Malam yang (terasa) panjang

Bismillah...

Pernahkah anda melewati malam yang (terasa) panjang ? malam yang dihantui dengan beribu pikiran atau mungkin banyaknya perencanaan. Lebih parahnya lagi, jika malam itu, ternyata adalah malam-malam tak tenang karena banyaknya masalah. Tubuh kita mulai beringsut kesana-kemari. Posisi tidur mulai tak nyaman. Mencoba menghadap ke kanan, tetap tak bisa. Terlentang lurus, masih saja mata sulit terpejam. Atau bahkan, malam-malam panjang itu anda lalui bersama tumpukan pekerjaan ? Ah.. ini mungkin sering terjadi, atau bahkan menjadi kebiasaan salah seorang diantara kita. Bukan salah seorang lebih tepatnya. Tapi banyak orang ?. Orang-orang yang habis waktu malamnya untuk mengejar targetan-targetan kerja yang menggunung. Orang-orang yang terasa panjang (atau sedikit ?) malamnya karena tuntutan-tuntutan idealisme maupun perut yang terus bertambah setiap hari. Malam-malam panjang yang merupakan pengganti untuk siang hari. Ada yang masih memiliki waktu untuk “balas dendam” di pagi atau siang harinya. Tidur ba’da subuh atau pagi hingga menjelang duhur. Atau bahkan, yang lebih parah, bisa tidur seharian, kemudian mengulang kebiasaan itu setiap harinya. Sungguh memusingkan. Memikirkan hidup seperti itu menurutku sangat rumit, apalagi menjalankannya.

Aku sendiri pernah melewati sekitar 1 bulan hidup seperti ini. Alasannya sederhana “mengejar deadline”. Tugas salah satu numerical work di penghujung tahun 2010 termasuk menjadi kenangan merasakan kerumitan hidup di tengah malam. Kata seorang sahabat saya “awalnya, kita akan merasa mual dan pusing ketika begadang… lama kelamaan jadi biasa“. Pertama mendengarnya, saya harus percaya, sebab belum pernah menjadikan begadang sebagai kebiasaan saya. Mungkin karena saya termasuk orang yang ingat akan lagu Bang Roma “Begadang jangan begadang…”. Terus terang, lagu Bang Rhoma itu sebenarnya penuh idealisme, penuh petuah dan nasihat. Sederhana sebenarnya, pesannya beliau supaya anak muda bisa lebih bijaksana. Ada lagu beliau tentang “wanita sholehah” yang seru kalau didendangkan dengan logat melayu yang di buat-buat. Tapi saya pikir suara saya cukup bisa mengimbangi irama lagu ini (mohon maaf pembaca, saya numpang narsis ^_^). Atau mungkin tentang “Judi”, dan masih banyak lagi. Dan sepertinya, saya sudah mulai sembrawut menulis tema tulisan ini. Mungkin karena pikiran saya sedang melompat-lompat, sampai isi tulisan di tengah malam ini-pun “terpelest” ke bang Oma.

Ngomong-ngomong soal lagu Bang Oma (lho, ini koq bang Oma lagi ?), sepertinya para selebritis dan para penyanyi serta pencipta lagu Indonesia harus belajar dari beliau. Paling tidak, belajar untuk menulis lirik-lirik lagu yang bisa “mengingatkan” seperti karya-karya beliau untuk pemuda zaman baheulu (dahulu kala). Sudah mulai menghilang karya-karya melegenda yang bisa menjadi pengingat hidup buat kita semua (di luar nasyid tentunya). Ada Ebiet G. Ade, yang lagunya “Camelia” paling kusuka. Sering sekali karya-karya beliau membangun semangat kemanusiaan yang lebih kuat. Tentu saja, lirik-lirik lagu beliau adalah salah satu karya seni yang sangat indah. Puitis, dengan irama yang enak untuk dinikmati, hasilnya, karya yang berkualitas dan menjadi sejarah yang diingat bagi para pecinta musik Indonesia.

Waah… saya sudah melebar kemana-mana. Padahal, menulis ini saya sedang tidak mendengar lagu Bang Oma, atau mungkin Ebiet G. Ade. Saya sedang mendengar Nasyid-nya Maher Zain, Sami Yusuf, hingga UNIC dan Edcoustic, juga beberapa murottal Al Qur’an. Tapi mungkin gara-gara kisah malam hari identik dengan “Begadang” saya jadi ingat Bang Rhoma. ^_^

Baiklah, membicarakan soal malam yang panjang. Sejujurnya, jika saya boleh sedikit berbagi perenungan. Kebiasaan Rasulullah SAW untuk tidur di awal waktu dan bangun di malam hari untuk beribadah, sejatinya pesan terbaik bagi kita semua yang sering sekali disibukkan dengan dunia. Indah bukan, tertidur pulas setelah Isya, kemudian mendirikan malam-malamnya dengan sujud-sujud panjang pada Allah. Tapi, mungkin inilah manusia. Lebih tepatnya, saya dan mungkin para pembaca semua yang telah memilih jalan “lain” untuk mensinergikan malam dan siang kita. Allah sendiripun sudah menghadirkan siang untuk bekerja, dan malam untuk beristrahat. Namun (lag-lagi), manusia memang lebih memilih untuk megikuti segala alam pikirnya untuk bekerja dibanding mengembalikan alur kehidupan seperti yang telah diajarkan oleh Nabi kita.

Dan malam ini. Waktu terasa begitu panjang (kembali). Sepertinya, teori relativitas waktu harus kubenarkan disini. 1 jam bagimu, belum tentu sama bagi saya. Bahkan malam-malam yang kita lewati pun, lamanya akan terasa berbeda dari satu ke yang lainnya, meski secara matematis, keduanya memiliki jumlah yang sama. Maka titik penilaian terbaiknya, tentu saja, adalah seberapa besar manfaat malammu dibanding dengan yang lainnya. Seperti lanjutan syair Bang Rhoma.. “Begadang jangan begadang… kalau tiada artinya… begadang boleh saja.. asal ada perlunya..”. Saya jadi berpikir, kira-kira ketika Bang Rhoma nulis syair ini, beliau begadang ga ya ? Kalau begadang, ternyata, manfaatnya sangat besar. Paling tidak, menjadi (sedikit) pengingat bagi para begadang-ers yang setia bersama malam-malam yang panjang tanpa memejamkan mata.

Lantas mengapa saya begadang malam ini ?  Tidak usah anda tanya mengapa. Sepertinya, saya sedang berjodoh dengan malam ini, malam atau pagi di tanggal 20 April 2011. Malam yang lagi-lagi terasa panjang. Beringsut sana-sini, mata saya tetap tak terpejam, tilawah beberapa lembar juga tak bisa memberi efek, bahkan sampai ke kamar mandi bolak-balik karena efek makanan siang tadi, semuanya malah menambah malam ini terasa panjang. Maka kuputuskan untuk menikmati begadang malam ini. Setidaknya, telah kusempurnakan sebuah rencana, kutuliskan satu-persatu asa, dan kuurai lebih dalam petuah yang bisa membuatku lebih bijaksana (semoga). Malam yang terasa panjang memang. Tapi (sekali lagi) berharap ada artinya.

Taipei, 20 April 2011

Pukul 03.26

~ Yusuf Al Bahi ~

Iklan

2 thoughts on “Malam yang (terasa) panjang

  1. Sungguh random sekali tulisanmu kali ini, De’ ^^

    Hmmm…jadi ingat pas awal2 di sini, jungkir-baliknya, sama seperti yang dirimu deksripsikan di atas. Mual2 dan pusing akibat begadangan juga masih kerasa (ga enaknya). Pengen selalu ngikut pola hidup Rasulullah, tapi terkadang realita memaksa kita untuk berperilaku sebaliknya. Tapi intinya adalah “balance”, De’. Kita tidak boleh dzalim dengan raga kita. *pesan untuk diri sendiri*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s