[Taiwan] Kenangan Dalam Gambar

Bismillah..

Sudah 1 tahun 9 bulan rupanya saya menginjakkan kaki di negeri formosa, tanpa pulang ke Indonesia tentunya. Telah banyak sekali perjalanan ke beberapa kota yang telah saya lalui. Meski hanya sebagian kecil niat utamanya adalah JALAN-JALAN, namun ternyata sudah banyak juga jejak yang telah tertinggal di beberapa kota sepanjang negeri formosa. Berikut kenangan Taiwan dalam gambar. – mohon maaf jika terkesan narsis 😛 –

First lab Party on September 2009, Taipei

Ketika Sakura Merekah, Tainan – April 2010 Baca lebih lanjut

Iklan

Terkadang Memang

Bismillah…

Terkadang memang, yang sering ada dan berlalu bersama gerombolan waktu di hari ini, adalah semacam penghangat suasana yang mencairkan beku dalam pekan penuh pekat di tiap musim yang berganti. Seperti suasana baru yang mengganti kulit-kulit kelam yang menggerogoti jiwa. Akupun kadang di buat heran olehnya. Apakah ini pertanda biasa, atau memang, sejatinya ini tak biasa ?. Harus kubilang, memang kondisi hati adalah sejatinya pengukur bagi mereka yang mengandalkan iman sebagai kekuatan hidupnya. Apa lagi yang tersisa jika yang terselip dan yang tersirat dalam setiap pandangan, perkataan, hingga laku kita tak lagi sebersih nurani yang tunduk dalam keagungan-Nya. TAK ADA. Karena jawaban yang tertera ketika kau mulai menerjemahkan lakumu bersama sekelumit masalah yang berlalu, hanya akan terdefenisi dalam bongkahan penuh kepenatan, dalam penyelesaian penuh kerumitan. Maka untuk momen ini, ia adalah pemberi warna segar bagi hidup agar lebih bergairah.

Terkadang memang, aku harus berkata jujur pada diri sendiri. Sejujur senja yang mengakui bahwa malam akan selalu ada setelahnya, atau mungkin sebening jujurnya embun yang selalu memberi warna bagi hangatnya pagi bersamanya. Aku harus benar-benar jujur, bahwa ada yang tertawan di sebuah bilik rasa yang tak biasa. Semacam pengganti kekosongan jiwa yang dulu sering meronta karena ternyata terlalu sering menduakan-Nya, juga melupakan-Nya. Sebuah kendali gelora yang benar-benar baru dan aneh rasanya. Ahh… akupun heran dengannya. Apakah ini pertanda yang biasa, atau memang ia sebenarnya tak biasa ?

Baca lebih lanjut

Calon Menantu

Bismillah…

Wah, tiba-tiba saja saya merasa begitu tua ketika anak sulung saya, Fathin, mengajukan “proposal” pernikahannya. Memang, proposal mentah yang belum detail. Tapi, sudah hampir memenuhi unsur-unsur dasar sebuah pengajuan. Fathin baru menyampaikan secara lisan. Entah, kapan ia akan benar-benar mengajukannya secara tertulis sehingga saya dan suami harus tanda tangan.

Sebenarnya, sebagai seorang ibu saya harus bangga bahwa Fathin sudah memiliki rencana masa depan terkait calon ibu anak-anaknya (waw?! cucu saya?!). Apalagi, dalam klausul pembicaraan tentang pernikahan (ihik, saya mulai merasa kehilangan), dia tidak menyebut sama sekali unsur pacaran. Wajar sih, mengingat orang tuanya juga tidak memakai fase tersebut. Artinya, apa yang dia inginkan dari seorang wanita memang menjadi istrinya, ibu anak-anaknya.

Fathin mulai mengajukan topik ini sudah sejak TK (gubrak!). Hanya saja, waktu itu masih sebatas cita-cita. Kata Fathin, “ Aku ingin menjadi pembuat mesin”.  “Loh? Katanya pengen jadi ayah?”, timpal saya. “Ya, itu juga lah. Tapi, jadi pencipta mesin dulu.” Mulut saya pun membulat.    Seiring berjalannya waktu, saya hampir-hampir melupakan tema itu. Nah, ternyata Fathin dan adiknya (Azizah) sering bermain “keluarga-keluargaan” dengan masing-masing berperan sebagai ayah dan ibu. Mulailah topik pernikahan ini menjadi diskusi kami, tepatnya setelah dia mulai masuk SD (umurnya 6 tahun lebih sedikit).

“Apa sih yang Abang pikir tentang pernikahan?” tanya saya.
“Ya… selalu bersama-sama, saling percaya, menyayangi dan mencintai.” Katanya penuh percaya diri. Aduh, saya terharu sekaligus berharap, itulah yang dia lihat dari hubungan saya dan suami.
“Oh, gitu. Ehm… memangnya, kenapa Abang ingin menikah?” Wah, ini pertanyaan kacau ya? Dia tersenyum, “Pengen cepat punya anak.” Waw! Benar-benar, deh saya merasa nenek! “Eng… memangnya, pengen punya anak berapa?” kejar saya. Mumpung dia sedang mood ditanyai.

Baca lebih lanjut

Dalam Hitungan Waktu

Bismillah…

Hari ini, 17 Mei 2011. Sudah lebih dari ratusan hari rupanya saya meninggalkan tahun 2011. Terlalu banyak yang sudah saya lewati dalam beragam cerita. Tentang iman yang kokoh, lalu diterpa badai maha hebat dalam perjalanannya adalah cerita yang tak bisa lepas dari kisah beberapa purnama terakhir ini. Duha tadi, sekelumit do’a panjang terkirim manis untuk Allah. Rasanya SYUKUR adalah kata yang sering sekali aku bicarakan pada-Nya. Betapa malunya saya ketika banyak “meminta” sedangkan telah banyak yang Allah beri, betapa kerdilnya jiwa ketika sering memohon sedangkan Allah sudah begitu mudahnya menganugerahkan nikmat-Nya, tanpa saya minta sekalipun. Kalau sudah begini adakah alasan bagi saya untuk tak menangis ? paling tidak menangisi hati yang sering lalai dan alpa atas berbagai ketenangan yang tercipta.

Hari ini, 17 Mei 2011. 34 hari lagi saya akan terbang menuju Indonesia. Ada perasaan was-was, karena ini akan menjadi perjalanan yang tak biasa. Mungkin bisa jadi sebuah perjalanan yang luar biasa. Was-was yang aneh rasanya, bukan cuma aneh, juga unik, semacam perasaan was-was yang saya sendiripun tak bisa mendefenisikannya. Saya juga sedikit khawatir, juga mungkin sedikit takut, karena kepastian jadwal sidang yang belum ada. Namun entah kenapa, saya YAKIN. Yakin telah ada jalan yang paling menenangkan yang telah Allah siapkan. Sepertinya modal saya hanya satu.. “Allah, adalah sesuai prasangka hamba-Nya”.. Itu saja. Saya hanya mencoba berprasangka baik kepada Allah, sembari terus berikhtiar untuk menuntaskan semua tuntutan akademik disini. Berprasangka selurus mungkin bahwa tak ada sesuatupun yang mampu menghalanginya selagi Allah telah berkehendak, begitu juga sebaliknya. Jika Allah mengatakan TIDAK untuk apa yang telah kita rencanakan, maka sekuat apapun usaha kita, takkan mungkin bisa kita merealisasikannya.

Baca lebih lanjut

Menuju Kelulusan Master (semoga)

Bismillah…

Entah kapan, kalo tak salah ingat, kemarin ketika berjalan menuju Lab, saya teringat kembali dengan 3 targetan besar dalam hidup saya di tahun 2011. Dituliskan ketika tahun 2007. Dan luar biasanya, Allah begitu dengan mudahnya memberikan jalan kepada saya untuk mencapainya. Salah satu dari ke-3 target tersebut adalah Lulus Master dengan Cumlaude. Ya, paling tidak GPA saya diatas 85. Itu berarti rata-rata-nya akan tertulis A, yang dikonfersikan bisa menjadi 4.00. Senang ? tentu senang, tapi ya biasa saja. Entah kenapa setelah studi Master disini, mengejar cumlaude tidak penting lagi, selain saya terus berusaha supaya nilai tetap diatas 80 agar beasiswa terus berlanjut.

Kemudian, sore ini, saya accidentally, mendengar salah satu lagu lawas yang dulu sering menemani saya menyelesaikan beberapa riset selama S1, sembari menulis jurnal pertama saya :). DItambah dengan dialog singkat dengan seorang saudara saya (roommate) yang sebentar lagi ujian defense, saya jadi teringat dengan perjalanan menuju kelulusan master ini.

Baca lebih lanjut

(Cerpen) Sebuah Dialog

Bimisllah…

Dalam senja yang mulai gelap. Kupandangi hamparan birunya laut itu. Laut biru yang ketika siang begitu manisnya menggambar bumi di ujung Timur Formosa. Sepertinya ia lunglai dengan siang yang panas, merasa penat dengan kebisingan mentari bersama sinarnya, ia butuh berteduh dalam damai, berdiam dalam perenungan di gulita yang hanya ditemani bintang. Ia menuntut itu. Menuntut untuk segera ditemani malam, biar ia tak lagi diganggu dengan penduduk-penduduk bumi yang mencari kehangatan, kehangatan yang membuatnya jengah. Jengah karena ulah mereka.

‘Semakin brengsek saja penghuni bumi.. “ gumamnya.

“Panasnya air yang kumiliki semakin menjadi selama beberapa tahun terakhir. Padahal dulu, saya masih menikmati kedamaian hangatnya mentari sembari sesekali badai datang menerpa negeri ini. Buatku, ini karena ulah manusia. mereka dengan borosnya memakai energi di perut tanah-tanah itu. Aku, hutan, dan semua inti bumi ini sebenarnya marah dengan mereka. Tapi mereka begitu tak peduli” Lanjutnya..

Aku tersenyum sendiri membayangkan betapa kesalnya seluruh makhluk Allah di muka bumi. Mereka jengah sebenarnya. Jengah dengan para penghuni bumi yang mulai tak mengindahkan perintah Tuhan. Satu persatu terus ditinggalkan. Benar, bahwa nikmat-nikmat Allah itu terus turun di bumi para orang kafir, tapi itu tak lebih dari istidraj-Nya Allah untuk mereka. Kadang-kadang dunia ini memang unik dan sungguh memilki banyak tanda tanya. Tapi bagi yang berilmu. Sebenarnya ini sederhana. Ini hanya tentang “patuh atau tidaknya kamu dengan perintah Allah Yang maha Kuasa..” hanya itu pangkal persoalannya. Jika kembali kepada jalan yang benar, jalan lurus nan bercahaya, sejatinya hidup akan menjadi sederhana lagi bermakna.

Aku mengutuk diri sendiri. Rasanya tak pantas kumulai menghitung salahnya orang lain, sedangkan akupun masih banyak lalai dan masih banyak hal yang berlum disempurnakan. Tak lama kemudian, kuarahkan pandanganku di sekeliling kereta. Setiap manusia masih asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Sebagian besar dari mereka benar-benar acuh tak peduli. Beginikah hidup di negara yang maju ? yang penduduknya pekerja keras dan tahan banting manantang dunia ? mereka seperti lupa, bahwa sapaan dan dialog hangat bersama saudara seperjalanan adalah kenikmatan paling indah di dunia. Kenikmatan yang bisa kurasa ketika perjalanan Jakarta-Yogyakarta kulalui. Menikmati tertawanya para pengemis, sedihnya wajah mereka, atau para penjual-penjual jajanan kecil yang sungguh ribut tak terkira meski itu di malam hari. Bagiku, itulah eksotis-nya Indonesiaku. Negeri permai yang semrawut namun merupakan syurga bagi mereka yang mencintai keramahan dan hidup dalam komunitas.

Aku berdialog lagi dengan diri sendiri. Sepertinya harus kuakui, bahwa berbicara dengan hati adalah aktivitas paling kucintai. Aku menyukai keluasaan cakrawalanya dalam mengambil keputusan, juga sangat menikmati berbagai macam pemikiran dan teori yang suka ia tafsirkan dari berbagai sumber informasi yang berasal dari otakku. Kali ini aku bergelut dengan dua kata. “Nekat” dan “Yakin”

Baca lebih lanjut