Journey to PhD (12) – Manajemen waktu mahasiswa S3

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Ada hal menarik yang sangat ingin saya bagi kepada para pembaca cerita “Journey to PhD”, bagian ini akan banyak manfaatnya jika berhasil dilakukan oleh siapapun, dengan latar belakang pekerjaan apapun. Sederhana sebenarnya, ini tentang MANAJEMEN WAKTU. Ada beberapa hal menarik untuk diaplikasikan dari pola manajemen waktu saya, yang dalam bukti record catatan saya sudah memasuki  hari ke-55. Dalam ilmu psikologis, kebiasaan seseorang bisa dibangun dalam waktu minimal 21 hari. Saya sengaja baru share proses menata waktu saya selama PhD kepada pembaca semua ketika manajemen waktu saya ini sudah menjadi kebiasaan dalam hidup saya.

Walau baru memasuki hari ke-55, banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari para pembaca. Saya berharap tips yang akan saya berikan ini direalisasikan oleh siapapun yang membutuhkan.

Mari kita mulai!

photo0005

TAHAP PERSIAPAN

Saya sudah memodelkan persiapan manajemen waktu saya beberapa bulan sebelum memulai PhD. Saya aktif mencari berbagai macam informasi manajemen waktu dari berbagai referensi maupun pengalaman diri saya sendiri. Ada hal-hal mendasar yang perlu kita ketahui sebelum memulai menata diri kita.

Pertama: Bersihkan jiwa dari noda dan pikiran-pikiran negatif

Ini hal yang paling penting. Sebelum Anda menata diri Anda, saya sangat menyarankan untuk membersihkan semua hal negatif dari pikiran Anda. Jangan sampai ada hal-hal yang mengganggu konsentrasi Anda dalam penataan diri. Jika kita tidak berhasil membersihkan jiwa dari kemaksiatan dan pikiran-pikiran negatif maka dipastikan Anda tidak punya kesiapan diri yang matang untuk ISTIQOMAH.

Hal-hal negatif ini termasuk rasa tidak percaya diri, merasa bukan siapa-siapa, dan menumbuhkan sikap bahwa saya bukan seorang juara.

TIPS: Taubat, Muhasabah, dan Tingkatin amalan yauminya., juga hilangkan rasa minder dan tidak sanggup

Kedua: Punyai standar amalan yaumi

Sudah tahu kan jika para sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang paling dekat dengan Allah? Saya pribadi sangat meyakini bahwa kesuksesan seseorang berbanding lurus dengan usaha kerasnya juga ketaqwaannya kepada Allah. Catat ya: “Kesuksesan yang penuh keberkahan”. Ini sangat berbeda dengan kesuksesan tanpa kebekahan dari Allah. Banyak orang yang sukses tapi dia semakin jauh dari Allah dan semakin dekat dengan dunia. Menurut saya ini bukan kesuksesan yang penuh berkah.

Tengok firman Allah dalam Q.S. At-Thalaq ayat 2-3 dan Al-Anfal: 29

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya DIA akan mengadakan baginya jalan keluar (maksudnya dari kesulitan-kesulitan dunia dan akhirat), dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At-thalaq: 2-3)

“Hari orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya DIA akan memberikan kepada-Mu furqon (petunjuk/pertolongan) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Anda tentu ingin sukses!

sukses dunia akhirat kan? bukan hanya dunia yang Anda tuju. Maka mendekatlah kepada Allah. Sempurnakanlah ketaqwaan kita.

Salah satu sarana yang bisa kita ikhtiarkan agar semakin dekat dengan Allah adalah menjaga keistiqomahan amalan yaumiyah/harian kita.

Jika Anda ingin memulai manajemen waktu dengan baik, maka buatlah target amalan yaumiah Anda terlebih dahulu. Berikut contoh target amalan yaumiyah saya:

  1. Tilawah 1 Juz 1 hari (30-45 menit)
  2. Duha minimal 3x sepekan (5 menit setiap kali sholat)
  3. Tahajjud minimal 5-7 kali sepekan (20-30 menit)
  4. Menjaga sholat 5 waktu (75 menit)
  5. Membaca riyadhus sholihin sebelum tidur (10-15 menit)

Saya sengaja menuliskan jumlah waktu yang kira-kira saya habiskan untuk menyelesaikan targetan amalan ini agar kita bisa memperkirakan pembagian waktu untuk yang lain. Jika kalian sudah memiliki targetan amalan yaumiyah ini maka jagalah. Karena sungguh, jika kita istiqomah menjalankan, justru amalan-amalan yang rutin inilah yang memberikan kita energi terbesar untuk berkarya. Terus terang, semenjak memulai kebiasaan membaca riyadhus sholihin sebelum tidur, banyak sekali manfaat bagi mental saya. Saya semakin bersemangat, semakin bergantung pada Allah juga semakin tak kenal lelah untuk bekerja.

Gak percaya? Coba deh!

Sedikit cerita soal menjaga konsistensi. Yang paling sulit bagi saya adalah sholat dhuha. 4-6 minggu sebelumnya saya rata-rata hanya mengerjakan 1-2 kali per pekan, baru pekan ini bisa sesuai target. Alasannya sederhana, karena saya berangkat sebelum sunrise ke kampus setiap harinya, ketika masuk ke ruangan, pikiran saya langsung ke riset, sering terlupa meskipun saya sudah wudhu setelah berenang. Ini pure kelalaian saya. Saya mencoba mengatasi dengan tidak melakukan apa-apa diruangan sebelum saya mengerjakan dhuha 2 rakaat.

Untuk tilawah, saya tidak mengikuti ODOJ atau apapun, yang jelas waktu tilawah saya sekarang suka berubah-ubah. Berbeda ketika di Indonesia dulu yang selalu saya laksanakan sehabis subuh. Saat ini saya tidak bisa tilawah sehabis subuh karena mengejar bus pertama pukul 7 am. Biasanya saya tilawah dalam dua bagian. 5 lembar pertama ketika selesai sholat maghrib atau Isya di ruangan atau ketika menunggu bus. Sampai sekarang saya belum terbiasa membaca di dalam bus, selain memang tidak bisa konsen karena pusing 🙂 5 lembar sisa saya baca tepat ketika duduk di kamar. Intinya lakukan amalan yaumi yang menjadi prioritas kalian sebelum melakukan apapun.

Ketiga: Siapkan target “dunia” Anda

Kita semua punya mimpi bukan? cita-cita setinggi langit juga harapan yang menggunung. Namun percayalah, Anda tidak akan pernah bisa mewujudkannya jika hanya di angan-angan. Saya juga meyakini, bahwa kita butuh yang namanya “Desakan Internal” di dalam diri untuk mengejar mimpi kita.

Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan targetan dunia ini. Anda lebih tahu dari saya.

Yang menjadi poin paling penting di bagian ini adalah TARGETAN ini mampu MENGGERAKKAN kita. Ini yang paling penting. Biasanya mimpi hanya menjadi coretan di atas kertas atau catatan yang tersimpan di komputer Anda. Jika mimpi-mimpi tersebut belum mampu MENGGERAKKAN Anda, maka banyaklah belajar dari buku-buku biografi orang-orang sukses. Jika belum cukup, berteman baiklah dengan seseorang yang Anda pikir bisa menjadi inspirasi dalam mengejar mimpi-mimpinya. Jika belum berhasil juga, 

Sebaiknya Anda gak usah hidup saja. Allah gak butuh muslim-muslim yang lemah. Islam butuh mereka yang bekerja keras untuk kontribusi dunia. Katanya Islam rahmatan lil alamin? gimana mau jadi pemimpin ummat kalo kita sendiripun ga bisa memimpin diri kita?

Please answer that question in your heart!

LET’S START IT

Cover

Jika persiapan diatas sudah matang mari kita mulai MENATA WAKTU kita.

Pertama: Create your own deep habits!

Deep habits adalah kebiasan-kebiasaan pendukung yang akan memudahkan manajemen waktu dan kerja/belajar kita. Hal-hal pendukung ini antara lain:

  1. Olahraga untuk kebugaran fisik
  2. Hiburan untuk kesehatan mental kita
  3. Menjaga gizi dan kualitas makanan kita
  4. Menjaga amalan harian untuk kesehatan ruhiyah kita

Kita mulai dulu dengan kebiasaan olahraga untuk kebugaran fisik. Saya akan share pengalaman saya.

Sebelum ke UK, saya memang terbiasa olahraga bulutangkis seminggu sekali, yang menurut saya masih kurang. Jika Anda pernah ikut mentoring, bisanya ada form kontrol waktu olahraga yang disyaratkan minimal 3 kali sepekan.

1 bulan pertama saya di UK saya biasanya main bulutangkis seminggu sekali, namun saya mengubahnya dengan berenang 3-5 kali seminggu selama weekdays. Hari ini sudah hari ke-55 saya menjalaninya.

Kenapa renang? karena saya memang suka berenang dan di kampus memiliki fasilitas yang nyaman untuk berenang dengan biaya “hanya” 175 pound per tahun. Sejauh ini rata-rata saya berenang 5 kali seminggu, hanya beberapa kali cuma bisa kesampaian 3 kali seminggu karena sedang di luar kota atau terlambat karena macet di jalan (di UK juga ada macet!) 🙂

Bagaimana dengan hiburan?

Anda bisa memilih hiburan apapun, pengalaman saya adalah dengan menata waktu berikut:

  1. Weekend (Sabtu dan Ahad) dipakai full untuk istrahat, kecuali ada agenda ke luar kota. Saya biasanya di kamar dengan nonton badminton, Dr. Phill show, atau pernah saya menonton film Malaysia gara-gara sedang akrab dengan beberapa orang Malaysia. Terkadang saya mengisi weekend dengan jalan kaki disekitar rumah jika tidak dingin, atau berkunjung ke rumah anak-anak Malaysia. Terkadang juga keluar kota.
  2. Bagaimana dengan diluar weekend? Jika saya merasa pening dengan pekerjaan atau riset, maka saya membuat blok waktu bagi proses penataan waktu saya. Maksud dari blok waktu ini adalah saya menghitung batas waktu saya untuk bersantai selama weekdays (hari kerja). Misal: Saya biasanya bekerja dari 9.30 – 12.30 am kemudian istrahat. Saya bisa mengambil jeda 30 menit atau 1 jam untuk sekedar duduk santai atau jalan-jalan disekitar kampus. Kebetulan, kampus Bristol University dekat dengan city center, jadi saya bisa keliling-keliling menikmati kota sambil menyegarkan pikiran. Waktu santai kita jangan lebih dari waktu yang sudah kita tentukan. Kalau lebih anda harus menggantinya, karena jatah weekdays ini hanya 5 kali seminggu. Setelahnya kita bisa liburan. Saya juga biasanya menghibur diri dengan menulis. Selain menyegarkan pikiran tentu saja jadi rekaman cerita buat anak-cucu saya kelak.

Jika masih sering “main-main” di weekdays, maka itu tandanya Anda belum berhasil menjalankan manajemen waktu Anda. Jika masih belum berhasil, ulangi lagi tahapnya dari TAHAP PERSIAPAN di atas.

Nah! sekarang bagaimana dengan masalah makanan?

Asupan gizi dan makanan ini perlu kita perhatikan. Anda bisa mencari informasinya di internet. Insya Allah banyak yang sudah membahas. Saya akan share pengalaman saya.

Saya biasanya selalu menyeimbangkan asupan makanan saya, kapan karbohidrat jangan berlebihan, kapan lebih banyak makan protein, dan bagaimana menjaga waktu makan agar teratur. Saya bersyukur dikasih sakit magh dan migrain, ini membuat saya lebih aware dengan waktu makan.

Biasanya saya tidak banyak makan karbohidrat (baca: nasi) ketika sarapan. Saya hanya makan sedikit nasi dengan buah-buah berpotein tinggi atau dengan daging yang lebih banyak. Untuk makan malam dan makan siang, saya menjaganya supaya dilakukan tepat waktu. Karena jika terlambat sedikit saja, otak saya biasanya sudah tidak jalan.

Untuk menjaga rutinitas ini saya RUTIN MASAK. Awalnya saya masak hampir tiap hari, tetapi semenjak beberapa minggu terakhir saya memasak 2 hari sekali dengan porsi yang besar. Nanti tinggal dipanaskan di microwave yang berada di common room bagi para PhD student dan staff University. Saya memasak dua kali sehari ini juga karena menghemat waktu agar bisa melakukan aktifitas lain. Saya memasak SEBELUM SUBUH, setelah tahajjud biasanya saya memasak (karena sekarang sedang musim dingin, Subuh baru mulai setelah 6 am.

Masalah amalan harian justeru faktor yang sangat penting dari semua deep habits di atas. Kualitas ruhiyah kitalah yang akan menentukan kualitas kerja dan pemanfaatan waktu kita, ingat sekali kan hadits ke-12 dalam hadits arba’in berikut?

Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi dan lainnya)

Selain itu, dalam hidup kita, apalagi bagi mereka yang beriman, banyak sekali kejadian-kejadian diluar perkiraan kita yang sangat mungkin terjadi. Terkadang hari-hari kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan, atau bahkan kita justeru sering mendapatkan kebaikan dari sumber yang tidak kita perkirakan sebelumnya. Peran Allah dalam mendesain hidup kita-lah yang menjadi kuncinya. Kalau Allah yang mengatur hidup kita, lalu kenapa kita harus jauh dari Sang Maha Pengatur? jika berani menantang Allah dengan meninggalkan-NYA, maka merugilah kita. Lebih sulit lagi kita untuk bangkit dan menata diri ketika terpuruk.

Jadi sudah jelas kan masalah aktivitas pendukung ini?

Kedua: Cara menata waktu

Sudah jelas bukan gambaran cerita menata waktu saya di atas. Nah berikut adalah pola aktivitas keseharian saya ketika weekdays dan jadwal saya memasak.

  1. Bangun 20-30 menit sebelum subuh, sekitar 5.30-6 am, saya biasanya mengikuti waktu sholat di sini. Bahkan di Masjid sholat subuhnya bisa dilakukan pukul 6.45 am
  2. Tahajjud: 5.30-6.00
  3. Masak: 6.10-6.50 (Biasanya saya lakukan di hari Selasa dan Kamis)
  4. Siap-siap ke kampus: 6.5-7 am
  5. Otw to campus: 7-8 am
  6. Berenang: 8-9 am
  7. Sarapan, duha: 9-9.30 am
  8. Riset: 9.30/10 am – 12.30 am
  9. Istrahat I: 12.30 – 1 pm
  10. Riset: 1 – 3 pm
  11. Istrahat II: 3-3.30 pm
  12. Riset: 3.30-4.30 pm (terkadang melaksanakan maghrib di selanya)
  13. Istrahat: 4.30-5 pm
  14. Riset: 5-8 pm (melaksanakan Isya dan tilawah di selanya: kira-kira 25-30 menit)
  15. Otw to home: 8-9 pm
  16. Reading riyadhus sholihin dan persiapan tidur: 9-9.15/9.30 pm
  17. Sleep: 9.15/9.30 am – 5.30/6 am

Jadwal di atas bisa memiliki error artinya terkadang sy tidak bisa sangat tepat waktu. Misal jam riset saya jika dihitung adalah 9 jam, namun rata-rata yang berhasil saya lakukan adalah 7.5-9 jam per hari.  Saya tidak pernah melakuan perencaan waktu untuk weekend, karena 2 hari di weekend adalah acara bebas. Sampai sekarang saya belum berhasil belajar ketika weekend 😛

Saat ini saya sudah tidak rutin menulis jadwal karena sudah terbiasa dengan ritmenya.

Lower Back Injury

HAL-HAL NON TEKNIS

Ada beberapa hal non teknis yang bisanya menjadi kendala untuk menata waktu kita. Catatan yang saya dapatkan dari pengalaman sendiri adalah berikut ini:

MALAS: Jangan DIPELIHARA. Setiap kali bangun dari tidur, udara selalu dingin, rasanya menghangatkan tubuh saya kembali dengan selimut adalah pilihan terbaik. Namun, Alhamdulillah, saya masih ingat, jika saya tidak bangun saya bisa TERANCAM tidak lulus PhD tepat waktu, saya bisa TERANCAM gagal menjadi lulusan Bristol University. Saya selalu mengingat-ngingat wajah anak dan Istri saya di Indonesia. Pengorbanan mereka untuk jauh dengan saya tidak boleh dikotori oleh RASA MALAS. Selama ini ujian ini bisa terlewati. Salah satu pendukungnya karena saya tidur cuku bisa 7.5 jam – 8.5 jam per  hari. Oh ya, saya bukan pengikut teori Kang Romi yang mengatakan bahwa cara manajemen waktu terbaik adalah “Kurangi tidurmu.. Kurangi tidurmu..”

JANGAN BEGADANG: Begadang berarti Anda melanggar kesepakatan waktu yang Anda buat. Saya justru belajar dari diri saya sendiri bahwa saya TIDAK BISA bekerja lebih dari 9 jam non stop. Otak maupun mata saya sudah tidak bisa berkonsentrasi penuh. Riset saya adalah riset pemodelan sehingga banyak berpikir dan simulasi di depan komputer. Saya pernah pulang hingga pukul 1 malam ketika belum menata waktu saya, namun akibatnya fatal. Saya jadi MALAS di hari berikutnya. Semenjak memulai kebiasaan ini 55 hari yang lalu, segalanya berubah. Tubuh saya sehat, jarang sakit, pikiran fresh, target riset bisa diselesaikan dengan luar biasa. Bekerja hingga pukul 10 pm juga tidak baik bagi saya, saya pernah melakukannya dan tidak fit ketika esok harinya.

NGANTUK ketika bekerja: Saya juga beberapa kali merasakannya, namun dalam 30 hari terakhir ini saya sudah sangat segar dalam riset maupun bekerja, jarang sekali merasakan ngantuk yang berlebihan. Hal ini terjadi karena tubuh saya yang fit dan pekerjaan riset saya yang sudah mulai jelas. Tips: Anda bisa minum kopi, tapi jangan keseringan ya! atau minum multi-vitamin. Sekali lagi jangan sering-sering.

TIAP ORANG BEDA-BEDA: Setiap orang tentu punya karakter yang beda-beda, termasuk load pekerjaan yang beda-beda, namun pakailah standar yang sama dengan saya yaitu:

  1. Tidur cukup (7-8 jam)
  2. Olahraga cukup (minimal 3 kali seminggu)#
  3. Hiburan yang cukup
  4. Asupan makanan yang baik
  5. dan tentu saja AMALAN YAUMI yang berkualitas.

Anda bisa menyesuaikan dengan keadaan anda.

MENJADI MORNING PERSON: Saya belajar banyak dari orang UK, mereka adalah orang-orang yang punya life namun hasil kerja mereka efektif dan efisien. Saya pernah belajar di salah satu negara Asia Timur dan sekarang berada di Eropa. terus terang saya lebih menyukai gaya bekerja orang UK dibanding orang-orang Asia Timur. Mereka sangat family oriented, punya life, dan bisa bekerja dengan efisien.

Keep a good record: Di sticky note komputer saya, lengkap record perkerjaan, amalan yaumiyah, dsb day by day. Ini sangat bermanfaat untuk melihat progress pekerjaan riset saya juga waktu yang sudah saya habiskan untuk belajar. You have to create it! 

Demikian cerita panjang soal manajemen waktu. Di share ke sahabat maupun teman dekat ya, pasti banyak manfaatnya

Salam winter dari Bristol

-Di tulis ketika selesai menyelasaikan target riset pekan ini.

Iklan

19 thoughts on “Journey to PhD (12) – Manajemen waktu mahasiswa S3

  1. Ping-balik: Journey to PhD (14) – Gara-gara Progress Report DIKTI | Menjadi Sederhana Itu Indah...

  2. Ping-balik: Journey to PhD (15) – 90 Hari Melakukan Deep Works/Habits | Menjadi Sederhana Itu Indah...

  3. Ping-balik: Journey to PhD (31) – 1 Tahun Menjadi Mahasiswa S3 | Menjadi Sederhana Itu Indah…

  4. Ping-balik: PhD Days-231 | Dwi Joko Suroso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s