Sampai Kapan

Bismillah…

Tersungkur..

Tak berdaya..

Jatuh dan terpenggal dalam fana…

Hingga jalan-jalan itu tercabik, pergi, memberontak, teriak, sampai malampun menjerit..

Kenapa raungmu menjadi keras ?

Kenapa sendumu berlanjut ?

Pada perjalanan berikutnya..

Tersumpal arti yang pekat, tertulis jalinan yang kusut.

Meski kau berlari, kejamnya waktu masih menghantuimu.. Continue reading

Harap

Bismillah…

Kuberpijak pada kata yang bernama “harap”, karena bagiku ia adalah segalanya. Ketika jawaban yang tersampaikan tak mampu memberikan solusi yang mulai sembrawut, aku selalu yakin bahwa “harap” adalah kekuatanku. Hingga kemudian, ketika kuteruskan “harap” itu agar setia menemaniku, yang kudapatkan adalah kestabilan rasa yang terus menguat setiap waktu. Sebab diawalnya sudah kudefeniskan “harap” sebagai labuhan semua kekuranganku.

“Harap” juga yang membuat aku tetap ada dan bertahan disini. Kadang “harap” itu hilang, pergi dan melebur entah kemana. Namun secepatnya kukumpulkan semua “harap” yang mulai memudar karena ringkihnya tubuhku melawan dunia.

“Harap” yang takkan pernah bosan dan lelah memberi, sebab dia tak pernah kenal yang namanya benci, dia tak pernah kenal yang namanya enggan, bahkan dia pula yang mengajarkan apa itu cinta, “harap” pula yang mengajarkan apa yang dinamakan kerja keras. “Harap”-lah yang membawa semuanya menjadi sebuah dimensi baru bagi kehidupan. “harap”-lah yang menguatkan setiap insan untuk bertahan, meski dalam lirikan makhluk lain, kita seperti berlari di musim kemarau.

Continue reading

Sketsa Ramadhan (4) – Sebuah Kesiapan

Bismillah…

Bulan bersinar indah menghiasi langit. Birunya yang jernih memantulkan beribu keindahan malam di musim panas, kuayuhkan sepedaku sepulang dari Masjid Besar setelah buka puasa. Perlahan, kusapu hati yang mulai sedikit lena dengan dunia. Bukan sedikit rupanya, namun terlalu sering jiwa terbuai dengan pesona dunianya. Kemudian, seperti suara-suara penghambaan yang mulai berteriak di pekat malam, disitulah cerita-cerita tentang taubat mulai dilantunkan. Entah akan diterima atau tidak, sungguh menghabiskan detik untuk berdua dengan-Nya adalah sebuah keindahan tentang kehidupan. Disinilah baru kita menyadari, bahwa letak kelapangan jiwa ada pada seberapa dekat engkau dengan-Nya.

Dan seperti malam-malam sebelumnya, kuhabiskan detik bersama simulasi, paper dan referensi thesis yang belum juga menemukan ujungnya. Ini baru jalan awal, namun ia seperti menghabiskan semua waktuku. Membagi ruang untuk bertemu dengan-Nya bersama dengan pikiran yang masih terbawa dengan dunia adalah sebuah seni prioritas. Sering rasanya kalah, karena lebih memilih berjam-jam bersama riset dibanding mulai menelisik kisah-kisah maha dahsyat yang menggetarkan. Seharusnya bisa, karena kita diberi kemampuan untuk merasa. Namun disinilah nafsu terangkai dalam diri seorang manusia. lalai, malas, dan semua berkaitan dengan keengganan akan menemanimu. Hingga kemudian, berjuta detik yang berlalu kemudian, akan menuliskan betapa telah kita sia-siakan waktu yang berlalu. Continue reading