Ketika Terpuruk

Bismillah…

Ada masa dimana seseorang terjatuh dalam keterpurukan. Hati seperti membusuk, rusak, kosong dan tak berpenghuni. Tahukah kau apa yang sebenarnya terjadi ? Hatinya sedang tak tertulis nama-Nya. Allah dengan segala keindahan-Nya adalah penerang bagi jiwa-jiwa yang resah, penghangat bagi hati yang terasa beku dan selalu saja memberikan setumpuk harap bagi mereka yang keyakinannya menipis. Hati, dalam sebuah pesan Rasulullah SAW, adalah Raja bagi tubuh kita. Ketika ia baik, maka baiklah yang lainnya. Untuk itu, sederhana saja kita menilai sebuah karakter. Ketika hatinya baik, maka perilakunya akan baik, akhlaqnya akan mulia, lisannya adalah kemuliaan dan langkahnya selalu menuju perbaikan. Begitulah hati mempimpin. Bagi mereka yang memiliki hati sejernih embun pagi, akan menghasilkan karya akhirat yang akan mengalirkan energi kehidupan bagi peradaban.

Keterpurukan hati selalu beriringan dengan kedekatan kita kepada Allah. Ketika amal-amalan pailit di tiap harinya, yang semula 1 juz perhari, kemudian berkurang menjadi 2 lembar perhari, maka disanalah tanda-tanda keterpurukan hatimu akan dimulai. Amalan dan bersihnya hati adalah dua hal yang tak terpisahkan. Engkau memiliki hati sebagai tempat niat untuk memulai segala aktivitasmu, maka amal adalah bentuk dari semua kerja-kerjamu. Baiknya hatimu, baik pula amalmu. Continue reading

Mengenang Kenangan

Bismillah…


Ketika kenangan menjadi jawaban
Maka yang tersisa hanya cerita tentang sayap-sayap angsa, pelangi di musim hujan, dan gugurnya bunga-bunga kamboja…
Ada masanya dimana semua lamunan menjadi semacam penghangat suasana..
Karena ia adalah kelana waktu yang melukis banyak permata indah…

Walaupun senja tak mau datang lagi..
Biarkanlah siang menjadi penghangat jiwa untuk sekedar berkaca..

Langkah itupun akan terus beranjak..
Entah kenangan masih akan melekat
Entah jawaban masih saja sulit untuk sekedar diuraikan…
Percayalah…
Bahwa lapang selalu bersama dengan keyakinan..
Bahwa bahagia selalu berteman dengan kesabaran… Continue reading

Kesempurnaan

Bismillah…

Hujan deras membumi, membasahi jalanan yang kulewati. Setiap detik yang melaju, derasnya hujan terus mengikuti. Celanaku sedikit kupendekkan karena bisa basah kuyup jika kupaksa untuk menahan bagian kaki dari dinginnya suhu. Langit terlihat tidak terlalu gelap, hanya saja udara memang terasa begitu dingin, ditambah dengan angin yang terus saja berhembus. Angin memang selalu menjadi teman setia bagi Taipei maupun kota-kota lain di negeri formosa ini. Tiupannya kadang membuatku merinding karena menambah udara menjadi semakin menggigit.

Perlahan kukayuh sepedaku bersama payung ditangan kiri, topi dikepalaku dan tas pinggang yang sudah 4 tahun bersamaku. Ada semangat yang menyala-nyala di jiwa. Tugas FEM sudah hampir terselesaikan. Masih ada 2 PR lagi, ditambah dengan tugas deterioration of engineering material yang akan bertambah besok, kemungkinan 2 minggu ini akan berkejaran dengan waktu untuk menuntaskan semua tuntutan akademik yang terus kucoba untuk dinikmati.  Di persimpangan jalan, kulihat banyak mahasiswa mulai kembali dari aktivitas kampus yang cukup padat. Beberapa diantaranya bersepeda, namun kebanyakan mereka menggunakan payung untuk melakukan perjalanan menembus dinginnya udara di musim semi. Continue reading

Berbahagialah

Bismillah…


Kabut masih tak berkeseduhan,

berteduh dan berlabuh di ujung musim dingin yang mengginggit…

Dan senja-senja yang sulit bersama cahaya mencoba berlari sekuat mungkin, menjelajah malam, membuyarkan hangat dan menggantinya dengan harapan bias yang semakin kelam untuk sejenak dirasa..

Sampai kapanpun, semuanya takkan pernah berkesudahan..
Entah kau berharap untuk ia segera diam..

Kau berharap untuk ia segera pergi..

Semuanya takkan semudah itu untuk sekedar dialihkan..

“Memberi..” adalah makna terbaik dari sebuah penghambaan.

Getaran cinta, terasa dengan kata “memberi” meski harus disyaratkan untuk terus terjadi. Juga “membangun”, ia adalah teman paling setia bagi para perindu, para pujangga, dan sejuta pemuda yang terangkum dalam dunia irasionalnya..

“memberi” kemudian “membangun”, takkan pernah hadir selama jiwa dan misi belum bertemu dan terangkum dalam satu jalan. Setiap kehendakmu, akan diakhiri dengan misimu, namun yang menggerakkanmu selama ini adalah getaran jiwa yang kudefenisikan sebagai gairah untuk mencinta…

Gairah akan selalu hadir sebelum memberi.. dan selalu akan datang lebih cepat dibanding membangun.. Continue reading