Bagaimana merencanakan dan mengeksekusi resolusi kita?

Bismillah…

Memasuki tahun baru ini, rasanya tidak ada topik yang paling banyak dibahas selain tentang RESOLUSI. Sebuah haris riset yang dilakukan oleh University of Scranton, Pennsylvania, U.S.A menunjukkan bahwa hanya 8% yang sukses menjelankan resolusinya di tahun sebelumnya [1]. Sebuah angka yang sudah lumrah dan bisa diprediksi karena kebanyakan dari kita memang selalu berhenti di tahap perencanaan tanpa pernah mengeksekusinya. Atau sebenarnya kita telah mencoba mengeksekusinya, namun selalu saja banyak hambatan yang mencegahnya.

Salah satu metode yang paling mahsyur digunakan adalah metode SMART goal yang terpecah menjadi Specific-Measurable-Achievable-Realistic-Timeline. Metode ini pertama kali dikembangkan oleh perusahaan General Electric (GE) yang salah satu pendirinya adalah Thomas Alfa Edison. Perusahaan ini adalah salah satu perusahaan terbesar di dunia yang sudah memiliki berbagai cabang di bidang energi, health care, hingga aircraft engines dan dibangun sejak 124 tahun yang lalu. Dimulai tahun 1940an, metode ini sukses mengantarkan kesuksesan GE kala itu. Pada era 1960an setiap karyawan GE harus melaporkan kepada pemimpinnya targetan yang hendak dicapai dalam setahun dalam format SMART ini.

s-smart

Baca lebih lanjut

Iklan

Journey to PhD (41) – Kupas tuntas studi S3 di Inggris Raya (UK)

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Ketika membanjirnya peluang beasiswa dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir, kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi bagi setiap lapisan masyarakat di Indonesia juga terus bertambah. Jika sebelumnya, untuk merasakan dunia pendidikat postgraduate (pasca sarjana) di UK hanya bisa diandalkan lewat beasiswa Chievening, Erasmus Mundus, atau Islamic Development Bank (IDB). Maka adanya peluang beasiswa seperti LPDP dan BUDI-DIKTI (sebelumnya BPP-LN DIKTI) membuka peluang yang lebih besar bagi anak-anak muda Indonesia untuk membentangkan sayapnya di negeri ratu Elizabeth. Di artikel kali ini saya akan mengupas secara tuntas tentang studi PhD/S3 di Inggris Raya.

Kampus-kampus terbaik di dunia ada di negara ini

Dari data ranking QS Top University, UK adalah negara ke-2 setelah U.S.A yang menempatkan banyaknya universitas di ranking 100 besar dunia. Tradisi universitas dengan sistem pendidikan yang berkualitas memang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, untuk itulah ada beberapa kampus yang dijuluki sebagai the Ancient Universities di UK, seperti University of Cambridge atau University of Ediburgh. Dari data QS ranking, berikut adalah ranking top 10 universities di UK yang bisa Anda jadikan acuan [1]:

  1. University of Cambridge (ranking 4 di dunia)
  2. University of Oxford (ranking 6 di dunia)
  3. University College London (UCL – ranking 7 di dunia)
  4. Imperial College London (ICL – ranking 10 di dunia)
  5. University of Edinburgh (ranking 19 di dunia)
  6. Kings College London (KCL – ranking 21 di dunia)
  7. University of Manchester (ranking 29 di dunia)
  8. London School of Economic and Political Sciences (LSE – ranking 37 di dunia)
  9. University of Bristol (ranking 41 di dunia)
  10. University of Warwick (ranking 51 di dunia)

cambridge-university

Saya tidak menampilkan ranking by subject karena bisa saja jurusan tertentu bisa berbeda rankingnya. Alasannya karena studi S3 adalah masalah siapa supervisormu dan seberapa spesifik bidang risetnya. Ranking universitas secara keseluruhan adalah gambaran secara umum reputable university di UK. Saya teringat dengan perkataan seorang Professor di Taiwan ketika sedang melanjutkan studi S2 dulu:

Karena PhD adalah jenjang terakhir perjalanan studi akademik kita, maka pastikan kamu mengambilnya di reputable university.

Jadi jika ada bidang riset yang berkualitas di kampus TOP di dunia, dimanapun itu, maka pilihlah yang reputable university. Selain sebagai pengalaman sekali seumur hidup, kampus-kampus top di dunia biasanya memiliki sistem dan jaringan pendidikan yang meluas. Ini membuka kesempatan anda untuk bisa berkolaborasi dengan banyak peneliti dari berbagai negara dan institusi. Apalagi jika berbicara masalah fasilitas, saya menjamin di top 100 kampus terbaik di dunia kualitas fasilitas amat sangat memadai. Seperti kata Prof. Zhao, seorang professor bidang computer science di University California Santa Barbara (UCSB):

I would suggest focusing on the quality of the research group rather than the school. If the reputation of the prof or the group is good enough, it matters little whether it’s in the UK/Europe or in the US.  Take a look at the top conferences in your topic of interest, and note where the most papers come from. That’s your best hint as to which schools have the best CS departments in your area, and which schools you should target.

Baca lebih lanjut

Follow your passion is a bad advice

Bismillah…

Namanya Jun, lelaki berkacamata dengan tinggi 170 cm asal Tiongkok ini setiap hari akan berjalan mendaki dari park street – area city centre of Bristol – menuju gedung Queens, University of Bristol untuk melakukan rutinitasnya: menjalani tugasnya sebagai sponsorship PhD student. Perusahaan yang membiyai riset S3nya mengharuskan ia menghasilkan sebuah produk baru dalam waktu 4 tahun. Sebuah task yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik jika dia menikmatinya. Namun harapannya untuk menjalani studi S3 dengan baik dan penuh karya tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Istrinya yang baru ia nikahi di usia yang cukup muda – 23 tahun – terkadang membersamainya sambil menuntaskan perannya sebagai pendiri shopping online website yang baru dirintis beberapa bulan. Wajah Jun lebih sering kusut sambil berujar kalimat ini: “I regret taking a PhD, I should take a job in a company.”

Seperti halnya Jun, Dr. Goda juga melakukan rutinitas yang sama dengannya setiap hari. Melewati jalur Queens Road bersisian dengan gedung Wills Memorial, kemudian mengambil jalan mendaki menuju gedung Queens Building, University of Bristol. Rutinitasnya akan dimulai pukul 9 pagi dengan tumpukan paper yang siap dibaca. Di depan pintunya, sebuah tanda “not available” tergantung manis selama beliau membaca paper hingga siang hari. Setelah makan siang, beliau akan melanjutkan dengan menulis, melakukan simulasi, meeting, atau membagi waktunya untuk bimbingan dengan 3 PhD students-nya. Jika Jun sering mengungkapkan kata “I regret doing this”, maka Dr. Goda punya kalimat pamungkas yang berbeda “You have to love what you are doing. It is not a matter of doing what you love. It is about hard works”.

Jika melihat background Jun dan Dr. Goda, kita akan menemukan dua hal yang cukup berseberangan. Jun adalah lulusan S2 Electrical Engineering dari University of Nottingham, salah satu dari 100 universitas terbaik di dunia. Dia lulus dengan nilai fantastis, DISTINCTION, tentu saja dengan average nilai di atas 80. Sebagai gambaran, untuk memperoleh nilai distinction di UK, umumnya seseorang harus melewati angka 70. Jadi angka 80 untuk nilai rata-rata selama S2nya termasuk angka yang fantastis. Disertasi riset S2nya bahkan menembus angka 84. Pilihannya menjadi mahasiswa S3 adalah karena alasan klasik: this is my passion. I do really enjoy doing a research project.

whatsapp-image-2016-11-21-at-17-50-47

Baca lebih lanjut

The law of remarkability: bagaimana agar buku Anda menjadi Best seller

Bismillah…

For a mission-driven project to succeed, it should be remarkable in two different ways. First, it must compel people who encounter it to remark about it to others. Second, it must be launched in a venue that supports such remarking (Dr. Calvin Newport).

Ada tiga penulis buku best-seller di Indonesia yang saya amati perkembangan mereka dalam setahun terakhir. Tidak lain dan tidak bukan untuk belajar dan melakukan riset sederhana bagaimana sehingga mereka bisa menghasilkan buku-buku best seller. Ahmad Rifai Rifan, Fahd Djibran, dan tentu saja, Tere Liye. Dua sosok pertama menarik perhatian saya karena mereka mengambil pasar yang cukup besar di kalangan anak muda. Khusus untuk Fahd Djibran, saya sudah mengetahui sepak terjangnya ketika sama-sama satu institusi S1 dulu. Ahmad Rifai Rifan bagi saya juga seseorang yang menarik untuk dikaji karena latar belakangnya yang merupakan seorang engineer lulusan teknik mesin ITS. Tere Liye? rasanya saya tak perlu menjelaskan kenapa nama ini juga menarik perhatian saya.

Saya kemudian menarik dua kesimpulan penting yang dimiliki ketiga penulis ini:

Pertama, karya-karya mereka berkualitas. Sederhana saja mengukurnya, data di goodreads review menunjukkan bahwa Ahmad Rifai memiliki rating 4.24/5 dari 1,302 orang, Fahd Djibran sendiri ratingnya 3.85/5 yang dirating oleh 4,301 orang, dan Tere Liye memiliki rating 4.1 dari jumlah voters yang mencapai hampir 5,000 orang. Rating ini adalah rating keseluruhan buku-buku mereka dan menjadi standar yang cukup baik untuk menilai kualitas karya mereka.

COver3

Kedua, mereka punya venue atau basis masa yang banyak dan loyal. Ahmad Rifai Rifan, jika kita tengok akun fanpage FB-nya, dia memiliki follower lebih dari 40,000 orang, Fahd Dijrab hampir 10,000 orang, dan Tere Liye yang memiliki angka follower fantastis: lebih dari 2 juta orang. Tentu saja masih ada beberapa penulis keren dengan followers yang banyak dan karya yang berkualitas semacam Asma Nadia atau Habiburrahman El Zhirazy. Namun belajar dari sosok-sosok seperti Ahmad Rifai dan Fahd Djibran menjadi sangat menarik karena kita bisa mengambil banyak pelajaran dari mereka. Baca lebih lanjut

Think Small, Act Big

Ada sebuah kalimat menarik tentang mimpi dan cita-cita yang pernah saya baca. Kira-kira begini:

“Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka aku putuskan untuk mengubah negaraku saja.

Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku.

Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Ternyata aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.” [1]

Kalimat ini terekam lagi di memori saya ketika membaca bab Think Small Act Big di buku So Good They Cant Ignore You [2]. Adalah cerita Prof. Pardis Sabeti [3], seorang biologist lulusan summa cum laude Doctor of Medicine, University of Harvard dan juga peraih gelar PhD dalam bidang Evolutionary Genetics dari University of Oxford yang memanggil kembali memori saya tentang potret cita-cita kebanyakan orang.

Ada tiga cerita berbeda yang di bandingkan dalam bab ini, yaitu antara Sarah, seorang mahasiswa baru (PhD) yang bingung menenutukan arah risetnya sedngkn mimpinya begitu besar: “Bisa menghasilkan riset yang mampu mengubah dunia”, juga Jone, yang memilih berhenti dari college untk merealisasikan mimpinya: “Membangun komunitas skala global yang punya visi hidup sehat” dan tentu saja Prof. Sabeti yang baru menemukan mimpi dan cita-citanya setelah menyelesaikan S3 di Oxford yaitu: “Mengaplikasikan bioinformatic statistical method untuk menekan angka penyebaran penyakit”.

whatsapp-image-2016-11-21-at-17-50-47

Baca lebih lanjut

Journey to PhD (40) – Bagaimana suasana ujian mahasiswa S1 di UK?

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Pukul 10.30 pagi, disambut dengan hantaman angin dan dinginnya musim gugur, saya bergegas menuju gedung Merchant Venture Buildings (MVB), University of Bristol (UoB) untuk menunaikan salah satu tugas pelengkap saya sebagai asisten dosen di kelas computational math, school of math, UoB yaitu UJIAN. Saya disambut oleh Sarah, PIC dari School of Math untuk ujian kali ini. Disampingnya berdiri Luca, seorang PhD student tahun ke-3 yang berasal dari Croatia. Kami lalu saling bersapa hangat sambil memperhatikan sekeliling ruangan berlangsungnya ujian.

Tahap Persiapan

Seorang penjaga ujian disebut sebagai Invigilator di UK. Sebelum melaksanakan tugasnya, seorang Invigilator akan mengikuti pelatihan. Jadi seperti pelatihan mengawasi ujian. hehehe… Awalnya saya cukup surprise melihat keseriusan penanganan ujian di sini. Namun saya akhirnya menyadari, mereka memandangn ujian bagi mahasiswa di sini adalah salah satu proses yang penting bagi mereka, untuk itu ditangani dan dikelola dengan baik.

uob1

Baca lebih lanjut

Journey to PhD (39) – 5 hal yang perlu Anda ketahui tentang mahasiswa PhD

Bismillah…

Ini adalah rangkuman cerita bertajuk Journey to PhD”. Semua tulisan dalam tema ini akan mengangkat kisah studi saya hingga memperoleh gelar PhD -Insya Allah-

Pagi itu, Alex menenteng dua raket squashnya menuju gedung School of Math, University of Bristol. Salah satu dari 50 kampus terbaik di dunia [1]. Dengan sigap, lelaki asal Manchester ini menuju laboratorium School of Math bergabung dengan rekannya, seorang PhD student yang lain, untuk menjadi tutor di kelas Computational Math. Alex terlihat antusias, tentu saja karena iming-iming gaji menjadi Teaching Assistant [2] yang besarnya 2 kali lebih besar dibanding minimum wage UK [3]. Setiap harinya, Alex hanya akan berada di office miliknya dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Itupun jika Alex sedang rajin. Waktunya sebagai PhD student tentu sangat flexibel. Dia bisa datang ke kampus sesukanya. Bisa juga meliburkan diri sesukanya. Lain waktu, Alex akan menghabiskan evening-nya dengan dinner bersama rekan satu grup risetnya atau nongkrong di bar and restaurant favorit mereka yang langsung berhadapan dengan indahnya cahaya lampu Bristol Suspension Bridge di Clifton Village. Jika bertemu dengan rekan-rekan semasa kuliahnya. Alex akan dipuji habis-habisan.

“Wow.. You are super smart! You got a full 4 years scholarships from ESPRC UK [4] and dealing with a brilliant research regarding climate change modelling. That is impressive.”

Ini adalah cerita Alex. Kisah nyata tentunya, bukan mengada-ngada. Menjadi mahasiswa S3 seperti Alex adalah fragmen kehidupan yang mungkin terlihat mengagumkan, brilliant, dan adalah pekerjaan bagi mereka yang super smart. Namun sayang, diluar pandangan orang tentang kerennya menjadi mahasiswa S3, apalagi di kampus-kampus terbaik di dunia, tidaklah seindah mereka yang menjalaninya. Dari data council of graduate school, USA, hanya sekitar 40 hingga 57% PhD student yang berhasil menyelesaikan studi doktoralnya. Yang lebih mencengangkan lagi, hanya 35% yang lulus dalam kurun waktu dibawah 5 tahun [5]. Sisanya, mereka menempuh dalam waktu 10 tahun atau berhenti sama sekali. Lalu apa saja sebenarnya hal-hal yang jarang Anda ketahui tentang mahasiswa S3?

phd-survivor Baca lebih lanjut