Belajar Dari Mereka

Bismillah..

Terus terang, saya kehabisan kata-kata untuk menerjemahkan semua ini. Entah sudah berapa tulisan yang akhirnya tak bisa saya lanjutkan lagi karena terlalu banyak yang ingin saya sampaikan lewat kata-kata. Sebenarnya hanya sederhana yang ingin saya sampaikan. Dan ini adalah bentuk paling rasional sebagai rasa terima kasih terbaik kepada Sang Maha Pencipta. Saya hanya ingin mengucapkan TERIMA KASIH. Mengucapkan rasa syukur yang tak pernah habis-habisnya untuk Allah, Tuhan saya. DIA yang tak pernah habis-habisnya memberi, sedangkan saya masih sering sekali tertaih untuk memuja-Nya, lemah dalam penghambaan kepada-Nya, belum sempurna untuk memiliki-Nya. Apa lagi yang mau saya tanyakan jika yang DIBERI justru lebih banyak dari apa yang telah saya KERJAKAN. Tentu saja, saya meyakini, bahwa Allah, Tuhan saya yang MAHA HEBAT itu, tak pernah sedikitpun butuh dengan sanjungan dan pujian saya. Karena tanpa sujud yang saya lakukan-pun, tanpa air mata taubat dari seluruh penghuni bumi-pun. Tuhan saya tetaplah agung, tak terkalahkan. Hanya saja, ini seperti perasaan malu yang tiba-tiba sering hadir ketika kedua tanganku mulai kutengadahkan dihadapan-Nya. Perasaan malu ketika mulai meminta, sedangkan Allah telah banyak memberi, perasaan sungkan untuk membujuk sedangkan tak pernah sedikitpun Allah alpa dalam pemberian nikmat kepada saya, perasaan yang membuat saya tersadar, bahwa memiliki Allah dalam hidup adalah jalan terbaik untuk menuju sebuah kebahagiaan hakiki.

Dan untuk semua nikmat yang telah diberi Allah untuk saya. Rasanya tak lagi ada alasan untuk tidak BERSYUKUR. Tak ada lagi alasan untuk mengeluh sedangkan pemberian-Nya begitu melimpah. kesediannya untuk memberi tak pernah habis meski laku kita sering tak bersahabat dengan aturan-Nya. Dalam bahasa lain, saya merasa seperti seorang budak yang selalu diberi upah, makan, serta kehidupan yang layak, sedangkan saya tak pernah dan jarang sekali berbuat apa-apa untuk Allah. Saya teringat dengan sebuah pemaknaan SYUKUR yang lebih berbeda. Dimensi syukur yang bukan lagi berhenti kepada ibadah-ibadah panjang kita untuk memuja-Nya, bukan lagi tertuju kepada seberapa banyak amalan-amalan harian yang telah kita gariskan ditiap waktunya. Namun, pemaknaan syukur itu telah melompat semua dimensi itu. Ia tak lagi berbicara tentang berapa banyak amal yang telah kita kerjakan untuk Allah, tapi telah menembus batas SEBERAPA BANYAK kontribusi yang kita buat untuk melakukan perubahan. Perubahan yang mampu memberi banyak efek dalam skala yang lebih besar. Perubahan yang dimulai dari hal-hal kecil, namun ketika dia satukan, maka hasil dari pemaknaan kesyukuran ini akan membesar, melegenda, dan mampu menjadi sejarah. Dimensi syukur ini bukan lagi tentang sujud-sujud panjang dalam keharuan rindu kepada-Nya, tapi lebih kepada KATA KERJA. Kita BEKERJA, maka kita BERSYUKUR, kita BERKONTRIBUSI, maka kita BERSYUKUR, kita BERKORBAN, maka kita BERSYUKUR. Syukur bukan lagi tentang bagaimana kita mengingat-Nya dalam kondisi apapun, namun syukur telah kita terjemahkan bersama semangat-semangat membara untuk bekerja.

Tak mudah. Sungguh tak mudah. Sebab bagi mereka yang telah mencapai titik itu, berarti mereka telah melewati proses panjang dalam pemaknaan syukur pada dimensi penghambaan. Jangan ditanya hari-hari mereka yang memaknai SYUKUR sebagai BEKERJA. Hari-hari mereka adalah hari-hari Al-qur’an, hari-hari yang diisi dengan mengingat-Nya, hari-hari yang selalu terhias dengan senyum penghambaan di tiap malam-malam mereka. Namun, kesempurnaan SYUKUR mereka tak berhenti sampai disitu. Mereka adalah ahli Ibadah sekaligus profesional dalam BEKERJA. Penghambaan dalam sujud kepada Allah adalah ENERGI mereka, sedangkan ENERGI yang mereka kumpulkan itu akan mereka salurkan dalam sambungan-sambungan kerja, yang jika saya perhatikan, begitu terheran-heran-nya saya melihatnya. Saya terpesona, bahkan hilang kata-kata. Saya sungguh takjub dengan mereka yang mampu bertahan dalam energi yang tak ada habis-habisnya. Sungguh heran dengan perkara-perkara mereka yang terlihat sangat melelahkan, sedangkan mereka juga punya tugas-tugas pribadi yang masih terus diperjuangkan untuk diselesaikan.

Memang benar, orang yang banyak bicara sejatinya ia kurang bekerja. Saya mengenal mereka tak banyak bicara, namun luar biasa pekerjaan mereka. Energi yang mengalir deras untuk memberi kontribusi, ke-istiqomah-an yang kokoh tertanam di dalam diri, serta kesungguhan dalam bekerja dan beramal adalah ciri khas mereka. Mereka kokoh, kuat, dan tangguh meski di mata manusia lain, mereka seperti kurang kerjaan, dan bahkan tak bekerja apa-apa. Ahhh.. sungguh luar biasa. Saya masih takjub dengan mereka dan mendo’akan agar suatu saat saya sampai kepada titik itu. Titik ketika DUNIA telah TERABAIKAN, dan yang ada adalah kerja-kerja panjang -nan melelahkan- untuk akhirat mereka. Luar biasa.

Taipei, 05 Mei 2011

-57 Days-

~ Yusuf Al Bahi ~

Iklan

7 thoughts on “Belajar Dari Mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s