Journey to PhD (30) – Menjelang PhD annual review

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Bismillah…

Prolog

SIDANG!

Ya, sidang. Terdengar angker untuk setiap mahasiswa yang sedang berjuang keras untuk meraih gelar pendidikan yang sedang ia tempuh. Entah sudah berapa kali melewati masa persidangan kaya terdakwa aja, baik itu sebagai tim penyidang atau yang disidang (nah ini baru 2 kali), tetap saja saya masih merasa terintimidasi.

15 September nanti akan jadi hari yang sangat penting bagi kelanjutan PhD saya. Saya akan melewati First Year Review. First year review ini bisa disebut sebagai ujian kandidasi. Yang akan menentukan apakah kita layak menjadi PhD student atau tidak. Biasanya yang sudah melewati sidang ini suka sekali meletakkan gelar PhD Cand. (PhD Candidate). hahaha.. Lulusnya kapan belum tahu 😛

Di Taiwan, yang sistemnya hampir mirip dengan USA, biasanya lebih rumit dibanding di UK. Ada persyaratan nilai kuliah di 2 semester pertama Anda harus lulus (biasanya diatas 70 atau bahkan ada yang 80), kemudian ada ujian kualifikasi yang menguji materi-materi dasar dibidang yang anda geluti. Umumnya di Taiwan ada 3 mata kuliah yang diuji, satu saja tidak lulus maka Anda tidak berhak menjadi PhD candidate. Setelah melewati proses serumit di atas, beberapa kandidat ada yang perlu melewati fase presentasi riset proposal, yang ini hampir mirip dengan kami di UK.

Di UK sendiri, kita diminta menuliskan sebuah report yang umumnya berisi 4 hal: Research design, literature review, current result, dan future tasks. Model reportnya pun bisa beda-beda tiap fakultas. Misalnya rekan saya dibidang Psikologi Pendidikan membuat seperti proposal riset. Sedang saya di Engineering menuliskan sebuah report yang lebih mirip mini proposal riset tapi ada tambahan-tambahan lain seperti current result, academic-related activities, dan sejenisnya. Batas jumlah katanya sekitar 10rb kata (termasuk reference dan lampiran). Ini untuk kasus di Universitas saya (University of Bristol), mungkin tidak beda jauh dengan yang lain.

atKyoto

@Kyoto University – Ketika menjadi visiting scholar, Juli-Agustus lalu

Kisah dari para mahasiswa S3

Berbagai macam cerita pernah saya dengar dari mereka yang pernah menjalaninya. Dari beberapa cerita PhD student yang saya dengar kira-kira begini hasil dan gambarannya:

Tidak lulus dan diberi waktu extension:

Ada 3 kisah PhD student yang saya dengar mengalami kejadian ini.

Kisah pertama adalah teman lab saya yang harus mengganti topik risetnya karena lack of interest. Setidaknya kata itu yang saya baca ketika secara tak sengaja menemukan form perpanjangan studi yang dia ajukan ke Fakultas. Untuk ukuran mahasiswa PhD, rasanya sudah gak ada yang “gak pantas” apalagi sudah menembus kampus-kampus bagus. Namun seringkali kita tidak beruntung karena satu dan lain hal. Kasus temanku ini, karena dia terlalu “ngeyel” ngerjain riset topik yang sudah dia siapkan semenjak melamar PhD. Alhasil sekarang dia justru mengerjakan riset yang disarankan pembimbing saya. Saat ini dia sudah berhasil melanjutkan risetnya dan lulus review tahun pertamanya. Namun akibatnya studinya jadi terunda 2-2.5 tahun. Pelajaran moral nomor satu: Jangan dulu berlagak pintar dan ngeyel, apalagi Anda mahasiswa PhD tahun pertama. Merasa bodoh dan berjuang terus untuk belajar di titik ini penting.

Kisah kedua yang tidak lulus dan diberi extension karena memang performa dan judulnya kurang bagus. Ini bukan karena alasan ngeyel dan ngotot dengan judul yang sudah dia pilih, namun lebih karena kurang baik performanya. 6 bulan kemudian, dengan berdoa, ikhtiar, dan belajar sungguh-sungguh, fase ini-pun berhasil terlewati. Sekarang yang bersangkutan sudah menikmati gelar PhD di belakang namanya. Percayalah, walaupun “PhD” itu cuma gelar, namun artinya sangat luar biasa bagi para pejuang S3. Ini perkara yang melelahkan dan penuh perngorbanan. Lebay? bisa jadi. hehehe…

Kisah ketiga, dari negeri Wales sana. Kejadiannya hampir sama dengan kisah kedua, bedanya ybs justru tertekan dan tidak bersemangat lagi melanjutkan revisi report untuk review tahun pertamanya. Alhasil, rekannya yang sudah lulus first year review dan sidang bersamaan dengannya ikut memberikan suntikan moral.

Pelajaran moral nomor dua: Jangan putus asa. Orang Asia terkenal sebagai petarung yang tak kenal kalah walau otak pas-pasan! nah kalo ini saya sendiri 😛 Meskipun nanti gagal intinya jangan menyerah.

Tidak lulus dan DO

Ada dua kisah yang pernah saya dengar. Yang pertama dari rekan orang Indonesia di UK yang terpaksa harus pulang karena tidak lulus first year review-nya. Setelah berdiskusi dengan berbagai rekan sesama mahasiswa PhD di UK, penyebab utamanya mungkin karena hubungannya dengan supervisor yang kurang baik. Atau bisa jadi memang dia tidak layak untuk menjadi PhD student. Tidak layak bukan berarti otak pas-pasan ya! Studi S3 itu melebihi semua batas kewajaran proses pendidikan di jenjang yang pernah kita lewati sebelumnya. hehehe…

Kisah ke-2, juga dari negeri Wales sana. Bahasa Inggrisnya bagus, namun sayangnya tidak berhasil mempresentasikan dan menulis kerangka risetnya dengan baik.

Lulus

Nah kalau kisah lulus, sepertinya 95% dari berbagai mahasiswa PhD yang saya tanyakan mereka lulus dengan aman dan damai. Umumnya ada beberapa karakter yang mirip kenapa mereka bisa lulus:

  • Hubungannya baik dengan supervisor;
  • Mampu mempresentasikan kerangka risetnya dengan baik lewat presentasi dan laporan yang ia buat. Ini berarti arah riset sudah terpetakan dengan baik sehingga penguji cukup puas dengan hasilnya.

Masalah bahasa

Kualitas menulis hampir semua mahasiswa yang berasal dari non-English speaking country terutama dengan IELTS pas-pasan kayak saya selalu menjadi momok yang sangat menakutkan 😛

Saya punya kisah yang jadi pelajaran berharga buat saya. Karena sudah tahu tipikal supervisor saya yang super perfeksionis, akhirnya setelah merampungkan 9900 kata untuk report saya, saya mengirimkannya ke proof-read untuk dicek kualitas writing saya. Setelah menghabiskan sekitar 150 pound saya-pun shock menerima feedback yang saya dapat. Karena ternyata koreksi mereka hanya sedikit (10 persenan) yang tentu saja membuat saya kaget. Kenapa saya memakai jasa mereka? karena saya kasihan dengan supervisor saya jika harus mengoreksi ribuan kesalahan yang saya buat. Dengan berat hati saya kirimkan report saya ke supervisor saya. Dan seperti saya duga, revisi yang banyakpun kembali saya terima walau tidak membuat saya stress seperti mempersiapkan laporan tsunami simulation untuk dibawa ke Kyoto-Jepang Juli lalu. Setidaknya saya mencatat satu hal. Proses pembimbingan yang gila-gilaan, dari revisi 9 kali DEM/bathymetry report saya yang sampai sekarang belum kelar, “dimarahin” dan disindir tentang kualitas menulis saya bulan Juli lalu sampe bikin saya stress, dan berbagai komen membangun membuat saya banyak belajar. Satu tahun yang sangat berharga.

IMG-20140920-WA0039

River Avon of Bristol

Belajar dari Dr. Katsu Goda

Selain belajar bagaimana beliau membangun jaringan riset dari berbagai disiplin ilmu, selama proses pembimbingan 1 tahun ini saya merasakan banyak sekali perubahan cara berpikir dalam mengerjakan riset. Saya yang buru-buru, sekarang lebih hati-hati; saya yang tidak kritis dalam berargumen, sekarang jadi mikir berkali-kali lipat ketika hendak menulis kata demi kata dalam setiap laporan atau presentasi yang saya buat, semuanya harus relevan dan punya arti. Gak asal panjang dan banyak; saya jadi lebih mengerti bahwa kualitas kerja yang bagus itu BUTUH WAKTU, jadi jangan pernah pake rumus kerja menjelang deadline, hasilnya akan berantakan. Saya mengalaminya sekali ketika terpaksa mengejar menulis report dalam seminggu karena menunggu hasil simulasi saya. Hasilnya? BERANTAKAN!

Belajar untuk mencintai yang kita kerjakan adalah pelajaran lain yang tak bisa saya lupakan. Betul, bahwa sekolah hingga S3 adalah keinginan dan passion saya, namun terkadang passion itu menghilang walaupun selama setahun ini tidak pernah membuat saya kehilangan semangat. Maka sama dengan mejaga cinta dalam keluarga kita, menjalani proses pendidikan S3 juga membutuhkan semangat marathon yang lama. Yang bisa terus hadir jika kita belajar untuk terus dan terus mencintai apa yang kita kerjakan.

Saya menyukai email revisi dari beliau, walau sering bikin shock therapy ketika pertama kali mendapatkannya; Saya menyukai email-email beliau yang berisi list-list perkerjaan yang saya harus tuntaskan dalam waktu dekat; Saya menyukai semua comment-nya meski lebih sering membuat saya bingung harus bagaimana 😛

Sekitar 3 pekan lagi saya akan melewati sidang, report sudah ditulis dengan baik, tinggal emmpersiapkan diri untuk melewati first year review saya. Ini hanya satu episode kecil dari perjalanan panjang studi PhD saya.

Tetap semangat!

Iklan

3 thoughts on “Journey to PhD (30) – Menjelang PhD annual review

  1. Saya baca satu persatu tulisan anda. Bagus sekali. Menggambarkan keadaan saya di awal smt menjadi phd student. Saya pikir cuma saya yang merasa bodoh, tp ternyata itu penting juga ya. Disindir kayak anak sd dalam menulis report. Tp gak baper sih, emang sy sadar sy hra banyak belajar. Kuliah s3 itu semangatnya kayak lari marathon.., hrs dijaga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s