Journey to PhD (31) – 1 Tahun Menjadi Mahasiswa S3

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Bismillah…

15 September lalu, akhirnya saya berhasil menyelesaikan salah satu tahap penting dalam studi PhD saya. First year review. Sidang yang hanya berlangsung kurang dari satu jam ini berhasil dituntaskan dengan nyaris sempurna. Saya beruntung karena diuji oleh seorang Dr. muda asal Italia yang tidak “cerewet”. Dan lebih beruntungnya lagi, beliau adalah Istri (atau Pacar?) dari postdoctoral yang berada di grup riset supervisor saya. Sebenarnya tidak ada hubungannya juga, karena orang-orang disini sangat fair dalam melakukan assessment. Namun saya tetap saja mengkategorikan ini sebagai keberuntungan. I have too many lucks in my PhD study 😀

Lalu bagaimana hasilnya?

reviw

Screen shot diatas adalah komentar dari reviewer tentang performance saya selama proses review baik lewat report assessment ataupun presentasi yang saya bawakan diruangannya.

Dua hari sebelumnya saya cukup khawatir melewati sidang ini. Namun Alhamdulillah semua berjalan lancar. Satu tahap penting dalam studi saya akhirnya berakhir dengan indah.

Tantangan terbesar

Menjalani studi S3 bukanlah perkara yang mudah bagi siapapun. Sekalipun Anda otaknya encer dan tokcer, takkan pernah menjamin keberhasilan studi PhD Anda. Saya punya rekan yang menjadi salah satu lulusan terbaik di angkatan S2 di NTUST-Taiwan yang terpaksa harus menghentikan studi S3-nya karena alasan tidak nyaman dengan lingkungan di negara tempat ia melanjutkan studi PhD-nya.

Tantangan terbesar menjalani studi tahun pertama saya adalah topik riset yang baru. Background studi S2 saya adalah construction engineering material yang banyak berkutat dengan evaluasi material konstruksi dengan metode tidak merusak (non-destructive test – NDT). Sedang studi PhD saya menyentuh banyak aspek keilmuan yang mengharuskan saya belajar banyak hal. Dari bidang tsunami, seismologist, statistik, hingga analisis resiko. Di awal studi, persamaan-persamaan matematika yang banyak jumlahnya cukup mengintimidasi saya. Namun setelah pelan-pelan memahami konsep dasarnya, saya baru benar-benar menyadari perkataan seorang mathematician yang saya temui di Kyoto lalu:

“Math is only a tool.”

Yupee.. Matemarika hanyalah tool untuk menyelesaikan masalah yang kita kerjakan. Saya tidak membicarakan mereka yang mengerjakan riset tentang matematika, tapi saya membicarakan kita yang memakai matematika sebagai “sarana” untuk menyelesaikan persoalan kita. Maka inti masalah kita ada di pemahaman konsep. Selama kita bisa memahaminya dengan benar maka tantangan ini bias teratasi. Saya termasuk yang merasa sudah sangat buruk pengetahuan matematikanya setelah lulus S2. Orang Taiwan terlalu cinta matematika sampai sayapun jadi ikutan bosan melihat barisan rumus selama 2 tahun studi. Hahahaha…

Tantangan lain, kata sebagian besar mahasiswa S3, adalah manajemen waktu. Dan yeaah! Setidaknya saya tidak begitu merasakannya. Self control dan self discipline adalah kuncinya. Tulisan saya di sini sudah merangkum semua perjalanan manajemen waktu selama studi PhD saya.

I am a lucky PhD student

Saya memang beruntung. Beruntung bisa memiliki supervisor sekeren Dr. Katsuichiro Goda. Bukan hanya saya yang mengatakan ini, tapi beberapa ilmuwan yang pernah saya temui baik dalam bidang Gempa dan Tsunami mengatakan hal yang sama. Bahkan hampir sebagian postgraduate student yang mengenal beliau pasti mengetahui dengan jelas karakter beliau yang pekerja keras, perfeksionis, dan banyak dana risetnya. Hahahaha… Bagian ketiga itu sangat penting. 😀

Salah satu award yang paling prestisius adalah ketika beliau mendapatkan Charles Richter Early Career Award tahun 2012. FYI, Charles Richter award ini seperti “nobel”nya bidang gempa. Dan beliau mendapatkan versi juniornya. That’s absolutely outstanding!

Berkat beliaulah saya belajar banyak hal. Bisa di drill untuk peduli dengan scientific aspect dalam analisis maupun teori. Lebih rinci dan jelas dalam menjelaskan maksud yang kita kerjakan. Hingga berbagai macam tips belajar yang saya dapatkan dan saksikan langsung dari beliau. Seperti kata Jie Song, rekan PhD satu lab saya dari China:

“We are lucky to have him as our supervisor. He is amazing.”

Atau kata Dr. Nobuhito Mori ditengah diskusi intens kami tentang hasil tsunami simulation saya di Kyoto beberapa bulan lalu.

“Katsu is amazing. I don’t know how he manages his time in order to publish a bunch of papers every year.”

Tahun pembelajaran

Tahun pertama ini juga menjadi tahun pembelajaran bagi saya. Saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah tentang MENULIS. Bukan menulis novel tentunya :P. Tapi menulis ilmiah dalam Bahasa Inggris yang baik dan benar. Saya baru menyadari buruknya kualitas writing saya setelah menerima ribuan revisi setiap kali menyelesaikan report yang akan saya diskusikan dengan pembimbing 1 maupun pembimbing 2. Menulis memang perkara latihan, semakin lama Anda belajar maka semakin terasah kemampuan Anda. Saya lagi-lagi beruntung dibimbing Katsu. Beliau ribuan kali merevisi report saya, membenarkan Bahasa saya, hingga memberikan masukan yang banyak membantu meningkatkan kemampuan writing saya.

Tahun ini juga saya berhasil menyelesaikan DEM and Bathymetry database yang akan kami luncurkan sebagai version 1.0. Proses panjang ini membantu saya untuk belajar programming. Walaupun punya basic yang pas-pasan, saya tetap memulainya dari NOL karena banyak hal yang harus saya ketahui untuk membuat database ini. Proses panjang berbulan-bulan dengan 12-13 kali revisi akhirnya hampir selesai. Saya tinggal menyelesaikan satu bagian revisi penting sebelum menyelesaikan database ini dengan baik.

pros

Pencapaian-pencapaian

Saya berhasil menorehkan beberapa hal penting yang menbjadi penyemangat luar biasa untuk melanjutkan studi PhD saya yaitu:

  1. Menjadi Visiting Scholar di Kyoto University yang disupport oleh International Strategic Fund 2015 program dari University of Bristol. Ini menjadi grant pertama saya selama studi PhD.
  2. Mendapatkan Arthur Holmes Travel Grant 2015 untuk belajar tsunami investigation using geological record dari London Geological Society. Saya akan menghabiskan 3 hari di Shetlands Islands, sebuah pulau terluar di UK yang dekat dengan Kutub Utara dan Norwegia untuk menjalani field study.
  3. Meluncurkan DEM and Bathymetry database version 1.0. Hasil kerja berbulan-bulan yang akan menjadi salah satu chapter di PhD thesis saya. Bisa dibilang chapter ke-3 setelah Introduction dan literature review.
  4. Diterima di International Journal of Earthquake Engineering Frontiers untuk special topics: Mega Quakes: Cascading Earthquake Hazards and Compounding Risks. Special issue ini akan diisi artikel dari berbagai ilmuwan yang selama ini mengerjakan riset tentang Cascading Earthquake Hazards. Beberapa dari mereka sangat saya kagumi karya-karyanya.
  5. Submit 1 paper ke 16 World Conference on Earthquake Engineering (16WCEE) yang merupakan conference 4 tahunan yang Insya Allah akan diadakan di Chile. Jika diterima, saya berencana kebeberapa negara di Amerika Selatan seperti Meksiko dan Peru yang memang bebas Visa bagi warga Indonesia.
  6. Buku ke-2 saya terbit sekaligus novel pertama saya, Islammu Adalah Maharku. Ini menjadi motivasi tambahan untuk serius menekuni dunia kepenulisan.
  7. Naskah buku ke-3 saya sudah 90% rampung.

Islammu_adalah_Maharku

Alhamdulillah, all praises to Allah. Tidak ada yang memudahkan selain Allah. Supervisor saya juga mengajak saya mensubmit 1 paper conference di Viena jika hasil riset saya cukup baik. Juga kemungkinan 1 paper lagi di International Journal awal tahun depan. Semoga semua rencana berjalan dengan lancer.

Saat ini saya sedang berada di Shetlands Islands. Tepatnya di Sumburgh Airport. Saya sedang mengikuti field study sebagai bagian dari Arthur Holmes Travel Grant 2015 yang saya dapatkan April lalu.

Tulisan ini saya selesaikan setelah mengirim revisi jurnal paper kepada supervisor saya sambal menunggu peserta field study yang datang dari berbagai belahan dunia.

“Tidak ada prestasi tanpa kerja keras, tidak ada keberkahan tanpa niat yang benar. Dan niat yang benar adalah yang selalu terpulang kepada Allah.”

Semoga menjadi penyemangat untuk terus berkarya.

Jia You!

Sumburgh – Shetlands Island, Scotlandia. 22 September 2015

Iklan

4 thoughts on “Journey to PhD (31) – 1 Tahun Menjadi Mahasiswa S3

  1. Assalamualaikum wr wb, gimana kabarnya akhi……masya Allah sekian lama ndak ketemu kangen ketemu dengan antum dan temen2 yg dulu biasa bersua di masjidnya akh Sabli…insya Allah semoga ada waktu bisa bersua kembali…thanks ya untuk tulisan2 yang menginspirasi dan penuh petuah…..bagaimana kabar keluarga dan kapan menyusul? Salam hangat dari bumi Cendrawasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s