya, dia mengambil kelas Machine Learning yang konon kata dia susah sekali. Banyak persamaan matematika yang involve dalam kelas ini. Dan Istri saya sudah memutuskan “cerai” dengan matematika sejak dia dapat nilai kurang bagus pas S1. hehehe… 

Saya masih ingat Istri saya sering membiarkan paper-paper dan bahan kuliah Machine Learning bertebaran di atas tempat tidur (dia memang hobi baca paper di tempat tidur. Katanya bagus untuk membuat mata cepat lelap). Perutnya yang mulai membuncit sambil belajar itu jadi semacam scene-scene tak terlupakan dalam memori saya. Menjelang ujian kelas ini, Istri saya ketar-ketir karena tidak terlalu confidence dengan kemampuannya. Kuliah ini berakhir cukup happy ending karena Istri saya bisa dapat nilai 83. FYI, nilai 83 nih termasuk di level biasa saja kalo di NTUST. hehehe…

Kedua, kami rutin memeriksakan kehamilan Istri saya di National Taiwan University Hospital. Karena jadwalnya sering berbenturan dengan waktu Ashar, kami berdua sering sholat jamaah bersama di kursi ruang tunggu sambil menunggu antrian. Terkadang saya dan Istri tilawah sambil mengelus-ngelus DeLiang yang kala itu masih di dalam perut. Di masa-masa kehamilan ini juga kami rutin membacakan Q.S. Luqman kepada DeLiang ba’da maghrib. Gak ada maksud apa-apa, cuma menurut kami, kandungan Q.S. Luqman ini pas sekali untuk diingatkan kepada anak kami. Jadilah kami rutin membacakan kepada DeLiang hingga Istri melahirkan.

Ketiga, Istriku selama hamilnya ngidam Niu Ro Mien alias mie daging sapi yang sangat terkenal di dekat Sun Yat Sen Station (ini bener gak ya? sudah lupa nama stasiunnya). Jadilah kami rutin makan di sana. Kayaknya sebulan dua kali. Meskipun lumayan mahal 😛

Istri akhirnya menyelesaikan studi S2nya dengan baik yang ditandai dengan sidang Thesis seminggu setelah melahirkan. Dia lulus tanpa revisi. Waktu ditanya kenapa bisa lulus tanpa revisi jawabannya bikin ngakak:

“Ya karena Profnya kasihan sama Ibu hamil.” hehehe…

Saya akhirnya memutuskan berhenti dari stud S3 di NTUST dan kembali ke Indonesia bersama Istri dan DeLiang. Sebuah keputusan yang tidak pernah saya sesali sampai saat ini.

Kami lalu menghabiskan tahun pertama pernikahan kami di Hongkong. Liburan sederhana dan murah meriah sambil menengok wajah Hongkong yang penuh dengan orang yang ingin belanja. It was a good memory as well.. 🙂

Tahun kedua (2012-2013)

Tahun kedua menjadi tahun-tahun perjuangan. Tahun-tahun menantang soal kemapaman. Kami memulai hidup di Surabaya. Mengontrak sebuah rumah dengan satu kamar sempit dan tentu saja rumah yang sempit di daerah Pasar Keputih dekat kampus istri saya (ITS). Alhamdulillah, kami bahagia-bahagia saja. hehehe.. Tidak pernah kekurangan yang bikin nelangsa.

Saya kemudian diterima bekerja sebagai dosen di Universitas Narotama, sedangkan Istri melanjutkan karirnya di ITS. Di tahun ini pula saya membuat sebuah riset kecil kolaborasi dengan Istri saya. Pengalaman menarik sekaligus menjadi pembelajaran tersendiri bagi saya.

DeLiang tumbuh dengan sehat dan di usia ini dia kadang lebih cepat tidurnya jika digendong oleh saya dibanding Ibunya.

Akhir tahun 2012, kami mendapatkan rezeki nomplok hingga bisa mulai mencari rumah untuk dibeli. Kami akhirnya berhasil mendapatkan rumah dengan harga memadai, 3 kamar yang cukup nyaman untuk keluarga kecil kami di daerah SPR-keputih Surabaya. Waktu itu penuh perjuangan juga sampai bisa membayar sana-sini biaya rumah yang mulai melangit.

Tapi memang rezeki dari Allah tidak akan pernah meleset. Selalu cukup dan mencukupkan.

SAM_5343

DeLiang di pantai Kuta-Bali

Bulan April 2013, akhirnya kami pindah ke rumah baru. Sebulan kemudian saya mengikuti dua conference yang berbeda yang ditulis dari hasil kolaborasi saya darn Istri. Conference tersebut di Seoul-Korea dan Denpasar-Bali. Konferensi di Denpasar adalah konferensi yang diadakan jurusan Istri saya (Informatika-ITS), jadi sebenarnya melakukan presentasi, liburan, sekaligus menemani Istri saya selama menjadi panitia disana. Kami menghabiskan liburan bersama sekeluarga di Denpasar. Menyewa motor dan berkeliling di beberapa spot-spot penting di sekitar Denpasar. It was just fine. Not really great memory. Munkin karena daerah Kuta tempat kami tinggal memang suka penuh dengan wisatawan, jadinya kami tidak terlalu menikmatinya.

Sepulang dari liburan ini saya masih ingat, kami kehabisan uang. Alhasil membongkar recehan yang ada di rumah karena gaji baru cair besoknya. hahaha… Pengalaman ini justru membuat kami lumayan mengerti rasanya uang habis sehabis-habisnya :))

Tahun ketiga (2013-2014)

Ditahun ini saya memulai mencari Beasiswa S3. Istri saya memang ingin melanjutkan PhD ke Australia atau Eropa. Jadilah mulai berburu beasiswa. DeLiang tumbuh dengan sehat. Kami bersyukur dia tidak sakit yang macam-macam. Tidak banyak kejadian menarik di tahun ini selain pada bulan Mei saya resmi mendapatkan beasiswa S3 dari DIKTI ke Bristol University. Diakhir tahun ke-3 pernikahan kami, saya disibukkan dengan urusan keberangkatan dan proses persiapan studi S3.

Tahun keempat (2014-2015)

Ini adalah tahun kami menjalani LDR. Tentu saja terasa sekali beratnya. Terutama Istri yang harus berjuang sendiri sebagai working mom tanpa suaminya. DeLiang beberapa kali sakit di tahun ini. Untungnya dia sakitnya ketika sedang liburan di Trenggalek dan bahkan sempat masuk Rumah Sakit.

Di ulang tahun pernikahan kami yang keempat, saya sedang berada di jepang untuk keperluan riset. Perpisahan kurang lebih 10 bulan itu sangat mendewasakan hubungan kami. Terutama saya pribadi. Saya jadi lebih menghargai ikatan kami.

Memang jarak yang membentang selalu meninggalkan kesan yang mendalam.

Ditahun ini juga Istri mencoba peruntungan beasiswa IDB. Namun sayang gagal karena belum menemukan kampus yang tepat.

Tahun kelima (2015-2016)

Tahun kelima adalah tahun perjuangan Istri saya mencari beasiswa S3. Dimulai dengan test IELTS yang membuat saya nervous bukan kepalang menunggu hasilnya. Hingga mencari kampus S3 yang memungkinkan untuk bisa berkumpul bersama saya. Istri saya mencoba melamar banyak beasiswa dari DIKTI, IDB, Schlumberger, hingga LPDP.

Beasiswa DIKTI gagal terlewati karena kurangnya dokumen Unconditional LoA. Waktu itu kampus tujuan Istri saya kurang memberikan respon yang positif. Alhasil Istri gagal mendapatkan beasiswa DIKTI di tahun 2015. Di tahun yang sama Istri juga melamar LPDP (gelombang pertama) dan Schulumberger. Namun lagi-lagi gagal karena kendala Unconditional LoA.

Barulah pada Maret 2016, Istri saya dinyatakan sebagai salah satu awardee LPDP setelah melewati proses pencarian beasiswa yang panjang.

bertiga

Saya berkesempatan pulang ke Indonesia dan berliburan bersama DeLiang di Ternate selama seminggu sebelum Istri saya bergabung kembali setelah  melewati PK LPDP. Liburan ke Ternate memang selalu menjadi kenangan paling manis karena selain bisa bersilaturahmi, kami juga berkunjung ke banyak tempat wisata alam yang menakjubkan.

Di akhir tahun ke lima ini kami disibukkan dengan persiapan keberangkatan Istri dan DeLiang ke UK. Saya juga disibukkan dengan studi S3 yang sudah memasuki akhir tahun kedua. Perjalanan ke Jepang, conference di Turki hingga pengerjaan jurnal dan PhD thesis dilakukan bersamaan dengan persiapan aplikasi Visa UK Istri dan DeLiang juga kepindahan keluarga kami ke UK.

Tahun keenam, Insya Allah, akan dimulai dengan membuka cerita baru bagi keluarga kami di Eropa. DeLiang akan memasuki usia sekolah (4 tahun) dan memulai kisah pendidikannya di sini.

Semoga ikatan ini terus berlanjut hingga puluhan tahun kedepan. Berharap berakhir bahagia di Syurga-Nya.

Amiiin..

Bristol, 4 Juli 2016

Iklan

2 thoughts on “5 tahun pernikahan kami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s