“kita”

Bismillah..

Dulu, jika “aku” adalah “aku” dengan satu porsi, tanpa ada intervensi.

Namun kini, “aku” menjadi “kita” dalam satu wadah, namun saling mengintervensi.

Sejatinya, dulu dan kini tidaklah berbeda, yang membuatnya jadi bahan pertanyaan adalah “kemudian”.

“kemudian” yang akan menjawab untuk apa “aku” menjadi “kita”, dan “kita” menjadi punya banyak sekali persoalan untuk mampu dipahami.

“kemudian”-lah, yang akan perlahan memberi jawab, untuk apa “aku” beralih menjadi “kita”, dan kenapa “kita” selalu menyempurnakan..

“kau” dan “aku” yang kemudian menjadi “kita”, bukanlah sebuah kata sembarangan. Sebab bagi “kita”, ikatan ini menyejarah, ikatan ini memberi arti bagi dunia, ikatan ini bukanlah ada tanpa do’a, justru ia hasil dari ikhtiar dan do’a yang “aku” dan “kau” ciptakan pada sujud-sujud petang kita. 

Maka “kau” dan “aku” bukan lagi berada pada sebuah dinding tak saling mempengaruhi, tapi kita adalah dua bilangan yang saling mempengaruhi. “Jika kau berkurang, aku-pun begitu..” Karena teori “kita”, bukanlah tentang siapa yang lebih purna, dan siapa yang lebih lemah, tapi tentang siapa yang lebih mampu menghargai DIA, dan tentang bagaimana sama-sama kita menuju kesempurnaan cinta untuk-Nya. Untuk itu.. “kita”, menjadi dimensi kompleks yang senantiasa kita cipta untuk membuat jejak “kita” menyejarah dalam catatan-Nya, bukan manusia biasa.

Maka “kita” mungkin terasa begitu hebat pengaruhnya. Tentang kelelahan yang tercipta, tentang penyesuaian yang terus menerus ada, tentang penerimaan yang sengaja hadir dalam kata, juga tentang kebahagiaan yang sering hadir dalam selang seling hari kita. Maka pengaruh “kita” pada “aku” dan “kau”, harapannya adalah sebuah pengaruh yang menguatkan, sebuah pengaruh yang mampu memperjelas alur hidup kita, juga (mungkin) sebuah pengaruh yang membawa kita pada capaian cita-cita syurga.

Maka “kau”, adalah yang terbaik bagi “aku”, namun semuanya menjadi semakin sempurna ketika “kau” dan “aku” menjadi “kita”. Maka “kau”, adalah senja-senja dengan kegelimangannya yang mewarnai do’a-do’a petang ini. Maka “kau” adalah lukisan-lukisan langit pemberi warna bagi “aku” yang sering salah dan tak sempurna. Maka “kau” adalah sebuah jawaban, kenapa “aku” menjadi ada dalam sebuah himpunan “kita”.

Maka tanpa “kau”, sakinah ini takkan tercipta.. Tanpa “kau” mawaddah ini takkan ada.. Juga tanpa “kau” Rahmah ini akan pergi entah kemana.. Juga tanpa “kau”, ikatan “kita” ini takkan tercipta..

Taipei, 19 Oktober 2011

 ~Yusuf Al Bahi~

2 thoughts on ““kita”

Tinggalkan Balasan