Journey to PhD (24) – Proses pembimbingan PhD di UK

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Bismillah…

Saya mutusin untuk nulis setelah semua energi saya habis karena marathon riset sejak pekan lalu dan ditutup dengan diskusi 2.5 jam dengan pembimbing 1 dan 2 tadi pagi. Rasanya bohong kalau bilang puasa di UK ini sama saja dengan Indonesia. Efeknya tetap terasa secara fisik yang tidak punya kesempatan makan lebih lama dari di Indonesia 😛 Tapi seperti yang dirasakan sebagian besar rekan-rekan selama puasa, justru masa-masa puasa adalah masa-masa produktif. Otak bekerja dengan baik.

Setelah berjibaku mengejar report tsunami -yang belum kelar- dan masih antri revisi report DEM and Bathymetry database seluruh dunia, hari ini saya KO. Rasanya belum bisa mikir lagi. Saya seharusnya mempersiapkan keberangkatan saya ke Jepang dan Indonesia serta packing meninggalkan house saya saat ini. Tapi TIDAK ADA waktu untuk melakukannya. Saya hanya menyicil baju-baju yang perlu saya pack. Dan hari ini sepertinya saya akan belanja dan jalan-jalan setelah 4pm. This is my limit. 😀

Cerita soal proses pembimbingan. Saat ini pembimbing utama saya adalah orang Jepang, menyelesaikan S1 dan S2-nya di Kyoto University, lalu S3 di University of West Ontario-Canada. Istrinya bule-Canada ternyata (ini info penting ya? hahaha.. Surprise aja beliau nikah sama bule 😛 Anaknya berambut hitam khas Jepang tapi berwajah bule) -sudah mulai ngalor ngidul-.

Pembimbing ke-2 saya adalah asli Inggris. Kalau ketemu beliau, orang pasti tahu beliau sangat cerdas. Matanya itu tajam pandangannya. Dan yang paling menyenangkan, seperti orang Inggris pada umumnya, beliau sangaaat ramah. Saya sangat menyukai berdiskusi dengan beliau.

Wills Building and Cabot Tower with balloons, 2009 Balloon Fiesta

Ada beberapa hal unik selama proses pembimbingan saya dengan mereka:

Pertama: Masih membawa kebiasaan super hormat kepada guru

Ini benar-benar saya rasakan. Setiap menulis email, selalu ada kata “Maaf jika mengganggu”, atau perasaan tidak enak lainnya. Buah didikan kita orang Asia sangat memberi efek kepada saya dalam berinteraksi dengan pembimbing saya di sini. Padahal, pola pembimbingan di sini berbeda 180 derajat dengan di Asia. Di sini, PhD student posisinya setara dengan pembimbing, kita berhak membantah, mangajukan argumen, membuat teori sendiri selama ada dasarnya. Gak ada istilah supervisor sakit hati karena kita sok pintar 😀 Ada kisah seorang PhD yang berhasil menyelesaikan PhDnya tetapi kata pembimbingnya dia gagal melalui proses pembimbingan karena tidak banyak input dari diri dia sendiri. Proses pembimbingan berjalan lebih ke satu arah. Yang tentu saja tidak biasa di sini.

Ketika mengatur jadwal meeting dengan pembimbing 2, saya selalu -dengan sabar- menunggu balasan email karena gak enak kalau nanya langsung. Ternyata langsung ketuk pintu pembimbing ke-2, menanyakan waktu, SELESAI 😀 Ketika saya bilang minta maaf karena mengganggu, dengan cepat sang pembimbing ke-2 mengatakan “No need to say sorry..” lagi-lagi kebiasaan gak enak yang sampe sekarang saya rasa masih sulit untuk saya sesuaikan.

Kedua: Dibiarkan “bebas”tapi dengan tuntutan tinggi

Saya masih ingat kata-kata rekan saya, Ibad, yang sedang studi di ICL.

Disini mah santaiii… Tapi kita diarahkan untuk menghasilkan riset kelas dunia. Sesuai dengan reputasi kampus-kampus di sini

Jadi nih ya.. Biar kate di sini gak ada syarat jurnal untuk lulus S3, gak harus sibuk submitting ini dan itu, namun kualitas riset benar-benar di jaga. Ada juga koq yang akhirnya major revision pas viva gara-gara tidak ada journal yang published. Kita bisa fokus dengan disertasi tanpa perlu memikirkan publikasi.

Suasana pembimbingan memang berbeda dengan Taiwan yang ada lab meeting tiap minggu, atau lebih ekstrim seperti cerita sahabat saya, Tomy, di Shizuoka University-Jepang yang harus meeting 2x seminggu. Di sini kalian mau tidak meeting juga tidak masalah. Bahkan saking “bebas”nya ada teman PhD yang bingung karena supervisornya bilang ketemu sebulan sekali itu terlalu sering. hahahahaha..

What we suppose to do? dibiarin bebas tapi harus maksimal. Which is, sekali lagi, bukan tipe student dari Asia.

Kita ini biasa dikasih. Apa-apa dikasih. Rumus disuruh hapal, penjelasan komplit ada di kelas, tidak dibiasakan untuk bereksplor dengan ide dan cara kita sendiri.

Jadi dibiarin “bebas” ini sebenarnya jadi masalah yang rumit bagi PhD student, terutama dari Asia. Officemate saya dari China, salah satunya. Pusing mengatur waktunya karena dibebaskan. Atau nanti kita yang stress sendiri ketika PhD sudah menyentuh tahun ke-3 atau 4.

Bentuk tuntutan tinggi ini diiringi dengan fasilitas pendukung yang WOW. Kita sangat nyaman mencari akses publikasi hingga riset kolaborasi dengan ilmuwan-ilmuwan terbaik di bidang kita. Jadi wajar jika tuntutan begitu tinggi.

Ketiga: PhD butuh lebih dari 3 tahun

Saya teringat ini setelah bertemu dengan (lagi-lagi) Ibad sebulan lalu di Imperial College of London (ICL) yang mahsyur itu.

Mana ada sekarang PhD 3 tahun?

Saya entah setuju atau tidak, namun sepertinya proses pembimbingan di sini yang “bebas” tanpa “guidance” yang jelas dan fully help dari pembimbing membuat masalah lamanya studi menjadi absurd. Di Jepang, mostly akan lulus dalam 3 tahun, tapi di UK? bersiaplah hingga 5 tahun atau bahkan lebih. Paling cepat bisalah dikejar 3.5 tahun. Mungkin ada yang bisa lebih cepat. Untuk itulah, banyak yang memberikan saran agar kebijakan PhD di UK bisa diperpanjang sampai tahun ke-4 untuk beasiswa DIKTI 😀

Keempat: Beda supervisor Asia vs UK

Karena pembimbing utama saya orang Jepang, dan pembimbing ke-2 saya orang UK. Saya mendapatkan insight yang cukup berbeda. Meskipun pembimbing utama saya sudah tersibghah alias tercelup budaya pendidikan barat, namun khas Asianya masih terasa. Tipe pembimbingan beliau adalah gabungan antara Asia dan UK, yang menurut saya, adalah tipe pembimbingan yang paling bagus. Jadi beliau tidak mem-push, namun mendukung.

bristol-university-tower

Contoh kecilnya seperti ini: Beliau ingin saya hasilkan kualitas riset yang baik, maka beliau dengan rutin memberikan pandangan beliau tentang apa yang saya kerjakan, menyediakan ruangannya setiap saat untuk saya kunjungi jika butuh bertanya, atau bahkan menghubungkan saya dengan peneliti-peneliti kaliber dunia. Selain ke Kyoto, sebelumnya kami bahkan berencana ke Singapura (NTU dan NUS), Indonesia (LIPI dan ITB) dan Jepang untuk menggali lebih dalam riset gempa dan tsunami yang sedang saya kerjakan untuk wilayah Sumatra. Dilain waktu, beliau akan mengirimkan paper-paper yang berhubungan dengan riset saya kepada saya, tidak sering, hanya beberapa kali, namun terus terang membantu saya mengembangkan ide-ide riset saya. Menggali ide bersama dalam diskusi-diskusi kami, hingga melakukan proses revisi yang super perfeksionis. Jadi saya masih merasa terbantu dengan beliau karena sering diberi masukan (khas student Asia yang tidak (atau belum) bisa mandiri), tetapi tidak pernah mengatur saya untuk melakukan ini dan itu. Oh ya, beliau akan mulai bertanya jika tidak ada progress sama sekali. Alhamdulillah saya belum mengalami ini, case ini terjadi di rekan satu lab saya.

Yang paling mencolok dari ke-2 supervisor ini adalah CARA MEREKA MENGAPRESIASI riset saya. Jika pembimbing ke-2 saya yang asli UK itu akan dengan mudah mengatakan:

“Brilliant works. It was a great presentation. You made a lot of progress.” Maka pembimbing pertama saya begitu miskin pujian.

Karena saya sudah tahu orang UK suka muji, maka pujian seperti ini rasanya hambar, alias bukan berrarti yang saya lakukan benar-benar bagus. Untuk itu mendapatkan repon positif atas progress saya dari pembimbing pertama saya selalu bikin saya agak lega. Artinya I did something at PhD level. hahahaha.. Saya hanya khawatir, saya ini sebenarnya lakuin sesuatu yang levelnya bukan untuk seorang PhD student.

Selesai presentasi tadi, akhirnya saya mendengar comment yang cukup penting tentang saya dari Supervisor. Beliau memuji database yang saya buat beberapa pekan lalu lalu mengatakan:

“Ario did well especially after starting his tsunami works last April. He is now in steep learning curve and he is on the right track. HOWEVER, he still needs to improve many things. It is not sufficient yet.”

Lalu dengan sigap pembimbing ke-2 saya merespon: “Don’t worry Ario, we are never sufficient until we become a professor.” hahaha.. Ini pembelaan paling membahagiakan yang pernah saya dapatkan. Saya juga masih bingung makna “sufficient” yang dimaksud supervisorku. Sepertinya berkaitan dengan poor quality of my writing, dan kurang detailnya saya dalam analisis.

Alhamdulillah, progress studi saya masih on the track. Goal terdekat saya adalah menulis jurnal Desember nanti, tentu saja setelah saya berhasil menyelesaikan riset Tsunami sebelum bergerak ke riset Gempa. Lalu akhir tahun 2016, supervisor saya sudah ancang-ancang agar saya siap-siap submit paper ke World Earthquake Conference di Chile. Beliau menjelaskan detail plannya hari ini ketika meeting. Antara was-was, senang, dan pusing karena banyaknya masukan untuk pengembangan riset.

But we have to move on, work hard and Insya Allah someday this PhD journey will be end. Happy ending Insya Allah 🙂

btw, coming soon my first novel on 29 June. Jangan lupa beli! 🙂

sumber gambar: di sini dan di sini

Iklan

8 thoughts on “Journey to PhD (24) – Proses pembimbingan PhD di UK

  1. salam kenal mas ario, saya senasib juga nih, pembimbing utamanya orang jepang, dan co-pembimbing australia. yang pertama jarang memuji dan kaku, yang kedua sering mengapresiasi, sering guyon sudah seperti teman sendiri. memang nyata bedanya ya pendidikan di asia dan barat itu, hehehe…
    ah ya, saya sedang sekolah di kyoto univ. mas mau ke kyoto ya? semoga bisa menikmati indahnya kota kyoto di sela2 risetnya.

  2. Assalamualaikum. Halo pak, seru sekali membaca blog bapak 🙂
    Senang sekali bisa membaca perjalanan suami istri yang sama2 semangat untuk belajar.
    Saya kebetulan lulusan S2 Tokyo Tech dan sedang berfikir2 untuk S3 ke Inggris. Isi blog bapak ini memberikan wawasan baru untuk saya yang merasa agak takut dengan perbedaan “cara didik” dari sensei jepang ke professor eropa.
    Saya bakal (dalam proses sih) baca pos2 bapak tentang kehidupan PhD 🙂 semoga semangat selalu bapak dan istri 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s