Membaca Masa Lalu

Bismillah…

Ada dua kejadian yang selalu membuat jiwa saya terasa sesak karena buramnya masa lalu.

Yang pertama adalah ketika saya sedang membaca, apapun kisahnya, kemudian topik bacaan tersebut menyinggung masalah broken home. Di awal masa kuliah S1 dulu, saya bisa tiba-tiba gemetaran, menangis, dan bahkan tidak bisa bergerak sama sekali karena kisah masa lalu saya yang buram tiba-tiba hadir seketika.

Ternyata, kejadian yang kelam di masa lalu tidak akan pernah bisa hilang dari memori seseorang. Saya menulis ini dengan lega setelah kejadian-kejadian itu sudah berlalu hampir 10 tahun lamanya. Tapi sungguh, rasa sakit, rasa kesal, rasa sedih masih sangat membekas di dada. Baca lebih lanjut

Iklan

Journey to PhD (13) – Menjadi Teaching Assisstant

Bismillah..

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Ini soal KEYAKINAN

Kalian semua percaya bukan bahwa konsep rezeki, jodoh, kematian dan semua hal yang terjadi dalam hidup kita ada dalam kuasa Tuhan?

Saya termasuk orang yang bisa dibilang “terlalu” optimis. Ada beberapa cerita di masa lalu saya yang menurut saya bisa terjadi karena sikap yang terlalu optimis ini.

Saya melamar Istri saya dengan status PENGANGGURAN, alias belum punya pekerjaan tetap. Ya modalnya cuma mendapatkan beasiswa kala itu, tapi beasiswa sifatnya temporary alias sementara. Dan kami bersepakat suatu waktu akan kembali ke Indonesia, tentu saja saya sudah bertekad bulat untuk menjadi dosen, entah dimana.

Banyak yang bertanya, “lalu bagaimana kamu menghadap mertua yo? masa ga ada trik khusus?”

Saya gak punya trik apa-apa, saya hanya SUPER OPTIMIS kalau Istri saya tidak menolak saya, berarti keluarganya juga tidak akan menolak saya. Saya beruntung punya (calon) Istri kala itu yang menyadari betapa pentingnya persetujuan keluarga. Hal ini juga yang menyebabkan jawaban IYA dari dia begitu lamanyaaa. Saya hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 minggu untuk menyetujui bertaaruf dengannya, sedangkan dia butuh waktu sampai hampir 3 bulan sebelum saya mendapatkan kepastiaan bahwa proposal nikah saya diterima olehnya. Rupanya bukan hanya Istri yang menerima saya, tetapi keluarganya juga menerima saya dengan baik. Sampai sekarang, saya bahkan sangat dekat dengan mertua saya 🙂

bristol_alamy_2528322bKarena pengangguran ini, saya tidak pesimis ketika kembali ke Indonesia, saya hanya tetap berpikir posistif bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan do’a saya, apalagi saya sudah berikhtiar sebaik mungkin. Akhirnya ketika kembali ke Indonesia, sebelum memulai hidup di Surabaya saya sudah diterima sebagai dosen di Universitas Narotama. Modalnya cuma YAKIN, Insya Allah akan ada jalan.

Baca lebih lanjut

Pesan Pagi

Bismillah…

“Toloooong.. Jangan sia-siakan Tarbiyah antum bertahun-tahun untuk hanya jadi seseorang yang biasa. Antum adalah poros-poros penguat ummat ini. Maka SERIUSLAH dengan hidup antum, jangan kebanyakan main-main dan santai biar banyak kemanfaatan.

Mau jadi apapun antum nanti, jadilah yang paling terbaik agar Islam tidak lagi diinjak-injak.”

Baca lebih lanjut

Journey to PhD (12) – Manajemen waktu mahasiswa S3

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Ada hal menarik yang sangat ingin saya bagi kepada para pembaca cerita “Journey to PhD”, bagian ini akan banyak manfaatnya jika berhasil dilakukan oleh siapapun, dengan latar belakang pekerjaan apapun. Sederhana sebenarnya, ini tentang MANAJEMEN WAKTU. Ada beberapa hal menarik untuk diaplikasikan dari pola manajemen waktu saya, yang dalam bukti record catatan saya sudah memasuki  hari ke-55. Dalam ilmu psikologis, kebiasaan seseorang bisa dibangun dalam waktu minimal 21 hari. Saya sengaja baru share proses menata waktu saya selama PhD kepada pembaca semua ketika manajemen waktu saya ini sudah menjadi kebiasaan dalam hidup saya.

Walau baru memasuki hari ke-55, banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari para pembaca. Saya berharap tips yang akan saya berikan ini direalisasikan oleh siapapun yang membutuhkan.

Mari kita mulai!

photo0005 Baca lebih lanjut

Letter to my Love – 4

Bimisllah…

Dear Umi..

Jika ada yang bertanya tentangmu kepadaku, maka aku dengan yakin mengatakan kamu adalah salah satu manusia paling jujur yang pernah ku kenal.

Kamu mengajarkan kepadaku bahwa kejujuran adalah bukti dari kesempurnaan akhlaq seorang muslim. Sekecil apapun, sepahit apapun, kejujuran tetaplah yang utama.

Untuk itu cinta, jagalah kejujuranmu seperti perisai yang takkan pernah lepas dalam perang-perang para prajurit, meski engkau dalam keadaan terdesak, meski engkau dalam keadaan tertekan. Jagalah kejujuranmu, karena kuyakin ini menjadi saranamu menuju Syurga Allah. Tempat yang kita rindukan sama-sama.

Dear Umi..

Jika ada yang bertanya tentangmu kepadaku, maka aku dengan yakin mengatakan, engkau adalah Istri yang kuat.

Aku pernah berujar kepadamu, “Mungkin perlu ada khadimat yang membantu Umi di rumah..” Namun di luar dugaan umi menolaknya, dengan alasan yang aku percayai tidak akan mudah keluar dari Istri yang ditinggal suaminya lebih dari 15.000 Km jauhnya.

“Gak usah bi.. Nanti Umi jadi manja.” Baca lebih lanjut

Journey to PhD (11) – Membawa kebiasaan “ga enak” dari Indonesia

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Seperti cerita saya sebelumnya di sini bahwa Juni 2015 nanti saya dan professor akan melakukan trip ke Disaster Prevention Research Institute (DPRI), Kyoto University juga berencana mengunjungi seorang Prof. bidang Earthquake disana. Seperti kebiasaan umum orang-orang di UK, perencanaan yang matang dengan schedule yang rapi juga disiapkan oleh pembimbingku.

Kamis, 20 November 2014, pembimbingku mengirim email rencana keberangkatan kami ke Kyoto – Jepang. Beliau menanyakan apakah saya berminat untuk melakukan joint research collaboration dengan lembaga tertentu di Indonesia atau tidak. Diskusi kemungkinan kerjasama riset ini kami lanjutkan ketika meeting bersama sehari setelahnya.

Seminggu setelah meeting tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk belum melakukan kolaborasi riset dengan peneliti di Indonesia. Alasannya sederhana, bahan-bahan riset saya belum matang. Maklum baru 2 bulan menjadi PhD student 😛 Mungkin berbeda ceritanya jika saya alumni ITB yang melakukan riset di sana bersama pusat mitigasi bencana Indonesia, saya pasti akan langsung melakukan kolaborasi riset. Alasan lain, karena jadwal keberangkatan kami harus benar-benar fix, tanggal berapa, dimana, dan detail lainnya. Saya merasa tahun ini belum waktunya. Semoga tahun depan ada kesempatan lain. Insya Allah.

Kyoto1

Seminggu setelah email di hari kamis tersebut, saya mengirimkan balasan terkait keputusan saya untuk hanya melakukan kunjungan ke Kyoto. Mulai dari sinilah cerita sikap “ga enak” ini dimulai.

Sponsor keberangkatan kami ke Kyoto University adalah grant dari The Royal Society – Daiwa Anglo-Japanese Foundation Joint Project Grants yang dimenangkan pembimbing saya tahun ini. Beliau memang beberapa kali mendapatkan award/grant yang outstanding, inilah salah satu alasan saya menjadikan beliau sebagai pembimbingku. GRANT ini membuka peluang bagi beliau untuk melakukan riset kolaborasi dengan peneliti-peneliti di Jepang yang sudah beliau lakukan sejak tahun 2010. Hampir tiap tahun, setiap mahasiswa PhD-nya dikirim ke DPRI-Kyoto University untuk belajar tsunami dan earthquake simulation atau melakukan riset bersama mereka.

Saya kemudian diminta detail flight yang ingin saya gunakan menuju Kyoto. Untuk tiba di Kyoto, kami akan terbang dari London ke Osaka, karena memang bandara international tedekat dengan Kyoto adalah Osaka (Kansai International Airport). Saya diminta juga merencanakan kunjungan saya ke Indonesia untuk bertemu keluarga. Inilah salah satu kebaikan yang tak terduga dari pembimbing saya. He is really a family man! Saya tidak tahu apakah semua orang Jepang seperti beliau, yang jelas rekan saya, Tomy, yang sedang melanjutkan S3 di Hamamatsu-Jepang, juga mendapatkan perlakuan yang sama sepertiku.

Karena diminta merencanakan trip ke Indonesia untuk bertemu keluarga tanpa ada urusan riset, maka dikepalaku adalah bagaimana caranya mencari tiket PP murah dari Osaka-Jakarta/Surabaya. Saya berfikir tiket London-Osaka sudah dipesankan Beliau. Surprisingly, beliau menanyakan preferred flight yang saya inginkan. Karena bingung, saya justru mengirimkan preferred flight Osaka-Jakarta dengan Air Asia (mencari yang termurah) dan Jakarta-London dengan Garuda (Again, mencari yang termurah). Saya berfikir beliau hanya ingin mencari tahu rencana keberangkan saya ke Indonesia dan kepulangan saya ke UK. Saya juga tidak menyertakan rencana flight ke Osaka dari UK, seperti yang saya sebutkan tadi, mungkin beliau sudah memesan. Baca lebih lanjut