(Kumpulan Twitt) Kenangan Kisah Pernikahan Saya

Bismillah..

Sharing perjalanan “gila” ketika menjelang dan masa2 awal nikah ah.. #Nikah

Waktu akad sudah di tetapkan, 2 Juli 2011, tapi jadwal sidang Thesis belum ada. Bingunglah saya. Tapi ya sudahlah nekat aja, lulus g lulus, PULANG #nikah

Akhirnya, dengan bekal do’a dan usaha yang habis2an, 2 pekan sebelum hari akad, jadwal sidang saya keluar. tepatnya 19 Juli 2011 #nikah

Saya akhrnya meyakinkan istri bahwa saya akan lulus, tapi kmngknan 1 pekan setelah #nikah harus pisah selama 1 bulan. Alamaaak.. 😀

Sebulan menjelang kepulangan saya, 25 juni 2011, adalah malam2 “gila”. Tidur di lab 2 minggu, makan tak teratur, alhasil saya kena herpes zoaster #nikah

Saya off riset hampir2 pekan, off aktivits keluar kota juga. Banyak di pake merenung, tapi tambah yakin, sebentar lagi masa bahagia itu tiba #nikah

Prof. saya masih belum puas dengan riset saya sampe ktika saya nikah. Jadi, selama pulang nikah itu, saya belum pasti bisa LULUS #nikah

Sy janji ke Prof. “I will finish the writing of my Thesis in Indonesia”, but he replied “I’m sure, u can not finish it”. #nikah

Mngkn dy tahu, kalo masa bulan madu itu masa terindah, jd nda akan ingat yg lain.. nda percaya? rasakan sendiri 😛 #nikah

sy smpt mngrjkn thesis sekali, 2 hari sblm #nikah, tp begitulah, hasilnya NOL BESAR. Pesan moralnya, JANGAN #nikah PAS LG PUNCAK THESIS

di tgh keraguan sy lulus atau tdk, akhrnya, tgl 25-06-11, sy kmbl ke Indonesia, dan uniknya,Istri jg pulang ke Indo tgl segitu #nikah

Secara tak sengaja kami balik sama2, tapi beda maskapai dong. Sy Chatay, beliau Garuda. yg jelas naik Garuda lbh asyik #nikah

sedari awal, kami berencana tdk barengan pulangnya, tp jadinya barengan jg. Sy tiba pukul 8 malam di SBY, beliau jam 11 malam #nikah Continue reading

Senyawa Keabadian

Bismillah…

Di senja yang berkemilau. Pengangan tanganmu yg erat sungguh masih membekas hingga kini. Tentu saja, ia adalah rahasia yang tak bisa dibahasakan dengan prosa terindah dimanapun. Karena momen yang berharga itu, selalu takkan terganti. Senja antara Malang-Surabaya telah menjadi potret manis tentang kita berdua. Hingga sampai detik inipun aku masih merasainya. Meresapi getarannya.

Di dingin Batu Malang yang pekat, kita pernah beradu manja dalam kerlingan rasa yang memabukkan. Setelah sujud panjang bersama menunggu mentari menjadi purna. Kau menjelma bak pelangi penghias langit di kala hujan mereda. Gelora itu begitu luar biasa, sampai detik inipun, kesannya masih begitu terasa. Beginikah rasanya jika cinta telah merenggut habis semuanya? hingga tak ada lagi kesal yg meresak masuk ke dalam dada, namun yg tersisa adalah kenangan tentangmu yg selalu indah dan mempesona.

Continue reading

(Cerpen) Beginikah Cinta? (1)

Aku berlari dengan nafas memburu. Otakku seakan berhenti berpikir, dada sesak, penuh, semua sesal dan sedih berkecamuk jadi satu. Kususuri jalanan kampus yang masih sedikit basah karena hujan kemarin malam. Aku benar-benar kalut. Bingung. Pikiranku mulai bergumam sendiri dengan batinku.

“Beginikah jadinya? Beginikah rasanya mengakhirkan harapan?

Beginikah rasanya menghentikan cinta yang sudah terlanjur dalam?.

Aku harus berkata apa? Bertanya pada siapa?”

Jalanan ini tentu saja takkan memberi jawab. Sore menuju senja yang selalu indah ini tentu saja takkan menenangkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain kekalutan yang luar biasa menghinggapi dada.

“Haruskah melepasmu cinta? Melepas segala rasa yang tumbuh subur merekah hingga kini dan entah kapan berakhirnya?

Haruskah ku bunga jauh-jauh penggal harap yang entah kenapa masih membuatku sesak ketika kutahu aku tak bisa memilikimu cinta?

Haruskah aku membalikkan semua waktu agar perasaan ini tidak pernah ada di dalam diri? Atau setidaknya..

Ahh.. Allah.. mungkinkan kau ijinkan aku mengembalikan kekosongan jiwa agar yang terisi hanya KAMU? Hanya KAMU ya Rabb.. Hanya KAMU.. hanya KAMU yang kucinta. Mungkinkah ya Rabb?”

Dadaku semakin sesak. Air mata lagi-lagi dengan tak sopannya keluar tanpa pernah mau kuperintahkan. Aku laki-laki, dan kini aku menangis.

“Aku benci dengan perasaan ini. Benci dengan keadaan ini.

Aku sadar aku harus bangkit. Tak boleh lemah hanya karena kehilangan kesempatan merealisasikan harapku.

Aku tak boleh kalah, hanya karena imaji yang sedari dulu kubangun akhirnya pergi dan menghilang tanpa bekas. Aku benci dengan semua perasaan yang telah porak-poranda ini. Aku harus bangkit. Tak boleh seperti ini.”

Kukuat-kuatkan hatiku agar tetap seperti dulu. Tenang dan segar. Namun percuma. Setiap larian kecilku mengelilingi kampus hijau ini, membuatku semakin tergugu. Pikiranku tak bisa untuk kuhentikan dalam mengingat sang permata jiwa. Semua kenangan seperti tergambar jelas dibenakku. Kenangan tentangnya semua menyeruak tanpa tahu betapa aku sakit ketika mulai mengingatnya. Continue reading