Journey to PhD (5) – Finally, Bristol University

Bismillah..

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk “Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Biar lebih mantep membaca cerita saya yang ini, sebaiknya yang belum menengok cerita sebelumnya, bisa membuka laman ini.

Akhirnya ada panggilan Interview

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, ditengah proses mendaftar beasiswa DIKTI, saya terus membuka harapan untuk melamar beasiswa melalui skema PhD position. Ada 3 Universitas yang akhirnya saya masukkan yaitu TU Delft – Belanda, Universitas Nantes – Perancis, dan NTNU – Norwegia. Setelah memasukkan lamaran sekitar akhir Februari, ditengah mempersiapkan riset S3 saya di Bristol University, secara mengejutkan saya mendapatkan undangan Interview untuk PhD position di TU Delft. Sore hari, 20 Maret 2014, tiba-tiba email dari Prof. Guang Ye bertajuk “Invitation for a skype Interview” “mendarat” di gmail-ku.

Dear Mr. Ario Muhammad

I would like to invite you for a Skype interview for the PhD position on long-term performance of geopolymer concrete in Microlab, TU Delft. The interview will start from 10:00am (Amsterdam time), Friday, 21 March 2014.

If you are still interested in this position please inform me your availability for the interview.

My Skype account: ******

Thank you very much.

Kind regards,

Ye Guang, PhD

Betapa kagetnya mendapatkan undangan ini. Saya segera membalas email Beliau dengan menyatakan ketertarikan saya untuk bergabung dengan kelompok riset beliau. Masalah datang ketika akun Skype saya ternyata sudah hampir 2 tahun tidak digunakan. Sejak kembali ke Indonesia, saya memang jarang sekali memakai Skype sebagai media komunikasi dengan rekan-rekan saya di luar Surabaya. Akhirnya saya memakai Skype istri saya untuk mempersiapkan wawancara bersama Dr. Guang Ye.

Tu-Delft-Library-92

Sejak tanggal 20 Maret malam hingga Jum’at pagi, saya mempersiapkan persiapan wawancara, termasuk mengontak rekan saya yang sedang melanjutkan studinya di TU Eindhoven-Belanda dan tentu saja dia punya pengalaman melakukan wawancara. Beberapa poin yang umumnya ditanyakan dalam wawancara saya list satu per satu dan dihafalkan di luar kepala. Walaupun tidak sama persis kata-katanya, aku mencoba mengambil poin-poin penting untuk diingat agar bisa didiskusikan ketika interview berlangsung.

Sore, pukul 4, akhirnya Saya online di Jurusan Informatika ITS, internet di tempat kerja istriku memang superrr cepppat. Aku lalu mengontak Dr. Guang Ye dan mengatakan bahwa aku telah siap untuk diwawancara. Namun diluar dugaan, ternyata interviewnya berupa video conference, padahal semula Saya pikir hanya kana audio conference 😦

Jadilah saya kelabakan mempersiapkan kamera laptop yang ternyata tidak berfungsi. Cukup panik mencoba satu persatu alat di ruangan istriku. Dari ganti laprop Istri, pake komputer, hingga mengotak-atik berkali-kali jaringan internet yang ada di sana. Beruntung waktu itu ada rekan kami dulu di Taiwan yang sedang belajar mempersiapkan test dosen esok harinya. Laptopnya ternyata bisa dipakai untuk video conference setelah dicoba melakukan skype conference (video) dengan rekannya di Taiwan. Aku kemudian dengan cepat mengganti laptop dan menyalakan skype. Tak lama kemudian, Dr. Guang Ye bisa dihubungi setelah menghilang karena ada keperluan lain.

30 menit setelah pertama kali mengontak beliau, akhirnya Interview berhasil dilaksanakan. Rupanya saya tidak hanya diwawancara beliau, tetapi ditemani oleh Prof. Erik, ketua grup riset mereka, yang kemudian aku ketahui sangat terkenal dalam bidang Self Healing Concrete. Ada beberapa pertanyaan umum yang mungkin bisa dijadikan sarana pembelajaran bagi pembaca sekalian, yaitu:

  1. Di bagian pembuka, saya disuruh memberikan perkenalan yang lebih detail terkait background pendidikan, pekerjaan, keluarga, juga pengalaman publikasi dan penelitian. Di bagian ini semua berjalan lancar.
  2. Saya kemudian ditanyakan terkait pengetahuan umum tentang riset yang saya lamar. Awalnya sedikit bingung dengan pengucapan beberapa kata bahasa Inggris oleh Dr. Guang Ye, karena memang Beliau keturunan China daratan yang masih terpengaruh aksen mandarin dalam berbahasa Inggris. Namun selebihnya pertanyaan tentang ini saya lalui dengan baik.
  3. Pertanyaan-pertanyaan Prof. Erik sedikit lebih ringan seperti: Kenapa memilih TU Delft? Apakah keluarga nanti dibawa? 
  4. Untuk masalah mental, Dr. Guang Ye bertanya kepada Saya dengan mimik serius: “Are you sure to take a PhD here?” Dia ingin memastikan apakah saya siap untuk melanjutkan PhD di Tu Delft? Konon kata Beliau lulus S3 di TU Delft sangatlah susah. hanya sekitar 10-50% saja yang berhasil. Sisanya GAGAL.
  5. Pertanyaan-pertanyaan mengenai pengalaman riset dan apa yang saya kerjakan juga banyak ditekankan oleh mereka.

Secara umum wawancara berjalan lancar dan sukses, sekitar 15 menit. Sedikit lebih cepat dibanding perkiraan saya yang mungkin akan memakan waktu 30 menit. Ini mungkin sinyal bahwa saya sebenarnya bukanlah list kandidat pertama penerima beasiswa S3 di MicroLab Tu Delft.

Sayapun GAGAL

Setelah menunggu hampir satu bulan, dengan penuh cemas, do’a, harapan, dan semua ikhtiar. Akhirnya saya merasa harus give up dan tidak terlalu banyak berharap. Umumnya waktu pengumuman memang berkisar 1-2 minggu. Namun sudah lebih dari 3 minggu, keputusan belum datang juga.

Ketika sedang pulang ke Trenggalek untuk Nyoblos, saya akhirnya mendapat kabar yang sungguh menyesakkan. Yaitu GAGAL untuk diterima sebagai PhD staff di TU Delft. Berikut emailnya:

Dear applicant,

Thank for your interest in our vacancy for PhD in Long-Term Performance of Geopolymer Concrete.

You had a Skype interview with the selection committee. I regret to inform you that, based on qualifications and motivation, we decided to continue with another candidate. Your application is not selected for further consideration. The committee would like to express its appreciation for the trouble you have taken.

We wish you all the best in your future career and thank you for your interest in working at Delft University of Technology.

Kind regards,

on behalf of the selection committee,

Sabine van den Boogerd

Human Resources department

Pengumuman ini saya terima ketika sedang Migrain, sakit gigi dan demam. lengkap sudah “penderitaan” saya. Menunggu berhari-hari ternyata hasilnya nihil. Kegagalan yang entah kesekian kalinya. Tapi saya sangat bersyukur karena telah siap menerima keputusan gagal meraih kesempatan bekerja sebagai PhD staff di TU Delft, apalagi Microlab adalah salah satu lab terbaik dalam bidang Self Healing Concrete. Bukan hanya di Belanda, tapi di dunia. Bergabung dengan tim riset mereka akan menjadi pengalaman tak tergantikan dengan apapun.

Saya kemudian berdamai dengan keputusan takdir dan mencoba untuk move on.

‘Well.. I still have the last chance..” Sahutku dalam hati sesaat setelah menceritakan hasil wawancara ini kepada Istriku. Seperti biasa, reaksinya biasa saja karena memang kami sangat paham soal rezeki yang sudah diberikan Allah. Pasti keputusan-Nya tidak ada yang “meleset”.

autumn_road_Picture_214462766jvVafd_fs

Membuka asa beasiswa S3 lewat DIKTI

Ketika mendaftar DIKTI saya memang sedikit yakin bisa diterima karena 3 syarat utama untuk lolos beasiswa DIKTI telah terpenuhi dengan baik, yaitu Unconditonal LoA, NIDN, dan kepastian supervisor serta tema riset S3. Saya kemudian hanya berdo’a dan berharap bahwa usaha terakhir ini berbuat manis.

Tanggal 14 April, 3 hari setelah pengumuman yang menyesakkan dari TU Delft, saya mendapatkan informasi dari staff DIKTI terkait pengumuman panggilan wawancara beasiswa DIKTI. Alhamdulillah, saya termasuk salah satu dari calon karyasiswa DIKTI yang lolos untuk dipanggil wawancara. Mulailah saya mempersiapkan segepok dokumen yang tidak perlu saya jelaskan disini. Suatu waktu akan saya tuliskan dalam seri panduan melamar beasiswa DIKTI.

Singkat cerita, 22 Mei 2014, saya mengikuti wawancara beasiswa DIKTI di Grand Palace Hotel Surabaya. Saya bertemu dengan sekitar 20-an calon penerima beasiswa DIKTI yang rata-rata dosen dan berusia lebih 4-5 tahun di atas saya. Saat ini DIKTI memang hanya membuka beasiswa pasca sarjana luar negeri (BPP LN) untuk dosen saja. Skema calon dosen yang sebelumnya dinamakan Beasiswa Unggulan sudah dialihkan ke LPDP.

Sambil menunggu wawancara saya bertemu dengan beberapa dosen dengan masalah sendiri-sendiri. Ada rekan dosen Istri saya yang dulu sudah menerima ADS ketika S2, dan mengatakan pilihan beasiswa DIKTI termasuk iseng-iseng dan pilihan terakhir. Lain lagi dengan seorang dosen di Jember yang juga meraih ADS ketika S2 dan hendak melanjutkan S3 di Selandia Baru, katanya:

“Beasiswa DIKTI itu the best among the worst.”

Kami hanya tertawa mendengarnya. Selain emndengar isu-isu tidak enak mengenai DIKTI, banyak sekali perubahan yang sudah terjadi dan semoga menjalani beasiswa DIKTI mulai tahun 2014 ini akan lebih baik.

Iseng-iseng, kami mengitung berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan interview DIKTI. rata-rata adalah 15 menit. Hari itu tidak ada rasa tegang sama sekali karena memang saya well-prepared. Saya bahkan membawa Letter of Statement dari calon Supervisor saya, Dr. Katsu Goda, yang menyetakan bahwa Beliau siap membimbingku. Rupanya surat ini termasuk cukup sakti ketika wawancara berlangsung.

Ada juga beberapa dosen yang sudah “pasrah” karena terkendala dengan LoA yang masih bersyarat (conditional). Mereka sudah menyerah karena memang ketika pembukaan berlangsung, sang reviewer sudah mengatakan bahwa conditional LoA umumnya menjadi alasan tidak mendapatkan beasiswa DIKTI. Kami hanya saling menyemangati. Namanya juga senasib seperjuangan. Hanya saja, yang menarik adalah melihat semangat para dosen-dosen ini untuk meraih beasiswa ke luar negeri. Ada yang bela-belain terbang dari Kupang, datang dari Malang, diantarkan suaminya, hingga wajah sumringah penuh harapan yang terpancar dari mereka. Andai saya MENDIKNAS, sudah saya loloskan mereka semua. hehehehe.. 😛

Menjelang duhur, akhirnya nama saya dipanggil. Saya kemudian menuju meja paling ujung yang telah diduduki oleh 2 orang reviewer. Dua orang Prof. yang berumur sekitar 50-an.

“It’s Ario Muhammad?” Sapa reviewer berbaju krem dengan wajah ramah.

“Yesss..” Balasku santai. Aku kemudian mengajak salaman, tapi tidak direspon 😦

Kejadian ini membuatku teringat dengan Prof. Hwang yang saya ajak salaman pertama kali ketika bertemu. Beliau juga tidak merespon sambil berkata,

“It is not the culture in Taiwan.”

Aku tentu saja bengong 😀

Pertanyaan pertama adalah tentang nilai IELTS di sesi listening-ku yang hanya 5.5. Reviewer pertama cukup bingung kenapa saya bisa mendapatkan Unconditional LoA sedangkan total IELTS score saya hanya 6.0. Saya kemudian menjelaskan tentang wawancara dari Bristol, dan beberapa alasan kenapa saya bisa diterima di Bristol University. Responnya membuat saya lega.

“Well.. Your English is very good. IELTS score does not represent your real English ability.” Yeaaay! Senang sekali dengarnya 🙂

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya berlangsung lancar dan sangat meyakinkan. Tentang riset, rencana publikasi internasional, dan juga surat pernyataan supervisor yang langsung ditulis oleh calon supervisor saya. Sang reviewer heran dan menanyakan apakah saya bertemu langsung hingga bisa mendapatkan surat ini?

“No.. I did not meet him. I just had an interview with him.” Balasku singkat.

5 menit kemudian, proses wawancara berakhir. Diisi dengan kalimat-kalimat bercanda menggunakan bahasa Indonesia. Wawancara tidak lagi berlangsung dalam bahasa Inggris. Saya hanya bisa memaksakan tertawa untuk lelucon yang menurut saya sangat tidak lucu 😛

Aku kemudian disuruh keluar dan membawa semua dokumenku sambil nyeletuk.

“We don’t need your documents. Take these.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya lalu keluar dengann wajah sumringah. Pertanyaan keluarga sama sekali tidak disinggung, saya menduga karena mereka mengira saya masih BUJANG. hehehehe..

Aku masih menyaksikan salah seorang calon karyasiswa yang masih mendapatkan Conditional LoA sengit berdikusi panjang dengan reviewer di meja dekat dengan pintu masuk ruangan. Wajahnya pucat dan tagang. Aku mengucapkan syukur atas kemudahan dari Allah. Keluar dari hotel, rasa optimisku meningkat.

“Maybe, this is my fate..” Lirihku menuju parkiran, lalu bergerak ke timur meninggalkan Grand Hotel Palace yang nyaman.

Ada harapan baru yang membuncah.

hamburg

And finally… I got it

Berhari-hari saya mengecek website DIKTI. Pengumuman beasiswa memang tidak pernah diberitahukan via email sehingga kita perlu mengeceknya langsung dari web DIKTI.

Dua pekan setelah wawancara, tepat tanggal 5 Mei, akhirnya DIKTI mengumumkan hasil wawancara. Hasil lengkapnya ada disini:

http://www.dikti.go.id/id/2014/05/05/pengumuman-hasil-wawancara-beasiswa-pendidikan-pascasarjana-luar-negeri-bpp-ln-ditjen-pendidikan-tinggi-gelombang-2-tahun-2014/

Nama saya termasuk satu diantara 42 calon penerima beasiswa DIKTI yang selanjutnya akan mengikuti lokarkarya persiapan keberangkatan ke negara tujuan pada 12 Mei nanti. Ada beberapa rekan yang gagal dan turut sedih mendengarnya mengingat pengorbanan mereka yang luar biasa.

Senaaaang sekali rasanya akhirnya perjuangan panjang mencari beasiswa sejak Oktober 2013 berakhir dengan indah. Aku kabarkan Istriku dengan sumringah, dia tentu saja sangat senang meski harus segera bersiap untuk ditinggalkan selama kurang lebih setahun karena saya harus mempersiapkan berbagai hal sebelum mereka bergabung berasama saya. Selain tentu saja menunggu istri saya prajabatan dan siap untuk mendaftar S3 serta melamar beasiswa untuk bisa bergabung dengan saya di Bristol University.

Perjalanan menuju UK masih panjang. Masih ada segepok dokumen yang harus saya siapkan untuk mendapatkan SP SETNEG dan Guarantee Letter (GL) untuk pembuatan visa. Namun saya bersyukur akhirnya kepastian beasiswa datang juga.

Walau masih menunggu 2 panggilan wawancara dari TU Delft, saya akhirnya berdamai dengan takdir dan berikhtiar untuk menuju Bristol University.

“Jangan pernah membiarkan kagagalan yang Anda alami menghentikan ikhtiar Anda. Karena sesungguhnya, kesuksesan itu justru letaknya sangat dekat dengan kegagalan yang menimpa. Percayalah, Allah tidak akan menutup mata atas usaha yang Anda lakukan.”

Regards,

Ario Muhammad

Iklan

11 thoughts on “Journey to PhD (5) – Finally, Bristol University

  1. Ping-balik: (Q&A Beasiswa) Bagaimana Mendapatkan Beasiswa Pasca Sarajana Luar Negeri (BPPLN) DIKTI? | Menjadi Sederhana Itu Indah...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s