Yang Menginspirasi

Bismillah…

Pagi ini, embun begitu dingin terasa, sisa-sisa musim dingin di Taipei masih “hangat” menyapa. Kudekapkan tanganku lebih erat sembali menekuri trotoar menuju Lab-ku. Tak seperti biasanya, ada energi yang tiba-tiba masuk dan mengaliri seluruh tubuh. Mataku terlihat agak berat meski tidak kantuk karena tidur yang tidak terlalu lama semalam.

Dalam tiap musim Allah memang selalu begitu. Rahmat-Nya selalu saja hangat berbicara meski kadang kita lalai untuk mengingat-Nya. Kumulai menghitung aktivitasku hari ini. Kuliah Finite Element Method, mempersiapkan presentasi untuk lab meeting kemudian belajar beberapa software terkait dengan future research-ku.

Entah kenapa, rasanya lapang sekali hari ini. Pikiranku teringat-ingat dengan ayat-Nya…

“Demi Pena…”

Al-Qalam… Ayat yang dibuka pertama kali dengan panggilan nama Ibu-ku. Sms kemarin saya belum sempat membalas karena kehabisan pulsa dan belum sempat mengisinya lagi.

Kemudian, pagi ini sekitar pukul 6.30, seperti biasa, Lab masih saja sepi karena “penghuninya” baru akan datang sekitar jam 10. Ku mulai memasuki dunia maya dan bertemu dengan seorang teman – tidak akrab – yang sudah kuikuti sepak terjangnya sejak dulu. Saya begitu Iri melihatnya. Ada hasrat yang membuncah untuk mengikutinya. Entah kenapa dari sekian banyak orang yang pernah kukenal, ketika bertemu dengannya, dialah yang selalu membuatku merasa tak memiliki apa-apa.

Kemarin, aku baru saja membandingkan, apa yang membedakan antara Mahasiswa dan Tenaga Kerja Indonesia disini ? kutemukan satu titik penting yang perlu untuk kurenungkan. Selama berinteraksi dengan dua tipe “pekerjaan” ini, aku kemudian merasa. Bahwa para TKI, yang selama ini kubersamai terlihat lebih rendah hati dibanding para mahasiswa. Tentu semuanya punya porsi berbeda. Namun, hati bisa merasa. Bagaimana mereka begitu hormat kepada kita – mahasiswa – dan meletakkan diri mereka di “bawah” kita. Terkadang aku malu, bahkan pernah meneteskan air mata ketika mendengar langsung salah satu kisah TKI yang begitu hebat. Sungguh kecerdasan, luasnya ilmu, dan banyaknya harta tidak menjadi ukuran seberapa kuat kepribadianmu. Akhirnya aku kembali meraba.. Jangan-jangan selama ini memang aku merasa “lebih” dibanding mereka. Mungkin tidak terasa kuat, namun halus menyapa. Setan selalu punya cara untuk menjerumuskan manusia, bahkan godaannya begitu halus tanpa kita sadari.

Melihat sosok-sosok yang menginspirasi terkadang membuatku malu.

Ahhh….

Malu bercampur iri adalah kondisi jiwa yang selalu melanda ketika melihat mereka.

Pagi ini, aku menikmati tulisan-tulisan lamanya lagi. Sudah pernah kubaca, namun lagi-lagi aku selalu Iri. Pertemuanku dengannya beberapa kali membuatku banyak merasa dan meraba sudah sejauh mana kualitasku ?

Ahh… banyak orang yang hebat di dunia ini. Masih ada lelaki-lelaki sholeh yang akhlaqnya seperti Al qur’an – meski tentu tidak bisa kita bandingkan dengan akhlaq Rasulullah –

Masih banyak orang-orang yang memiliki kekuatan iman yang menyala-nyala. Wujudnya tidak hanya terlihat dari kegairahan mereka untuk berkarya, akhlaq mereka yang penuh dengan keteguhan dan prinsip juga kuat membersamai mereka.

Kekuatan yang terlahir dari jiwa-jiwa mereka tidak akan pernah hadir tanpa ada perasaan cinta yang tinggi terhadap-Nya.. melebihi kecintaannya terhadap dunia.

Iri itu masih terus berlanjut ketika kunikmati untaian hikmah yang sederhana namun berisi. Sesungguhnya, tulisan yang menginspirasi bukan hanya indah tata bahasanya, namun juga kuat ruh yang ikut bersamanya.

Keteladanan adalah ruh dari tulisan. Dan orang-orang yang pantas menjadi teladan, selalu akan menggetarkan hati orang lain ketika mereka menyampaikan hikmahnya lewat hasil tulisan pena mereka.

Itulah kenapa aku merasa, kenapa Ayat-ayat cinta begitu sukses menggetarkan hati banyak orang, karena memang sang penulisnya telah menjadi teladan sebelum ada tokoh Fahri disana.

Itulah kenapa, buku Jalan Cinta Para Pejuang selalu mebuatku basah dengan air mata, karena sang penulisnya telah membersamai berbagai macam kisah sejarah dengan perenungan dan kekuatan cinta yang kuat untuk-Nya..

Itulah kenapa, Manhaj Haraqi menjadi begitu menyala dan menggerakkan. Karena episode hidup dan jihad yang dilewati oleh penulis telah mengkristal kemudian mengobarkan semangat cinta yang tak pernah padam untuk-Nya..

Sampai detik akhir aku menulis ini.. Wajah seorang sahabat jauh itu masih kuingat. Mungkin kau tak pernah tahu.. namun caramu menyampaikan ilmu, caramu menulis, caramu melewati hidupmu, banyak mengganggu pikiranku.

Salam hormat,

Semoga Allah merahmatimu… Terima kasih atas Inspirasi yang luar biasa darimu.

Taipei, 8 Maret 2010

~ Yusuf Al Bahi ~

Iklan

2 thoughts on “Yang Menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s