Serial Cinta (1)

Bismillah…

Puncak kenikmatan iman yang dimiliki seseorang akan dapat ia reguk ketika ada CINTA disana. Tanpa cinta, keimananmu akan beku, kaku dan tak memiliki gairah untuk bekerja. selayaknya katalisator, cinta adalah penggerak abadi yang selalu menjadi alasan kenapa zat baru bisa tercipta. Cinta menjadi ruh yang mampu meberikan energi bagi jiwa untuk melangkah, bekerja, berkarya, dan berkontribusi bagi sesamanya. Catatan ini pula yang mebuat Anis Matta menulis bait berikut :

Iman itu laut, cintalah ombaknya

Iman itu api, cintalah panasnya

Iman itu angin, cintalah badannya

Iman itu salju, cintalah dinginnya

Iman itu sungai, cintalah arusnya

Begitulah sejatinya cinta, ia adalah ruh untuk merasa, ruh untuk meraba, ruh untuk bernafas, dan ia adalah ruh untuk memahami. begitulah cinta bekerja.

Makna cinta ini bisa menembus rasa ketika kita mampu memenangkan Allah atas diri kita sendiri, memenangkan kebenaran atas kejahatan, memenangkan putih atas hitam, dan memenangkan iman atas syahwat.

Selayaknya kisah seorang pemuda kufah. Keimanan dan keluhuran budinya telah membuatnya tersohor sebagai seorang lelaki sholih. Kecintaannya pada Allah telah mendalam, bahkan merasuk hingga ke relung jiwanya yang terdalam. Namun, sebagai seorang lelaki, tak kuasa ia menolak gejolak jiwa yang mendera, gejolak hasrat yang mengganggu, dan sejuta keindahan yang menari-nari di barisan mimpi. Ia jatuh cinta pada seorang perempuan yang tak kalah anggun dan cantiknya.

Cintanyapun berbalas, seperti air yang berjatuhan di sahara, rasa berbalas itu begitu membuncah dan melahirkan sejuta mentari kebahagiaan. Ia mengusik dan mengganggu ketenangan jiwa. Sayangnya, lamarannya di tolak oleh orang tua sang gadis, karena ia telah dijodohkan.

Betapa hancurnya hati sang lelaki ahli ibadah tersebut. Kegilaanpun mulai mengganggunya. Sang Gadispun tak kalah gilanya. Mereka nekat untuk bertemu. Gadis itu bahkan merayu kekasihnya, “Aku datang padamu, atau kuatur cara supaya kamu menyelinap rumahku”. Itu jelas kalimat menggoda, dengan kecantikan dan keanggunan Gadis tersebut, ini adalah tawaran syahwat yang menggiurkan untuk seorang lelaki dewasa.

Namun apa jawab sang lelaki, “TIDAK…!!! Aku menolak kedua pilihan itu. Aku takut pada neraka yang nyalanya tak pernah padam ..!” itu jawaban sang pemuda. Rugikah Ia ? sudah gilakah Ia sampai tak mampu menerima tawaran yang menyenangkan ini ? Tidak saudaraku.. Ia tidak rugi sama sekali. Ia dtergila-gila akan cinta kepada Allah.. Ia tergila-gila untuk merubah yang pahit menjadi manis.. Ia tergila-gila untuk meletakkan iman diatas nafsunya. Sang Gadispun tersadar, dan segera menginsyafi kesalahannya. Ia memendam rasa cintanya kemudian meleburkan segalanya hanya untuk Allah. Ibadah yang tiada henti-hentinya untu Rabbul Izzati.. Untuk sang penggenggam Jiwa.. Untuk yang Maha Pengasih..

Namun perasaan cintanya membuat ia merindu.. sampai jatuh sakit hingga meninggal. Perih.. sakit.. seseorang meninggal karena rasa yang dia miliki.

Sang lelaki pun terhenyak, pujaan hatinya telah pergi membawa sejuta cintanya. Iapun menisbahkan nestapanya bersama do’a-do’a panjang di kuburan sang Gadis. Hingga suatu waktu Ia bermimpi, bertemu dengan pujaan hatinya, “Apa kabar ? bagaimana keadaanmu setelah kepergianku” Tanya sang Gadis. Wajah cantik itu menggetarkan rasa Lelaki tersebut. “Baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana ?” Jawabnya. “Aku disini dalam syurga abadi, dalam nikmat dan hidup tanpa akhir” Jawab sang gadis. “Do’akan aku jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu ?” Tanya sang pemuda lagi. “Aku juga takkan pernah lupa padamu. Aku selalu berdo’a agar Allah mempertemukan kita di syurga. Teruslah beribadah, sebentar lagi kamu akan menyusul”

Subhanallah… hanya hitungan 7 malam.. 7 kali cahaya bulan, sang Pemuda pun meninggal.

Atas nama cinta karena Allah ia meletakkan Iman diatas syahwatnya. Atas nama cinta karena Allah mereka mereguk kenikmatan syurga yang mengabadi. Cinta memang selalu bekerja pada dimensi yang melewati alur logika kita. Begitulah cinta bekerja.

Bumi Allah, 23 Juli 2009

~Yusuf Al Bahi~

^ Jangan pernah mencoba menisbahkan cinta pada orang yang tidak tepat baik fisik maupun waktu.. Akan menyiksa batinmu.. Cintailah ia yang halal.. yang telah kau ikat dengan Mitsaqan Galiza.. Insya Allah lebih berkah.. dan lebih bercahaya ^

Wallahu’alam Bishawab..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s