5 tahun pernikahan kami

Bismillah…

Dua hari lalu adalah salah satu momen penting dalam keluarga kami. Lima tahun yang lalu, di tanggal yang sama, saya dan Istri resmi terikat secara agama dan negara sebagai pasangan suami Istri. Biar tidak mengulangi kesalahan melupakan hari ulang tahun Istri tahun lalu, saya memutuskan untuk merangkum kenangan kami bersama selama 5 tahun pernikahan kami. Dibanding membuat video, saya lebih suka menulis, jadilah tulisan ini merangkum kenangan pernikahan kami. Semoga suatu waktu bisa menjadi cerita menarik bagi anak-cucu kami:)

Pra nikah

Saya pernah iseng bertanya ke Istri, kenapa memilih saya? waktu itu status saya masih pengangguran dan hanya bermodalkan beasiswa PhD dari National Taiwan University of Science and Tech. (NTUST) sebesar 15,000 NT (kala itu 1 NT = Rp. 300,-). Jawabannya terasa absurd:

“Karena tidak ada alasan untuk menolak abi.”

Entah senang atau bagaimana. Jawabannya sudah cukup membuat saya tidak bertanya lagi. Saya juga beruntung karena memiliki Ibu mertua dan keluarga Istri yang paham bahwa menikah itu soal Ibadah, bukan hanya soal materi.  Baca lebih lanjut

Memori

Bismillah…

Apa yang kamu dapatkan takkan pernah lepas dari sebuah pengorbanan. Entah itu waktu, kebersamaan, cinta, maupun kesempatan yang terlewat.

Mimpimu mungkin tergapai, citamu bisa saja kau rengkuh. Tapi ada tangis, ada do’a, ada pengorbanan yang sadar atau tidak kau sadari, kamu telah melewatinya.

Maka biarlah semuanya menjadi memori yang tak terlupakan. Tentang pendewasaan, tentang belajar mencinta, hingga saling memaklumi atas perkara-perkara yang kita punyai sejak lahir. Baca lebih lanjut

Journey to PhD (36) – Ramadhan dan keberkahannya

Bismillah…

Terhitung sudah 8 hari menjalani ramadhan ke dua di Inggris yang sangat lama😛

Tahun lalu saya merasakan Ramadhan di 4 negara berbeda, UK, Malaysia, Jepang, dan Indonesia. Perjalanan panjang selama menjadi visiting scholar di Kyoto University tahun lalu terus terang meninggalkan kesan yang kurang baik dari segi kualitas ibadah selama ramadhan. Untuk itulah, tahun ini saya ingin memperbaiki kekurangan menjalani ramadhan tahun lalu karena melakukan safar ke beberapa negara.

Delapan hari pertama ini berlangsung dengan perjuangan. Lebih tepatnya, perjuangan pembiasaan. Saya harus mengganti ritme hidup lagi berhubung harus Tarwih dan dan sahur di waktu yang tidak biasa. Kemudian dilanjutkan dengan buka puasa juga diwaktu yang tidak biasa. Untunglah, minggu awal ini setidaknya berjalan dengan baik. Termasuk kualitas dan kuantitas ibadah yang masih sesuai target. Everything is under controlled kecuali waktu olahraga yang sudah hilang :D Baru akan dimulai lagi hari Rabu ini.

Beberapa keberkahan saya dapatkan selama 8 hari ramadhan ini:

  • Buku ke tiga tembus Elex Media Komputindo (lagi)

Ini berkah yang luar biasa bagi saya sekaligus mencontreng targetan di tahun 2016. Saya memang berencana menerbitkan Buku non-fiksi ke dua tahun ini. Alhamdulillah, buku kolaborasi saya dengan Ahmad Ataka ini, si jenius yang juga kandidat doktor di UK (Kings College of London), dirampungkan dengan baik. Benar kata orang, yang pertama memang yang tersulit. Setelah berhasil menerbitkan buku pertama via Diva Press 3 tahun lalu, saya berhasil menerbitkan 2 buku lainnya hingga tahun 2016. Dan saya sangat yakin, Insya Allah dengan ijin Allah, saya akan menerbitkan buku-buku lain lagi di beberapa tahun mendatang.

buku

Komentar editor Quanta – Elex Media setelah menyunting naskah kami

Baca lebih lanjut

Letter to my love – 6

Bismillah…

Suara-suara alam dalam warna senja yang indah, membisikkan bait-bait rindu pada sang kekasih. Mengenangnya dalam cinta yang menggenang, menjiwainya dalam rasa yang tenang. Aku memikirkannya. Melamunkan senyumannya, mengimajikan kehadirannya. Beginilah cinta, candunya memabukkan, rasanya begitu menggetarkan.

Namanya tersebut laksana penawar dahaga berkepanjangan. Sentuhannya adalah tangan malaikat yang menyembuhkan. Bahagianya adalah bahagia semua rasa yang pernah ada. Kehadirannya adalah warna-warna puisi di langit musim semi Kyoto yang indah. Aku menyadari, rasa cintaku telah begitu jauh untuknya.

bertiga

Baca lebih lanjut

Musim Semi di Kyoto

Bismillah…

Aku menatap dari jendela kereta Haruka yang membawaku dari Kansai menuju Kyoto dengan perasaan campur aduk. Senang karena menginjakkan kaki lagi di negeri sakura ini, juga bingung dengan apa yang telah terjadi dalam 2 bulan terakhir. Wajah Kyoto yang mulai nampak setelah perjalanan lebih dari 30 menit seperti memutar kembali memori otakku mengingat perjalananku tahun lalu di sini. Aku sendiri tidak pernah terpikirkan akan kembali lagi ke negeri ini setelah perjalanan hampir dua pekan di musim panas tahun lalu. Takdir dan kerja keras adalah dua hal yang akan menjadi alasan kenapa kita harus hidup. Engkaulah yang mengubah nasibmu bukan orang lain.

Perjalananku ke Kyoto kali ini terasa berbeda karena tanpa kehadiran supervisorku. Aku melakukan perjalanan panjang berkeliling Kyoto tahun lalu bersama beliau. Dari perjalanan dengan kereta yang satu dengan yang lain hingga berganti dengan Taxi dan bus yang terkadang kita naiki. Kali ini, aku lebih merasai indahnya Kyoto dan mengamati Jepang dengan lebih jernih. Menikmati langkah kakiku ketika turun di stasiun Inari setelah berlelah-lelah seharian di lab Coastal Engineering, DPRI-Kyoto University. Juga menikmati sejuknya udara musim semi dengan mataharinya yang menghangat. Kyoto terasa nikmat, sehangat menyeruput teh di Danau Linow, Sulawesi Utara sembari menikmati pemandangan menakjubkan disekelilingnya.

KyotoUniv Baca lebih lanjut

Journey to PhD (35) – Separoh Jalan

Bismillah…

Langit Kyoto mendung hari ini. Menyapaku dalam udaranya yang sejuk. Seperti memberi pesan bahwa aku sedang berada di antara ruang perjalanan antara Indonesia dan Inggris. Di awal Mei ini, aku kembali menginjakkan Kyoto. Sebelas bulan yang lalu, kota yang penuh sejarah ini merekam manis perjalanan menjadi visiting PhD researcher di Disaster Prevention Research Institute (DPRI) – Kyoto University. Menghabiskan lebih dari satu pekan menggali pengalaman untuk diriku yang masih terlalu polos sebagai seorang PhD student. Baru enam bulan perjalanan studiku kala itu ketika pesawat Malaysia Airlines menerbangkanku menuju Kansai International Airport-Osaka.

Dan malam ini…

Sudah separoh perjalanan studi PhD-ku. Hanya syukur yang bisa terucap karena tak ada yang mampu mereprsentasikan semua kenikmatan yang sudah diberikan oleh-Nya.

Telalu banyak faktor luck dalam studi S3

UoB

Baca lebih lanjut

Journey to PhD (34) – When the finish line is so clear

Bismillah…

Sudah cukup lama saya tidak mengupdate perkembangan studi PhD di blog ini. Begitu banyak kejadian yang berlangsung dengan sangat cepat. Hari ini saya berhasil menyelesaikan satu milestone penting untuk penyelesain PhD saya yang baru memasuki 1 tahun 5 bulan.

Ada beberapa hal penting yang membuat supervisor saya berkali-kali mengatakan ini sambil tersenyum puas dan senang.

“You are in a very good position to get your PhD.”

Kata-kata ini sepertinya bukan cuma penyemangat belaka. Beberapa catatan manis berhasil saya torehkan setelah 1 tahun 5 bulan perjalanan PhD saya.

Pertama: Chpater 3 dan 4 saya akhirnya di approved. Untuk Chapter 1 dan 2 secara umum sudah terangkum dengan baik di dalam first year review report saya. Ketika selesai semua riset saya, bagian ini tinggal dikembangkan agar lebih komprehensif.

Cerita tentang proses penulisan chapter 3 dan 4 ini terus terang paling banyak memberi dampak dalam pengembangan riset dan proses menulis PhD thesis saya. Saya akhirnya menemukan “feeling” tentang bagaimana seharusnya menulis akademik dengan standard yang bagus. Ratusan revisi di chapter 3 dan 4 ketika saya mensubmitnya Desember tahun lalu menunjukkan betapa buruknya kualitas penulisan riset saya. Namun saya berhasil membalikkan keadaan dan membuat supervisor saya senang tak terkira ketika secara tiba-tiba, pekan lalu, beliau memanggil saya keruangannya.

Law Library

Law Library, Wills Building. Scanned from transparency December 2006.

“Can you come?” Baca lebih lanjut