Masih Seperti Mimpi

Bismillah…

Ini masih seperti mimpi. Ketika kembara pikiranku kembali di 2 September 2009. Melihat keelokan negeri formosa dari si burung besi merupakan kenikmatan terindah atas capaian mimpi-mimpi beberapa tahun yang lalu. Siapa sangka, bahwa ternyata yang pernah di cita-citakan itu akhirnya terwujud jadi nyata. Semua kumpulan perjuangan yang panjang akhirnya diakhiri dengan cerita yang manis di negeri formosa. Menempuh studi master disini adalah bagian tak terlupakan dalam hidup saya dan selalu akan menjadi sejarah terbaik yang kan kukenang.

Ini masih seperti mimpi. Ketika satu persatu targetan Allah wujudkan dalam nyata. Memudahkan proses belajar, hingga meninggikan idealisme yang bertahan dalam gelombang godaan tak terelakkan. Saya selalu menyukainya. Menyukai setiap episode menuntut ilmu disini. Berjibaku dengan tugas, amanah-amanah, hinggapun tantangan-tantangan yang terkadang menguras habis semua pertahanan mental dan fisikku. Ia laksana pelecut semangat yang selalu akan kuingat ketika masa kalah dan lemah itu datang.  Continue reading

Perjalanan di Mulai

Bismillah…

Tinggal hitungan jam saya akan segera terbang menuju Indonesia. Terhitung 1 tahun 9 bulan setelah pertama kali menjejakkan kaki di negeri formosa. Kali ini saya pulang belum mebawa gelar M.SC.Eng, karena harus di tunda hingga 19 Juli 2011, sesuai dengan jadwal sidang Thesis saya. Namun ada episode yang jauh lebih besar dan tinggi nilainya, yaitu akad nikah saya. Kenapa lebih besar nilainya ? Karena Allah menitahkannya dalam AL-Qur’an sebagai Mitsaqan ghaliza, sebuah janji yang besar.

Continue reading

Tentang Kriteria dan Ketidaksempurnaan

Bismillah…

Teringat dengan beberapa baris kata yang sering sekali terekam di dalam kepala

“Tak perlu menuntut yang sempurna, dan mempersulit keadaan yg sbnrnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakanlah niat awal kita, jika ia penuh berkah dan ridho dari-Nya, maka titik kemuliaan menjadi seorang manusia, Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk ada dalam diri kita”

Ada juga sebuah selentingan yang cukup “menggigit”

“Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa. Apa penyebabnya ? karena bs jadi yang diharapkan tak seindah realita, yang disyaratkan tak sempurna dalam lakunya. Maka berharap menemukan seseorang dalam kesempurnaan hanya membuat yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah untuk dicerna”

Tentang penggalan kalimat kedua diatas. Saya (lagi-lagi) teringat buku Serial CInta-nya Anis Matta, di topik “Mengelola Ketidaksempurnaan”

“Apa lagi ketampanan yg tersisa di dunia ini ketika telah dibagi habis kepada Nabi Muhammad SAW, dan Yusuf AS. Dan kecantikan yang telah disempurnakan kepada Sarah istri Ibrahim AS dan Khadijah RA Istri Rasulullah. Hingga pesona kebajikanpun telah direnggut habis oleh Utsman bin Affan dan keluruhan budi telah dimiliki secara purna oleh Aisyah RA”

Continue reading