Journey to PhD (35) – Separoh Jalan

Bismillah…

Langit Kyoto mendung hari ini. Menyapaku dalam udaranya yang sejuk. Seperti memberi pesan bahwa aku sedang berada di antara ruang perjalanan antara Indonesia dan Inggris. Di awal Mei ini, aku kembali menginjakkan Kyoto. Sebelas bulan yang lalu, kota yang penuh sejarah ini merekam manis perjalanan menjadi visiting PhD researcher di Disaster Prevention Research Institute (DPRI) – Kyoto University. Menghabiskan lebih dari satu pekan menggali pengalaman untuk diriku yang masih terlalu polos sebagai seorang PhD student. Baru enam bulan perjalanan studiku kala itu ketika pesawat Malaysia Airlines menerbangkanku menuju Kansai International Airport-Osaka.

Dan malam ini…

Sudah separoh perjalanan studi PhD-ku. Hanya syukur yang bisa terucap karena tak ada yang mampu mereprsentasikan semua kenikmatan yang sudah diberikan oleh-Nya.

Telalu banyak faktor luck dalam studi S3

UoB

Begitu kata seorang rekan PhD student di Kyoto University. Mungkin begitulah gambaran rangkaian perjalanan panjang menyelesaikan studi S3. Begitu banyak faktor keberuntungan yang bermain didalamnya. Untuk itu, rasanya bagi kita yang memiliki Allah di dalam dada, tidak ada yang paling menenangkan selain kepasrahan atas semua ikhtiar dan do’a kepada semua ketentuan terbaik yang telah diatur oleh-Nya.

Seperti saat ini..

Aku tak pernah membayangkan bisa pulang ke Indonesia setiap tahun dengan gratis. Bisa menjadi visiting student di Kyoto University dua tahun berturut-turut. Bisa disponsori perjalanan akademik ini lewat project riset risk assessment of future tsunamigenic event di Mexico. Bisa bergabung dengan riset kolaborasi bersama reseacrher Mexico, Jepang dan UK. Hingga bisa menyelesaikan draft-draft thesis yang akupun tidak percaya berlangsung dengan sangat baik.

Benarkah ini?

Betulkan riset yang aku kerjakan ini layak untuk sebuah level PhD?

Sudah benarkah langkah yang kulewati?

Entahlah… Aku hanya berpegang erat pada kedisiplinan, pada konsistensi, dan tentu saja pada do’a dan keteguhan. Tidak ada kekuatan terbesar selain alasan tentang mimpi yang sudah lama mengakar, tentang keluarga yang kutinggali selama separoh perjalanan studi ini, tentang kontribusi atau apapun namanya yang sering berkelindan dikepalaku untuk membakar semangat.

Sepekan sebelum kepulanganku ke Indonesia 19 April lalu, aku baru saja menuntaskan modelling dan pre-analysis Chapter ke-5 PhD thesis-ku. Hasilnya akan dipresentasikan di sebuah conference di bidang Coastal Engineering di Turkey Juli nanti. Bersamaan dengan itu, aku terus berdiskusi mengembangkan modelling Chapter ke-6 yang akan dimasukkan dalam sebuah Journal international. Semuanya terasa begitu mudah dan dimudahkan oleh-Nya. Sampai kadang aku ragu, ini benarkah? apakah karena konsistensiku? ataukah hanya keberuntungan belaka?

Terlalu banyak cerita selama melewati studi S3 ini karena adanya faktor keberuntungan. Terkadang, hanya dengan membuka satu lembar paper atau buku yang sudah kubaca berkali-kali lalu kutemukan jawaban atas pertanyaan berhari-hari. Atau lewat diskusi kecil dengan rekan tim riset, aku bisa menemukan solusi atas kendala yang kualami. Terkesan mudah, namun aku percaya Allah telah melihat ikhtiar-ikhtiarku sebelumnya. Akupun yakin dan percaya,

Tidak ada keberuntungan tanpa ikhtiar. Karena keajaiban datang pada mereka yang sudah bersusah payah dalam bekerja

Ada satu titik yang kusadari setelah melewati perjalanan ke Indonesia selama beberapa pekan kali ini,

Kebersamaan bersama keluarga adalah yang terbaik dan tak tergantikan oleh apapun

Merasai hangat kebersamaan bersama dua belahan jiwaku di Surabaya hingga melewati perjalanan ke Ternate dan Halmahera Selatan seperti menisbatkan magisnya kata-kata,

Sejauh apapun kau berkelana.. Tempat terbaik adalah ruang dimana keluargamu disana. Dialah RUMAH.

Yang kau urai cintamu bersama separuh jiwamu. Juga yang kau susun rencana demi rencana untuk membahagiakan kamu dan mereka.

cropped-10-r.jpg

Anugerah yang begitu besar bagi keluarga kami ketika bulan Maret lalu, istriku berhasil menjadi salah satu awardee beasiswa LPDP. Tak lama lagi dua belahan jiwaku ini akan menyusulku ke Bristol. Hanya seorang ayah dan suami yang akan sengat mengerti ini. Berpisah dengan mereka adalah cerita tentang kekosongan jiwa tanpa ada ruh yang mewarnai hari. Berpisah dengan mereka adalah cerita tentang kebosanan karena tak ada penghibur bagi jiwa yang terbiasa dengan kehadiran mereka. Maka akupun menyadari,

Bahwa menjadi seorang ayah dan suami adalah pekerjaan jiwa paling besar yang membutuhkan banyak energi untuk tetap bertahan.

Salah satunya adalah dengan melihat wajah mereka setiap hari. Karena jarak, selalu memberikan ruang untuk terpisah. Sekuat apapun kau mengelaknya.

Hanya saja, jauhnya jarak selalu melahirkan perasaan rindu. Seperti puisi ini, yang kutulis dalam perjalananku menuju Osaka untukmu. Belahan jiwa penenang rasaku.

Dari bandar udara…

hingga sayap-sayap pesawat yang menyentuh awan putih tak berbatas…

Selalu ada rindu untuku..

Selalu ada rindu untuk mimpi-mimpi kita..

Aku masih terus mengepakkan semangat mengejar mimpi..

Agar suatu waktu,

Aku semakin meyakinkanmu..

Bahwa kau tak salah memilihku..

Kyoto, 10 Mei 2016

Iklan

3 thoughts on “Journey to PhD (35) – Separoh Jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s