Journey to PhD (38) – 15 bulan yang menentukan

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

“The next 3-4 months will be a critical time for you. It is extremely important for your PhD study, your future career as a researcher and lecturer, and of course as a father and husband for your family. Work hard. Someday you will feel the joy of those hard works.” (Dr. Katsuichiro Goda, September 2016)

Kalimat ini terekam dengan sangat kuat dalam memori saya. Beberapa hari setelah tiba di Bristol, saya menghadap pembimbing utama untuk membicarakan penulisan Jurnal paper dan rencana penyelesaian studi S3 saya. Setelah datang ke UK membawa keluarga, semua ritme memang butuh penyesuaian. Beliau merasa perlu mengingatkan saya bahwa memanfaatkan waktu dengan baik adalah kunci penting untuk menuntaskan misi penyelesaian studi PhD ini.

Dua jurnal paper segera terbit

Setelah melewati proses panjang penulisan journal paper yang terhambat karena kesibukan saya conference di Turkey, visiting di Kyoto University-Jepang, promosi buku terbaru, dan bolak-balik di Indonesia, paper ini akhirnya selesai juga dan diterima di jurnal Frontiers in Built Environment untuk special topic: Mega Quakes: Cascading Earthquake Hazards and Compounding Risks. Saya banyak belajar cara menulis yang benar dari proses penulisan paper ini. Setelah melewati puluhan revisi yang bahkan saya sudah tidak tahu berapa kali proses revisinya, akhirnya pembimbing saya menyetujui draft jurnal ini untuk disubmit. Sampai saat inipun saya masih merasa ada beberapa bagian yang bisa ditingkatkan, terutama masalah novelty statement which I think I can make it much better.

bukus2

Baca lebih lanjut

Journey to PhD (37) – Membersamai Istri Menembus S3 di University of Bristol

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

DeLiang masih demam ketika kami berdua menuju security office University of Bristol, tempat mengambil kartu mahasiswa istri saya setelah melewati proses pendaftaran yang sederhana. Meminta assessment dan cap dari pihak fakultas, international office, lalu ke Jurusan. Semua berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apapun. Tepat tanggal 26 Agustus 2016, Istri saya, Ratih Nur Esti Anggraini, resmi menjadi PhD student di Engineering Mathematics department, University of Bristol. Tak bisa tergambarkan dengan kata-kata apa yang ada dipikiran kami berdua. Namun keberhasilan menggenggam kartu mahasiswa ini seperti membuka kembali memori-memori perjuangan untuk bisa berkumpul bersama-sama, berjihad menuntut ilmu di negeri Ratu Elizabeth ini, tentu saja di salah satu kampus terbaik di dunia. Kalimat berikut ini mungkin adalah gambaran paling gamblang tentang ikhtiar kami:

“Rencana Allah memang tak pernah meleset!”

September dua tahun lalu, sesaat setelah saya menginjakkan kaki di UK, sudah terpatri rencana demi rencana untuk memboyong DeLiang dan Istri saya menuju UK. Namun misi keluarga kami bukanlah sekedar menemani saya menyelesaikan studi S3, namun juga menjadi kesempatan bagi Istri saya untuk melanjutkan studi S3nya di UK. Hampir 8 tahun lalu, mimpinya untuk studi S2 di salah satu kampus di UK harus terkubur dalam-dalam karena hanya mendapatkan beasiswa parsial. Jadi kesempatan menimba ilmu selama studi S3 di negeri ini seperti kelanjutan cerita mimpinya yang sempat tertunda. Beberapa tahun sebelum mengenalku yang kini menjadi suaminya.

ktm

Rumitnya pencarian kampus Baca lebih lanjut

Buku Inspirasi Dari Tanah Eropa: Dibalik Layar

Bismillah…

Sebelum meninggalkan tanah air besok pagi dan sengaja untuk menjawab beberapa pertanyaan pembaca tentang buku Inspirasi Dari Tanah Eropa, saya ingin berbagi cerita tentang cerita dibalik layar buku ini dan memberikan spoiler apa saja sebenarnya isi dari buku ini. Saya akan menulis dalam format tanya-jawab yang semoga menjadi bahan cerita yang menarik bagi para pembaca.

Bagaimana awal penggarapan buku ini?

Saya dan Ataka sama-sama tidak pernah berkomunikasi dengan intens sejak pertemuan pertama kami di Taipei sekitar 6 tahun lalu. Ataka bahkan benar-benar tak mengenal saya dengan baik. Sebaliknya, karena saya mengetahui Ataka adalah salah satu bagian dari Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) waktu itu, maka saya cukup tahu profil Ataka selain pernah menonton langsung bakatnya menulis di program Kick Andy beberapa tahun silam sebelum saya memulai S2 di Taiwan.

Semenjak menginjakkan Bristol untuk memulai studi S3 saya di tahun 2014, saya sudah merencanakan menulis sebuah memoar yang memuat perjalanan saya selama di Eropa. Hanya saja belum diseriusi hingga musim gugur tahun lalu karena masih sibuk dengan penerbitan novel pertama saya, Islammu Adalah Maharku. Namun, tepat pertengahan November 2015, saya kemudian memutuskan untuk menseriusi penggarapan buku ini dengan menggandeng dua orang kandidat doktor yang lain di UK. Opsi kolaborasi saya ambil untuk memperkaya isi buku dan memperluas jaringan kepenulisan yang menurut saya akan menarik jika digarap oleh beberapa orang yang sama-sama menjadi PhD candidate di UK. Pilihan saya kemudian mengerucut ke Ahmad Ataka (PhD candidate di Kings College London) dan M. Firmasyah Kasim (PhD candidate di Oxford University). Alasan memilih Ataka karena memang saya sangat tahu kualitas anak ini dan yakin mau diajak serius untuk menggarap sebuah buku. Sedangkan Firmansyah Kasim karena beberapa kali pernah berkorespondensi untuk pembuatan buku tentang perjalanan studi di UK. Tak lama setelah mengontak mereka berdua, hanya Ataka yang kemudian excited dan menyambut baik penggarapan buku ini. Rupanya Ataka telah memiliki rencana yang sama dengan saya jadi penawaran kolaborasi ini seperti pelengkap rencana yang sudah kami susun sama-sama meski kami tidak pernah saling tahu. Saya kemudian tidak mendapatkan respon apa-apa dari Firman yang mungkin sedang sibuk menyelesaikan studinya atau bisa jadi karena emailnya yang kurang tepat. Sayapun tidak mengerti.

Gramed

Baca lebih lanjut

5 tahun pernikahan kami

Bismillah…

Dua hari lalu adalah salah satu momen penting dalam keluarga kami. Lima tahun yang lalu, di tanggal yang sama, saya dan Istri resmi terikat secara agama dan negara sebagai pasangan suami Istri. Biar tidak mengulangi kesalahan melupakan hari ulang tahun Istri tahun lalu, saya memutuskan untuk merangkum kenangan kami bersama selama 5 tahun pernikahan kami. Dibanding membuat video, saya lebih suka menulis, jadilah tulisan ini merangkum kenangan pernikahan kami. Semoga suatu waktu bisa menjadi cerita menarik bagi anak-cucu kami🙂

Pra nikah

Saya pernah iseng bertanya ke Istri, kenapa memilih saya? waktu itu status saya masih pengangguran dan hanya bermodalkan beasiswa PhD dari National Taiwan University of Science and Tech. (NTUST) sebesar 15,000 NT (kala itu 1 NT = Rp. 300,-). Jawabannya terasa absurd:

“Karena tidak ada alasan untuk menolak abi.”

Entah senang atau bagaimana. Jawabannya sudah cukup membuat saya tidak bertanya lagi. Saya juga beruntung karena memiliki Ibu mertua dan keluarga Istri yang paham bahwa menikah itu soal Ibadah, bukan hanya soal materi.  Baca lebih lanjut

Memori

Bismillah…

Apa yang kamu dapatkan takkan pernah lepas dari sebuah pengorbanan. Entah itu waktu, kebersamaan, cinta, maupun kesempatan yang terlewat.

Mimpimu mungkin tergapai, citamu bisa saja kau rengkuh. Tapi ada tangis, ada do’a, ada pengorbanan yang sadar atau tidak kau sadari, kamu telah melewatinya.

Maka biarlah semuanya menjadi memori yang tak terlupakan. Tentang pendewasaan, tentang belajar mencinta, hingga saling memaklumi atas perkara-perkara yang kita punyai sejak lahir. Baca lebih lanjut

Journey to PhD (36) – Ramadhan dan keberkahannya

Bismillah…

Terhitung sudah 8 hari menjalani ramadhan ke dua di Inggris yang sangat lama😛

Tahun lalu saya merasakan Ramadhan di 4 negara berbeda, UK, Malaysia, Jepang, dan Indonesia. Perjalanan panjang selama menjadi visiting scholar di Kyoto University tahun lalu terus terang meninggalkan kesan yang kurang baik dari segi kualitas ibadah selama ramadhan. Untuk itulah, tahun ini saya ingin memperbaiki kekurangan menjalani ramadhan tahun lalu karena melakukan safar ke beberapa negara.

Delapan hari pertama ini berlangsung dengan perjuangan. Lebih tepatnya, perjuangan pembiasaan. Saya harus mengganti ritme hidup lagi berhubung harus Tarwih dan dan sahur di waktu yang tidak biasa. Kemudian dilanjutkan dengan buka puasa juga diwaktu yang tidak biasa. Untunglah, minggu awal ini setidaknya berjalan dengan baik. Termasuk kualitas dan kuantitas ibadah yang masih sesuai target. Everything is under controlled kecuali waktu olahraga yang sudah hilang :D Baru akan dimulai lagi hari Rabu ini.

Beberapa keberkahan saya dapatkan selama 8 hari ramadhan ini:

  • Buku ke tiga tembus Elex Media Komputindo (lagi)

Ini berkah yang luar biasa bagi saya sekaligus mencontreng targetan di tahun 2016. Saya memang berencana menerbitkan Buku non-fiksi ke dua tahun ini. Alhamdulillah, buku kolaborasi saya dengan Ahmad Ataka ini, si jenius yang juga kandidat doktor di UK (Kings College of London), dirampungkan dengan baik. Benar kata orang, yang pertama memang yang tersulit. Setelah berhasil menerbitkan buku pertama via Diva Press 3 tahun lalu, saya berhasil menerbitkan 2 buku lainnya hingga tahun 2016. Dan saya sangat yakin, Insya Allah dengan ijin Allah, saya akan menerbitkan buku-buku lain lagi di beberapa tahun mendatang.

buku

Komentar editor Quanta – Elex Media setelah menyunting naskah kami

Baca lebih lanjut

Letter to my love – 6

Bismillah…

Suara-suara alam dalam warna senja yang indah, membisikkan bait-bait rindu pada sang kekasih. Mengenangnya dalam cinta yang menggenang, menjiwainya dalam rasa yang tenang. Aku memikirkannya. Melamunkan senyumannya, mengimajikan kehadirannya. Beginilah cinta, candunya memabukkan, rasanya begitu menggetarkan.

Namanya tersebut laksana penawar dahaga berkepanjangan. Sentuhannya adalah tangan malaikat yang menyembuhkan. Bahagianya adalah bahagia semua rasa yang pernah ada. Kehadirannya adalah warna-warna puisi di langit musim semi Kyoto yang indah. Aku menyadari, rasa cintaku telah begitu jauh untuknya.

bertiga

Baca lebih lanjut