#Random writing 1

Bismillah..

Sepertinya saya harus belajar untuk tidak terlalu perfeksionis ketika menulis blog. Saya ingin menulis sesuatu yang lebih ringan, tanpa embel-embel mikir harus sempurna. Jadilah saya namakan tulisan-tulisan ringan ini sebagai randon writing. Yupee.. Sudah lebih dari 3 tahun saya jarang sekali menulis sesuatu yang sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Bercerita apapun yang bisa saya ceritakan tentang hidup saya. Well.. I don’t care the followers of this blog will read it or not, I just want to share whatever I want to share.

Week of Game of Throne

Yupee.. Ini super crazy.. Saya bernar-benar di hipnotis dengan serial drama HBO game of throne. Ceritanya yang superbbb.. Casting dan acting yang super keren bikin terbengong-bengong nonton ini. Masalah cuma satu. THIS IS FOR ADULT. Ya iayalah.. Yang namanya film/drama barat adegan2 tak senonoh mah biasa.

Walau ujung-ujungnya dramanya bagus. Tetap aja ga bagus buat ditonton. Mending baca buku, ngerjain yang lain yang lebih penting. Tapi berhubung sedang suka belajar-belajar bahasa, lumayan lah buat nambah kemampuan listening or vocab saya. But again, drama ini ceritanya superrbbbb…

Beasiswa gagal (lagi) dan lolos (lagi)

Well.. Setelah deg-degan nunggu kabar pengumuman jadi PhD staff di TU Delft, akhirnya saya dinyatakan GAGAL DITERIMA. Nerimanya pas lagi migrain, muntah-muntah, dan sakit gigi.

Sempurna!

Tapi, surprisingly, saya ga kecewa. Biasa aja 🙂

Dan ternyata, 2 hari kemudian, saya dapat panggilan wawancara beasiswa DIKTI untuk studi S3 di Bristol University-Inggris.

Senang? Biasa aja. hehehehe.. Mungkin karena sudah berkali-kali lamar beasiswa jadi biasa aja.

Sibuk ngurusin dokumen

Karena tanggal 22 kemarin saya wawancara DIKTI, akhirnya sepekan sebelumnya sibuk ngurusin dokumen. Yaah.. Nasib dosen swasta memang gini. Harus minta surat ijin daftar dan wawancara dari rektor, kemudian ke kopertis minta surat ijin wawancara lagi dari pimpinan kopertis. Ajaibnya, beda orang beda dokumen. Beda waktu, beda kecepatan selesainya surat. Dan tergantung KEBERUNTUNGAN.

Jadi melamar beasiswa DIKTI itu soal KEBRUNTUNGAN.

Bayangkan saja, dari daftar online saja, saya termasuk yang berhasil daftar setelah menunggu 3 pekan tanpa ada kejelasan karena webnya yang DOWN. AJAIB. Banyak yang tidak bisa upload maupun konfirmasi pendaftaran. Sampai sekarang tidak tahu alasannya kenapa.

Ada salah satu dokumen yang absurd ketika menjelang wawancara. Namanya SURAT KONTRAK KERJA yang DILEGALISASI NOTARIS.

FYI, Legalisasi itu BEDA dengan legalisir. Jika legalisir, kita cukup membawa aslinya, lalu akan dilegalisir notaris. Sedangkan LEGALISASI, sang notaris harus ada bersama kita lalu membaca dan mengcek isi kontrak kerja antara saya dan yayasan PT saya kemudian di tanda tangani. Karena saya ngurusin ini baru hari Senin, dan wawancara hari Selasa, dan juga baru paham bedanya LEGALISASI dan LEGALISIR, akhirnya saya putuskan untuk di legalisir saja. Karena cepat dan murah. Padahal yang diminta dikti LEGALISASI. -_-

Di hari wawancara

Hari wawancara tiba. Rasanya biasa saja. Tidak seperti diwawancara Dr. Katsu Goda, calon pembimbing saya di Bristol dan ketika wawancara TU Delft. Malah dokumen Form A DIKTI baru saya lengkapi di ruangan wawancara. LUPAAA… 😀 Tapi secara umum, well prepared lah.

Dokumen Legalisir kontrak kerja tadi, TIDAK DIMINTA. Surat ijin dari kopertis juga TIDAK DIMINTA 😦 ckckckck….

Ketemu dengan calon-calon penerima DIKTI yang sebagian besar sudah lebih tua 5-6 tahun di atas saya. Ok, I am young alone. kayaknya cuma saya yang angkatan dibawah 2005. I am too young 😛 Yang lain adalah Ibu-ibu dan bapak-bapak dosen dengan berbagai latar belakang. Ada yang sudah pernah dapat ADS, FULLBRIGHT, ada yang kelihatan super serius, dikit-dikit baca jurnal, juga ada yang setresss gara-gara LoA-nya masih conditional.

Ga ada rasa gugup sama sekali. BIASAAAA BANGEETTTSSS… rata-rata para calon karyasiswa diwawancara 15 menit. Hampir semua begitu. Cukup lama. Jadi ekspektasi saya juga sama. Akana da 15 menit wawancara.

Menjelang duhur, nama saya dipanggil. Kemudian menuju meja yang berisi 2 reviewer. Sepertinya keduanya lulusan Inggris.

Disambut dengan menanyakan.

“Ario Muhammad, right?”

Yupe.. saya menjawab seadanya. Dan 5 menit kemudian, wawancara saya selesai.

BENGONG. kenapa cepet banget?

Pertanyaan-pertanyaan wawancara ditanyakan semua sih, tapi ga dieksplore atau nanya macam-macam. bahkan salah satu calon karya siswa yang sudah masuk 10 menit yang lalu belum juga kelar. Saya sudah keluar.

Mereka menanyakan semua pertanyaan umum.

Pertama: Ngeliat IELTS saya yang “hanya” 6.0, lalu heran.

“Koq bisa diterima?”

Saya jawab bahwa sudah diwawancara sampai dapat unconditional karena kemampuan bahasa saya yang fluent (ini yang bilang orang Bristol :p). Dan reviewrnya bilang,

Yess.. Your English is really good. IELTS does not show your real ability

hehehe.. Saya cuma ketawa aja. Kalo soal speaking cukup terlatih lah. Walau sebenarnya juga banyak grammatical errors. Tapi jadi tim debat bahasa Inggris 3 tahun di SMA, pernah jadi best speaker, lulus S2 di program internasional, tentu memberikan kepercayaan diri kepada saya untuk ngobrol in English.

Sisanya, pertanyaan seputar proposal riset, pembimbing, terlewati dengan santai dan cenderung ga panjang. Ditanya soal jurnal internasional, saya juga sudah publish 2 jurnal internasional. Jadi tidak dicecar lagi. Ditanya soal rencana publikasi, sudah saya tuliskan di proposal riset dan telah dikomunikasikan dengan pembimbing, jadi tidak dicecar lagi. 1 topik cenderung hanya satu pertanyaan. Malah ujung-ujungnya dua reviwer ini bercanda soal kepanjangan UMY, kampus S1 saya. Dan bercerita masalah kenapa dinamakan hari PASKAH. Halaah.. Siapa yang ngerti.

Setelah dibercandain, saya kemudian disuruh keluar dan lucunya dibilang. “Bawa dokumenmu. kami ga butuh. hehehe..” dengan nada bercanda.

Saya pun keluar dengan wajah sumringah. Kemudian melirik rekan di meja lain yang masih berargumen serius. Saya justru tidak sama sekali. kami justru cerita soal Taiwan, bahasa Mandarin, soal kota Bristol, dan sedikit wejangan jadi PhD student di Inggris.

ya.. begitulah cerita wawancara yang aneh.

Saat ini DeLiang masih lemas setelah sakit panas dan batuk karena kuman. Uminya asmanya kambuh, dan saya sedikit batuk. Really not a good week for our family.

See you!

 

Iklan

2 thoughts on “#Random writing 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s