Dalam Hitungan Waktu

Bismillah…

Hari ini, 17 Mei 2011. Sudah lebih dari ratusan hari rupanya saya meninggalkan tahun 2011. Terlalu banyak yang sudah saya lewati dalam beragam cerita. Tentang iman yang kokoh, lalu diterpa badai maha hebat dalam perjalanannya adalah cerita yang tak bisa lepas dari kisah beberapa purnama terakhir ini. Duha tadi, sekelumit do’a panjang terkirim manis untuk Allah. Rasanya SYUKUR adalah kata yang sering sekali aku bicarakan pada-Nya. Betapa malunya saya ketika banyak “meminta” sedangkan telah banyak yang Allah beri, betapa kerdilnya jiwa ketika sering memohon sedangkan Allah sudah begitu mudahnya menganugerahkan nikmat-Nya, tanpa saya minta sekalipun. Kalau sudah begini adakah alasan bagi saya untuk tak menangis ? paling tidak menangisi hati yang sering lalai dan alpa atas berbagai ketenangan yang tercipta.

Hari ini, 17 Mei 2011. 34 hari lagi saya akan terbang menuju Indonesia. Ada perasaan was-was, karena ini akan menjadi perjalanan yang tak biasa. Mungkin bisa jadi sebuah perjalanan yang luar biasa. Was-was yang aneh rasanya, bukan cuma aneh, juga unik, semacam perasaan was-was yang saya sendiripun tak bisa mendefenisikannya. Saya juga sedikit khawatir, juga mungkin sedikit takut, karena kepastian jadwal sidang yang belum ada. Namun entah kenapa, saya YAKIN. Yakin telah ada jalan yang paling menenangkan yang telah Allah siapkan. Sepertinya modal saya hanya satu.. “Allah, adalah sesuai prasangka hamba-Nya”.. Itu saja. Saya hanya mencoba berprasangka baik kepada Allah, sembari terus berikhtiar untuk menuntaskan semua tuntutan akademik disini. Berprasangka selurus mungkin bahwa tak ada sesuatupun yang mampu menghalanginya selagi Allah telah berkehendak, begitu juga sebaliknya. Jika Allah mengatakan TIDAK untuk apa yang telah kita rencanakan, maka sekuat apapun usaha kita, takkan mungkin bisa kita merealisasikannya.

Hari ini, 17 Mei 2011. 46 hari lagi. Ada semacam rasa tak percaya dengan semua yang terjadi. Entah berapa kali saya tak bisa diam dan akhirnya mengeluh kepada Allah tentang diri ini. Tentang jiwa yang tak sempurna, tentang amalan yang berlum purna, juga tentang laku yang masih tak sebersih senja. Sering sekali, kalimat-kalimat itu saya lontarkan kepada Allah... “Jika ini baik bagi agama dan akhiratku.. maka lapangkanlah, dan mudahkanlah… Kalaupun rasa tak layak ini hadir, mudah-mudahan ENGKAU selalu akan mengijinkannya untuk menjadi lebih sempurna dalam menghamba…”..  Apalagi yang tersisa jika sayapun merasa belumlah kokoh dalam melengkapi sebuah kesholehan ? kesholehan yang sudah jelas defenisinya. Tentang komitmennya, tentang tidak-tanduknya, sebuah defenisi yang sudah sangat gamblang kudapatkan. Kelayakan ini bukan tanpa sebab. Saya sangat rasional mengukur diri. Siapa saya ? apa kedudukan saya ? apalagi jika saya malah bertanya dengan gamblang, sejauh mana cinta saya pada Allah ?.. Pada akhirnya, walau pertanyaan ini sering menghambur di dalam diri, saya selalu tutup dengan do’a yang tak biasa.. “Kalau ini memang untuk menyempurnakan akhlaq yang masih belum tertata.. maka berkahilah…”

Hari ini, 17 Mei 2011. 55 hari lagi sebelum bulan mulia itu datang menyapa. Ada rasa ingin bersegera karena menganggap diri yang belum sempurna di tahun sebelumnya. Perasaan untuk bersegera dengan banyak agenda juga targetan yang sudah kutulis di kepala. Ramadhan-Mu yang mulia, yang sering datang namun tak banyak meninggalkan kesan bagi orang yang tak banyak menghamba. Maka tahun ini, saya bertekad untuk menjadi lebih purna. Lebih kokoh dalam beribadah. Ramadhan kali ini mungkin akan berbeda. dan semoga saja perbedaannya bisa mampu mewarnai hari agar lebih taqwa. Menyempurna diri biar jadi lebih bijaksana.

Hari ini, 17 Mei 2011. Masih banyak sekali yang belum kulakukan. Masih banyak yang belum tuntas dan terselesaikan. Malam-pun larut dalam  waktu yang lebih lama, susah sekali memejamkan mata. Sayapun bingung dibuatnya. Waktu tidur ba’da subuh menjadi lebih sering, sedangkan saya termasuk yang tidak suka hidup seperti ini. Namun, saya selalu berkata di dalam diri.. “Nikmatilah fase-fase ini.. fase-fase unik yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup..”...

Ada yang tiba-tiba hangat terasa

Semacam semangat menghamba yang tak terkira

Ada do’a panjang yang tiba-tiba terkirim dalam nyata

Semacam penenang jiwa bagi hati yang gundah gulana

Namun semuanya masih dalam bias yang biasa

Dalam kadar yang tak dilebihkan dan (semoga) tak ternoda

Sebab, kalau hati terjaga dalam kesadaran penuh cinta kepada-Nya

Maka yang tersisa adalah ketenangan tiada terkira..

Taipei, 17 mei 2011

~ Yusuf Al Bahi ~

Iklan

5 thoughts on “Dalam Hitungan Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s