Inilah Kartini-ku

Bismillah…

…. 18 tahun lalu ….

“Mau makan apa nak ?”

“Nasi kuning ma.. Ario nda bisa makan yang lain, rasanya ga enak..”

Tak berapa lama kemudian, permintaan Nasi Kuning sebagai menu saya akhirnya terhidang. Saat itu, saya sedang sakit. Dari kecil hingga kelas 5 SD, salah satu yang paling saya ingat adalah sakit yang sering sekali datang. Dan tentu saja, Ibu saya adalah orang yang tak pernah alpa merawat, menyembuhkan, bahkan berdo’a tak henti-hentinya untuk saya. Menurutku, beliau adalah dokter terbaik. Lebih baik dari semua dokter dimanapun. Begadang untuk anak-anaknya ketika sakit, membuatkan apa saja yang mereka mau karena saya dilahirkan di tempat terpencil di utara Halmahera, yang tidak dengan mudahnya membeli makan semau kita. Setidaknya, untuk urusan kekurangan anak-anaknya, Ibu saya akan melakukan yang terbaik.

… 11 Tahun lalu …

Wajah itu tak menangis, hanya diam. Sedang ayah saya sudah sesenggukan ketika memasuki rumah kontrakan baru kami di Ternate.

“Rumah… dan semua yang kita bangun puluhan tahun habis di bakar masa..”Lanjut ayahku masih dalam tangisan.

“Semua yang pernah ada, sekarang sudah habis…” tutup beliau..

Ibu saya masih tenang. Beliau mungkin menangis, tapi tidak dihadapan kami. Kejadian menegangkan paska kerusahan SARA di bumi Maluku dan Maluku Utara memang mebumihanguskan semua harta benda yang pernah ada. Namun Ibu dan keluarga tetap bertahan. Membangun kembali puing-puing kegagalan yang pernah ada. Walau bagaimanapun hidup tetap harus di lalui. Sepahit apapun. Dari beliau, saya belajar arti KESABARAN. Pelajaran SABAR yang belum pernah kutemukan dari siapapun.

…. Juli, 2004 …..

“Waktu itu, mama duduk sambil nangis di ujung bukit depan rumah sambil lihat laut yang mulai bergelombang. Hari itu, nenek dikabarin meninggal setelah peristiwa naas perahu mereka yang terbalik menuju Gane Timur.. “ Kata Ibu saya membuka pembicaraan..

“Mama mulai berpikir.. Kira-kira bisa ngga ya, mama lanjut sekolah. Mama ingin sekali sekolah.. Mulai putus harapan mama, karena mama harap kalau ada Nenek sama kakek, mama bisa ke Ternate tuk lanjut sekolah SMA.. ” Lanjut beliau

Ceritapun kembali terurai. Ibu beliau (nenek saya) meninggal dalam kondisi keluarga yang pas-pasan ketika beliau masih SMP, dan tak punya biaya untuk kembali bersekolah. Akhirnya, Ibu saya memutuskan untuk tinggal numpang di salah satu rumah keluarga saya di Ternate. Membantu pekerjaan rumah, sambil terus meneruskan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) kala itu.

“Tiap subuh jam 4, mama sudah bangun. Angkat air untuk memenuhi semua bak mandi. Masak, bersih-bersih, sampai semua pekerjaan rumah. Itu rutin setiap hari. Tidak ada beban, karena yang mama ingin, bisa selesai sekolah dengan baik. Alhamdulillah, selalu jadi yang terbaik di sekolah”

Dan tak usah anda tanya tentang perjuangan beliau hingga selesai sekolah dan menjadi guru. Kisah beliau selalu menginspirasi. Menurut saya, beliau adalah INPIRATOR terbaik sedunia. Kisah hidup beliau adalah hamparan hikmah yang kalau sekeluarga berkumpul dan bercerita lagi, maka kami bisa sama-sama menangis.

… 5 Tahun yang lalu …

“Mama tidurnya numpang di tetangga yo.. jadi ga paapa..” Suara nun jauh disana menyapaku.

Glekk…

Saya menelan ludah mendengarnya…

“Ya ga paapa, mama di Malifut… biar disini saja.. Lebih hemat biaya hidupnya, bs lebih banyak nabung buat anak-anak mama yang masih pada sekolah..” lanjut beliau.

Mengingat ini, sering sekali membuat hati saya gerimis. Bagaimana tidak, ditengah konflik keluarga yang berkepanjangan. Beliau masih bertahan di sana, sendirian sebagai guru SD di Utara Halmahera (Malifut). Jangan ditanya kenyamanan hidup seperti yang kita punya sekarang. Listrik baru nyala ketika jam 6 Sore, dan akan mati lagi ketika jam 12 malam. Beliau berjuang sendiri disana, mengirimkan gajinya tiap bulan sebagai guru bagi ke-3 anaknya yang sekolah di Makassar dan Yogyakarta.

Ahhh.. Kenangan itu masih terus kuingat sampai sekarang. Dengan sabarnya bertahan dalam kesempitan untuk anak-anaknya. Kami keluarga besar. ber-6. Hidup tak pernah kurang karena beliau dan ayah kami yang selalu memberi yang terbaik bagi pendidikan kami.

“Buat mama.. yang penting anak-anak sekolah.. Mama siap berkorban untuk sekolah mereka hingga ke Makassar atau di Jawa.. Mau ngutang, mau apapun akan mama lakukan demi pendidikan kalian… ” 

Kalimat itu masih sering kusimpan didalam memori saya. Sekolah di tanah Sulawesi dan Jawa adalah barang yang mahal bagi kami. Untuk itu, kami tak pernah mau menyia-nyiakan semua pengorbanan beliau. Dan hadiah wisuda di tahun 2009, adalah momen paling indah yang pernah  saya persembahkan buat beliau. Wajah itu masih tenang mengikuti semua prosesi wisuda bersama saya. Tak ada kebanggan, rasa sombong, atau apapun. Bagi beliau. Yang penting adalah BEKERJA. BEKERJA buat anak-anaknya. Tak penting mereka seberkualitas apa.

Ahhh.. dari beliau, rupanya saya belajar tentang KERENDAHAN HATI. Sikap agar tak angkuh dan sombong seberapa hebat-pun kita.

… September 2009 …

“Ma.. Hari ini Ario berangkat ke Taiwan..” Kukirimkan sebuah sms kepada beliau.

“Mama bergetar dan ga bisa berdiri waktu itu yo… Mama sedang dalam Feri, perjalanan menuju Sidangoli sebelum ke Malifut. Mama kangen kamu, do’a panjang buatmu, mudah-mudahan sehat disana. Mama tegang sekali, seperti melepas sesuatu yang berat” Kata beliau membuka pembicaraan di Telepon setahun lalu..

“Tahu ga yo.. Dulu, mama suka lewat di depan tempat praktek Dokter di Ternate. Setiap kali mama baca papan prakterknya lalu tertulis Dr. “siapa” gitu.. mama suka ngayal… Waaah.. suatu saat akan tertulis Dr. Ario Muhammad” lanjut beliau sambil tertawa. Beliau malu sendiri dengan kelakuan beliau. Saya sendiri malah terdiam.

“Dulu, mama suka sekali kalau Ario jadi Dokter.. Tapi Alhamdulillah, sekarang juga mama luar biasa senangnya” Tutup beliau.

Sayapun tersenyum, sambil memikirkan ekspresi beliau saat itu. Ahh.. Kau ternyata mengajarkanku sebuah cita-cita. Cita-cita dan impian untuk terus dikejar. Semuanya adalah modal besar untuk hidp kita.

“Suatu waktu mama… mungkin bukan Dr. Ario Muhammad yang ada.. Ario Janji.. akan tertulis DR. Ario Muhammad, ma.. lebih mantap kan ma ?” lanjutku menghibur beliau..

Beliaupun tertawa mendengar pekataanku.

Bagi kami. Ibu kami adalah inspirasi terbesar, dan saya yakin, anda juga seperti itu. Beliau yang mengajarkan semua anak perempuannya harus lihai di dapur dan keperluan RT lainnya, menjahitkan baju seragam bagi kami, juga yang paling kuingat adalah jilbab dan sepasang gamis muslim seragam SD bagi kakak saya yang ngotot ingin berjilbab kala itu. Beliau juga adalah orang yang paling sensitif. Sering sekali beliau menangis ketika lihat orang lain susah. Semua tentang beliau adalah kumpulan kisah menarik yang banyak hikmahnya.

Maka hari ini, paling tidak mari kita jadikan ibu-ibu kita sebagai inspirasi bagi hidup kita. Untuk setiap titik perjuangan yang telah mereka buat. Mari kita balas dengan raihan prestasi yang bisa membuat mereka tersenyum bangga dengan kita. Jangan tanya apakah mereka butuh itu atau tidak. Sejatinya, mereka tak pernah butuh semua itu. Karena bagi mereka, bekerja dengan IKHLAS, berarti tak pernah ada keinginan untuk mendapatkan balasan dari siapapun dalam bentuk apapun.

Taipei, 21 April 2011

~ Yusuf Al Bahi ~

Iklan

5 thoughts on “Inilah Kartini-ku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s