Tentangnya

Bismillah…

Setiap orang punya cerita tentangnya, tentang kasihnya, tentang lembut senyumya, tentang cintanya, dan semua tentang keindahan akan melekat padanya. Entah seribu kata telah terurai, sejuta pesona telah kau ucapkan, semua keagungannya takkan pernah teruraikan secara sempurna. Dialah.. “mama..”

Walau engkau marah, walau engkau bosan, walau engkau dendam, bahkan semua kemarahan telah memuncak kepadamu, beliau takkan pernah sejuruspun memikirkan tentang kebencian, sejenakpun tak mau meletakkan keengganan untuk membencimu, sebab yang beliau tahu, tak ada benci dalam cinta.. tak ada kemarahan dalam kasih sayang, tak ada keletihan ketika berkorban.. Dialah yang senantiasa merasa, bahwa cinta itu selalu mengabadi, bahwa benih-benih penjagaan itu harus senantiasa tersemai, dialah yang mengajarkan kepada kita semua makna kelembutan sebelum dunia mewarnai kita.. Dialah “mama..”

Dan bila kita jengkel, kita kecewa, kita merasa kalah, dia selalu ada bersama senyum lembutnya.. Menasehati ketika kita salah, meluruskan ketika langkah kita bengkok, membenarkan ketika kita khilaf, bahkan rela melakukan apapun, asal cintanya senantiasa bahagia. Dialah “mama..” Continue reading

Jia You… Sederhana itu Indah

Bismillah…

Malam ini, seperti minggu-minggu yang telah lalu semenjak 8 bulan keberadaanku di material concrete research lab, Lab meeting bersama Prof berlangsung sekitar 2 jam. Lebih cepat dari biasanya. Kotak makanku masih kubawa sambil keluar dari ruangan 222 gedung departemen teknik sipil. Sempat berdiskusi singkat dengan Steven soal dana tambahan dari lab jika kita sudah memulai riset thesis. Wow… Rupanya tambahan dana cukup membuat senyumku semakin lembar menjemput bulan Juni ini 🙂

Aku bergegas menuju lift bersama seorang labmate-ku.. Rupanya ada sesuatu yang terlupakan diruangan. Paper yang sudah tertulis rapi untuk persiapan sebuah conference masih tertinggal disana. Bergegas kumengambilnya, kemudian kembali lagi ke depan lift. Kali ini bersama syuen. Kulihat wajahnya masih lesu, seperti minggu lalu. Kali ini sedikit lebih baik, karena tak menerima teriakan keras dari Prof. seperti minggu lalu. Selama 8 bulan mengikuti lab meeting, minggu kemarin adalah minggu yang cukup mengagetkan. Bagaimana tidak, menyaksikan Prof. marah-marah kepada labmate karena progress risetnya yang jelek adalah terapi psikologis yang ampuh. Riset beliau akan saya teruskan bulan Juni ini, saya malah jadi takut sendiri melihat kesulitan-kesulitan yang sedang syuen rasakan. Continue reading